Sold

Sold
Menjenguk Ibu



Hari berikutnya, kabar yang di dapat Bee dari Kinan adalah tentang kebahagiaan menikmati masa-masa kehamilan nya.


Tuan Setiawan juga ikut merawatnya. Mengingatkan nya untuk minum susu ibu hamil, dan menemani nya periksa ke dokter kandungan untuk pertama kalinya.


Tidak ada lagi raut kekecewaan di mata tuan Setiawan. Baginya kebahagiaan putrinya adalah yang utama. Dan mengenai janin itu, dia sudah bisa menerima dengan lapang hati, sebagai calon cucunya.


Sore itu, Bee sedang menunggu Kia datang menjemput. Pria itu meminta Bee menemaninya untuk membeli pakaian dan perlengkapan lainnya. Lusa Kia akan bertolak ke Belanda untuk studi banding.


Pukul lima janji Kia untuk menjemputnya, tapi tepat pukul tiga sore itu, Kinan menghubungi.


"Ya Nan?"


"Bee, kamu sibuk ga? temani aku yuk" pinta nya memaksa. Kalau sudah seperti itu nadanya, artinya akan sulit untuk Bee bisa menolak.


"Kemana Nan. Sebenarnya aku ada janji dengan Kia, mau nemani dia" ucap Bee berharap gadis itu akan mengerti dan tidak memaksanya. Bukan dia tidak ingin menemani Kinan, tapi dia sudah lebih dulu janji pada Kia.


"Oh...gitu. Tadi nya aku mau ngajak kamu jenguk Bu Salma, mama nya Bintang"


"Ibu sakit apa Nan?" tanya Bee terperanjat. Sudah berbulan lama nya tidak bertemu ibu. Bee rindu pada wanita itu. Tangannya yang lembut saat memeluknya membuat Bee selalu teringat pada mama nya.


"Ibu? kok kamu manggil ibu?"


"Emmm..itu..kan ya mama nya kan ibu-ibu kan? masa aku panggil bapak?"


"Iya tapi intonasi kekhawatiran mu seolah dia ibu mertuamu saja" ujar Kinan tertawa terpingkal.


"Ya udah, aku ikut dengan mu. Kita ketemu di sana" Bee sudah menutup telponnya. Rasa khawatirnya membuat Bee segera berangkat ke sana, tapi di pintu depan, Saga merengek minta di gendong. Bee menatap anak itu, lalu meminta Mira untuk mengganti pakaian Saga.


Ide untuk membawa Saga bertujuan sedikit banyak bisa membuat ibu cepat sembuh. Bagaimana pun Saga adalah cucunya dan ibu sangat menyayangi Saga. Melihat Saga nanti mudah-mudahan bisa menambah semangat ibu.


Kurang dari satu jam, Bee tiba di halaman luas mansion mewah itu. Bee bisa mengenali mobil yang parkir di dekat mobilnya adalah mobil Kinan dan yang satu nya mobil Bintang.


Langkah yang tadinya yakin, kini kaku di tempat. Bingung akan tetap masuk apa tidak. Tapi dia sangat ingin melihat ibu.


"Udah datang kamu, ayo masuk" suara Kinan membuat nya kembali yakin untuk melangkah. Bee hanya mengangguk lemah.


"Aduh, gumush nya. Halo Saga sayang" perhatian Kinan kini berpusat pada Saga yang tertawa padanya. Barisan beberapa giginya terlihat putih.


"Halo ante cantik" balas Bee mengulurkan tangan Saga untuk menyalami Kinan.


"Aduh, moga anak aku cewek, biar aku jodohkan sama Saga. Cakep banget soalnya." Bee hanya tersenyum melihat tingkah Kinan.


"Udah gimana keadaan ibu?"


"Bu Salma baik. Cuma semalam di rawat di rumah sakit. Pagi tadi udah minta pulang. Papa yang ngotot minta aku ikut jenguk beliau. Katanya walau ga jadi mertua ku, tapi Bu Salma udah sempat sayang dan berharap aku jadi mantu nya. Lagi pula dia teman papa waktu sekolah ternyata" cerita Kinan panjang lebar sembari membawa Bee melangkah masuk.


Sebelum ikut melangkah masuk ke dalam kamar besar itu, Bee menarik nafas panjang lalu menghembuskan nya agar rasa groginya sedikit berkurang.


Ibu berbaring di tempat tidur, dengan wajah tirus dan lelah tampak kurang tidur. Itu hal pertama yang Bee lihat setelah masuk kedalam ruangan itu. Selanjutnya, bola mata ibu membulat saat menyadari wanita yang ada di belakang Kinan adalah dirinya.


Sama halnya dengan ibu, Bintang yang juga hadir di sana, duduk di salah satu sofa dekat tempat tidur ibu, ikut terkejut melihat kehadiran Bee di kamar ibu. Dia sama sekali tidak menyangka akan melihat wanita itu ada di rumah ini lagi selepas perceraian mereka.


Stella yang ada di sisi Bintang juga tak kalah bingung melihat Bee datang untuk menjenguk ibu. Sementara tuan Setiawan tidak terlalu ambil pusing, karena memang tidak mengerti arti gadis itu untuk keluarga Danendra.


"I-Ibu.." ucap nya lirih. Debar jantung nya begitu kencang, hingga bisa saja Kinan yang berdiri di dekatnya bisa mendengar.


Kinan tadi nya ingin memperkenalkan Bee pada ibu, sebagai temanya dan dia juga lah yang mengajak Bee untuk datang. Alasan Kinan hanya tidak ingin canggung saat bertemu Bintang. Tapi dari cara Bee menyapa Bu Salma, Kinan menduga mereka sudah kenal satu sama lain.


Mata Bu Salma yang tadinya menatap Bee kini berpindah pada Saga yang tertawa-tawa khas bayi.


"Ibu.." ulang Bee. Jantung Bee seakan berhenti karena ibu tidak menjawab sapaannya, mendiami dirinya. Stella bisa melihat itu dan merasa geli. Hatinya puas karena ibu Bintang tidak menganggapnya, bahkan untuk membalas sapaannya pun tidak sudi.


Bee sudah pasrah. Menerima rasa malunya. Ketika akan mundur, tangan Bu Salma terulur ke arahnya, memintanya untuk mendekat menerima genggaman itu.


Air mata Bee merembes seiring duduk di tepi tempat tidur. "Maaf kan Bee Bu, baru datang lihat ibu sekarang" ucap nya terisak.


"Kamu mau datang aja ibu sudah berterimakasih. Ibu rindu sama kamu, sama Saga" ucap ibu lirih yang semakin menambah rasa sesak di hatinya.


Bintang keluar dari sana. Tidak tahan melihat adegan memilukan itu. Langkahnya di ikuti Stella yang merasa sebagai calon terkuat untuk menjadi istri Bintang.


Segelas Vodka yang ada di mini bar rumah ibu yang tentu saja koleksi nya dia tuang ke gelas. Menyesap minuman itu dengan dalam. Dia butuh untuk menenangkan hatinya.


Melihat Bee datang, membuat hatinya begitu gembira. Bee masih perduli pada ibunya. Sampai kapan pun posisi gadis itu di hati ibu dan juga dirinya tidak akan terganti kan.


Setengah jam berlalu, Bee yang masih menggendong Saga keluar bersama Kinan. Ibu meminta nya untuk minum segelas air hangat madu dulu, agar lebih tenang dan memohon untuk tinggal sebentar lagi.


Tuan Setiawan menawarkan diri untuk menjaga Bu Salma sementara mereka pergi ngeteh.


"Kamu ngapain ke sini? mau cari perhatian sama ibu?" hardik Stella berdiri di hadapannya dengan melipat tangan di dada.


Bee tidak menggubris. Ini saat nya menjelaskan pada Stella tempat Bee sebenarnya di rumah itu. Terlebih kalimat yang di bisik kan ibu membuatnya tiba-tiba punya keberanian.


"Ibu senang kami datang. Ibu sangat berharap kamu bisa kembali pada Bintang"


Dengan langkah mantap, Bee melewati Stella dan berjalan ke arah Bintang.


"Papa, Saga mau di gendong sama papa" ucapnya berdiri di hadapan Bintang.