
Pukul satu pagi terdengar suara deru mobil memasuki halaman. Bee segera turun dari tempat tidurnya untuk menyongsong suaminya.
"Kakak..kenapa pulang selarut ini? kakak minum?" Bee mengaitkan lengan Bintang di pundaknya, memapah Bintang yang berjalan tampak sempoyongan.
"Iya Bee. Tadi Bumi sama yang lain ngajakin minum" ucap nya khas orang mabuk.
Sampai di kamar, Bintang langsung menjatuhkan tubuhnya di kasur. Dengan sabar, Bee membuka sepatu, jas dan juga dasi Bintang. Riak kesedihan terpancar di wajah Bee. Hati nya bilang, Bintang sedang berbohong, ada sesuatu yang membuat pria itu tidak senang, hingga melampiaskan pada minuman.
"Jangan, ga usah.." racunnya saat tangan Bee membuka satu demi satu kancing kemeja atas Bintang.
"Ganti baju dulu kak. Sudah bau dan berkeringat. Nanti kakak ga nyaman tidur nya" ucapan Bee hanya terbawa angin. Pria itu tampaknya sudah terjun ke alam mimpi.
***
Hari ini Bee mati gaya di rumah. Mata kuliah nya hari ini tidak jadi masuk, karena dosen nya berhalangan. Hanya di minta buat makalah dan di kirim lewat email.
Bee sudah menyelesaikan nya, dan kini dia menemani Saga bermain di ruang main anak itu. Pagi tadi Bintang bangun, dan tanpa sarapan pergi ke kantor. Sikap nya kaku, tidak seperti biasa, walau pun dia masih mencium puncak kepala Bee saat pamit kerja.
Hati Bee yang begitu mengenal suaminya, merasa ada yang tidak beres, tapi sekeras apa pun dia memikirkan, tetap tidak mendapat titik terang.
Deerrrrrt.. deerrrrrt..
Getar ponselnya mengalihkan pandangan kosong nya ke layar benda pipih itu. Kinan meminta untuk melakukan panggilan video call.
"Hai Nan.."
"Hai..mana si ganteng?" Bee mengarah kan kamera nya pada Saga yang sibuk menyusun Lego nya.
"Sayang nya aunty lagi apa?"
"Tuh, dia lagi main. Say hello sama aunty Kinan" ucap Bee, dan Saga yang excited melambai pada Kinan.
Beberapa menit berlalu, setelah Saga di bawa Mira untuk makan, Kinan berbincang dengan Bee.
"Eh, aku ketemu Bintang beberapa hari lalu, pas meeting di hotel Premier" ucap nya mengingat pertemuan itu.
"Oh, iya sekarang kak Bintang ada proyek baru. Lagi sibuk-sibuknya tuh" ucap nya pindah tempat ke dalam kamar.
"Iya sih. Aku lihat juga sama bos-bos besar kemarin. Oh iya, dia nanya kemarin apa aku ada keluar, ngapain aja tiga jari lalu, aneh gitu raut wajahnya. Suami mu kenapa?"
Memori Bee membawanya pada saat dia tat pulang. Berurut dia merangkai perubahan sikap Bintang sejak dia pulang malam untuk kedua kalinya.
Dia menyesal kini. Apa mungkin Bintang sudah tahu kalau dia bertemu dengan Elang? apa lagi melihat nya sampai mabuk kemarin. Ya..Pasti Bintang sudah tahu akan kebohongannya.
Aduh gimana ini?
"Bee, kok bengong?"
Bee menggenggam ponselnya di dada."Kalau benar Bintang sudah tahu dia berbohong kenapa dia tidak mengatakan apa pun? kenapa dia tetap bersikap lembut pada ku, alih-alih marah?" cicitnya bermonolog.
Saga sudah tidur, saat Bintang tiba di rumah. Tepat pukul delapan. Tidak dalam keadaan mabuk. Hati Bee berdetak cepat. Dia ingin bicara, dia akan jujur, tapi kenapa memulai nya sangat berat? Oh..dia tidak ingin menyakiti hati Bintang, dia sangat menyayangi pria itu, dan itu kebenaran, tapi tidak memperdulikan Elang yang tengah sakit juga bukan hal baik, setidaknya Bee masih punya perikemanusiaan kan?
"Kakak, udah pulang?" ucap nya menyambut penuh senyum. Sore tadi dia sudah berendam dengan air mawar, memberi polesan sedikit pada wajah nya berharap bisa membuat Bintang senang.
"Iya. Belum tidur? aku mandi dulu ya" ucap nya lembut membelai wajah Bee dengan telapak tangannya. Semakin hancur lah perasaan Bee.
Daru tempat nya Bee masih menatap punggung Bintang menapaki anak tangga. "Biar lah dia mandi dulu, baru kami bicara" cicitnya.
Di tangan Bee sudah ada pakaian Bintang, pria itu masih dalam kamar mandi membersihkan diri. Saat pria itu keluar, wangi tubuhnya menyeruak memenuhi udara di dalam kamar. Bee tersenyum, hati nya masih bergetar dan selalu seperti itu setiap melihat tubuh liat suaminya.
Bee setengah berlari, memeluk tubuh Bintang dan menciumi dada telanjang pria itu. "Bee, aku pake baju dulu"
"Tapi aku mau peluk" nyatanya tidak hanya memeluk, tapi juga mulai menciumi dada bidang pria itu. Tempat kesukaannya dari beberapa kesukaan nya pada bagian tubuh pria itu.
"Ada apa? tumben manja gini. Biasanya aku dulu yang manasin baru mau nyambut.."goda Bintang tersenyum. Hatinya tahu, gadisnya bertingkah seperti itu karena mungkin rasa bersalah yang sedang dirasakannya.
"Emang ga boleh kalau aku yang lebih dulu?" ucap nya manja. Malu yang di dirasa coba di tepisnya.
"Aku justru senang. Ada yang mau kamu bicarakan dengan ku?" pancing Bintang. Dia tidak ingin rasa tidak nyaman di hati mereka berdua terus berakar. Bintang menangkup wajah Bee agar menatap matanya.
"Aku..aku mau bilang apa ya?" ucap nya nyengir. Niat nya seolah menciut. Melihat senyum Bintang sungguh tidak ingin merusak momen mereka dengan membahas masalah Elang.
Ada rasa sakit dan kecewa di hati Bintang..Bee masih tidak mau jujur. Ditariknya nafas nya beras sebelum melerai pelukan mereka dengan paksa. "Aku mau pakai baju dulu" ucap ya kecut, mencoba melepaskan pegangan tangan Bee.
Bee bisa merasakan rasa kecewa Bintang. Mungkin Bintang terluka karena di bohongi, tapi Bee juga merasa terluka karena melihat Bintang sedih.
Masih berdiri di tempatnya, memunggungi Bintang yang sudah selesai memaki boxer Dan kaos nya. Setelah memantapkan hati, Bee berjalan ke depan Bintang, menarik tangan pria itu mengikuti langkah nya dan duduk berdua di tepi tempat tidur.
Demi mempersiapkan dirinya, Bee menarik nafas. Mata nya tidak lepas menatap wajah Bintang. Ini semua di lakukan nya demi cintanya. Dia tidak ingin ada kebohongan kecil yang di pendam dan suatu hari nanti jadi momok menakutkan bagi rumah tangga mereka.
"Kak.." Bee susah payah menelan Saliva nya. Ini lebih sulit dari menjelaskan outline nya di depan dosen pembimbing nya kemarin.
"Mmm..?" gumam Bintang menunggu. Hatinya mulai bersemangat, akhirnya apa yang di harapkan nya terkabul. Bee akan jujur padanya.
"Aku mau bicara. Tapi kakak harus janji, apa pun yang aku sampaikan nanti, ingat lah aku cinta sama kakak. Aku mohon jangan mikir yang macam-macam, percaya padaku" Bintang kembali mengangguk kesekian kalinya.
"Ingat beberapa hari lalu aku pulang terlambat?" ucap nya serius. Bintang tidak ingin mengganggu konsentrasi Bee, hingga hanya anggukan sebagai jawaban.
"Waktu aku bilang, aku jalan sama Kinan, kakak ingat?" kembali Bintang mengangguk penuh sabar.
"Aku bohong. Aku ga pergi dengan Kinan, aku pergi ke rumah Elang.." Bee terdiam, memberanikan diri melihat reaksi Bintang.