Sold

Sold
Curahan hati



Tempat yang di pilih Kinan untuk bertemu dengan Bee adalah restoran di pusat kota. Padahal awal janji bertemu, mereka memutuskan di cafe milik Tatiana. Tapi satu jam sebelum pertemuan, Kinan mengabari perubahan tempat.


"Bapak pulang aja duluan. Saya nanti sama Kinan aja pulang nya" ucap Bee pada pak Komar yang di patuhi supir itu tanpa banyak protes.


Hingga kini Bee belum mau bawa mobil sendiri, walau SIM A sudah di tangan, tapi Bee belum berani bawa sendiri tanpa ada orang lain bersama nya.


Cafe itu terletak di salah satu hotel berbintang yang memiliki roof top dengan pemandangan yang indah. Dekorasi nya cantik membuat pengunjung betah untuk berlama-lama di sana dan pastinya makanan yang di sajikan juga terkenal enak. Hanya saja tempat itu begitu banyak diminati jadi pasti nya akan ramai pengunjung.


Tapi karena ini sudah lewat jam makan siang, dan terlalu dini untuk nongkrong bareng teman, maka sangat pas untuk mereka ngobrol tanpa adanya keriuhan.


"Udah lama Nan? sorry, aku harus nunggu tanda tangan satu dosen pembimbing skripsi ku dulu" ucap Bee duduk di hadapan Kinan.


"Santai aja. Aku juga belum lama-lama amat nyampe. Mau pesan apa?"


"Mango Ice blend aja"


"Mau ngerumpi in apa nih kita? kenapa ga ke rumah aja sih Nan? atau kita yang main ke tempat kalian?" Bee meletakkan ponselnya di atas meja setelah melihat tidak ada panggilan atau pesan untuk nya.


"Aku mau cerai dengan Piter"


Gerakan Bee yang awalnya ingin menyandarkan punggungnya berhenti kala mendengar kalimat Kinan. Itu bukan bercanda, ada keseriusan yang Bee tangkap.


"Karena masalah keguguran kemarin?" tebak Bee masih menatap Kinan. Ada gelengan lemah yang di lakukan gadis itu.


"Pernikahan itu memang seharusnya tidak terjadi. Semua itu hanya bentuk tanggung jawab. Dan kini, tidak ada lagi alasan untuk kami tetap bersama" ucap Kinan lirih.


"Tapi bukan kah dulu kamu cerita kalau keadaan kalian sudah membaik? bahkan kamu bilang Piter menunjukkan perhatian nya pada mu?"


"Iya, tapi itu karena ada bayi dalam kandungan ku. Buka karena cinta. Aku salah menafsirkan perhatian nya. Dia masih bersama kekasih nya itu, janji nya yang mengatakan tidak akan berhubungan dengan wanita itu dan akan memberikan hidup nya untuk ku dan anak kami, hanya omong kosong belaka..


Aku melihat nya jalan dengan wanita itu, bergandengan begitu mesra di salah satu mall di hari yang sama ketika aku memintanya untuk menemani memeriksakan kandungan ku" suara Kinan bergetar. Kepala nya menunduk menatap meja kayu perantara dirinya dan Bee.


Bee bisa melihat kepedihan itu. Siapa pun bisa melihat kalau Kinan sudah jatuh cinta pada Piter, tapi rasa sakit yang dia terima mengubah cinta itu menjadi rasa benci.


Perlahan Bee mengangsurkan tisu yang dia ambil dari kotak berwarna merah di atas meja. Kinan menerima nya tapi masih menundukkan kepala.


"Apa kamu tidak ingin memberikan kesempatan sekali lagi untuk Piter?"


Gelengan berat Kinan sekaligus menjadi pengiring air mata nya yang jatuh di pipi. Sakit. Entah dia siap untuk berpisah dengan pria yang sudah mulai mengisi hatinya.


"Dan apa Piter setuju untuk berpisah?"


Gelengan kedua. Dan kali ini Kinan mengangkat kepalanya menatap Bee dengan mata memerah menahan laju air mata. Ada kantung mata yang menandakan wanita itu tidak mendapat tidur yang cukup. Tubuhnya juga tampak semakin kurus, kusut dan kacau.


"Tapi aku tidak perduli. Aku akan tetap bercerai"


"Nan.." suara ringtone ponsel Bee menghentikan kalimatnya. "Sebentar" lanjutnya sambil menunjuk ponsel. Kinan hanya mengangguk, tepat saat pesanan mereka datang.


"Ya Bu?" ucap Bee pada orang di seberang sana. Kinan tebak itu pasti mertua mereka.


"Oh, iya bu. Nanti aku langsung ke sana" ucap Bee dan mengakhiri panggilan itu.


"Aku pasti akan merindukan wanita itu" balas Kinan getir.


"Nan, aku mohon pertimbangkan lagi" ucap Bee tapi dari nada suaranya tidak seyakin tadi. Dia pun teringat akan masalah nya yang juga kini membebaninya.


"Ada apa? apa kamu juga sedang menghadapi masalah?" balik Kinan bertanya. Perubahan wajah Bee menjadi tolak ukur baginya menyimpulkan semua sedang tidak baik-baik saja pada gadis itu.


"Oh..ga. Ga ada masalah kok" Bee menyedot minumannya untuk menghilangkan grogi nya di hadapan Kinan. Tidak ada yang boleh tahu apa yang kini ada di hati dan pikirannya.


"Gue udah menebak itu lo" suara bariton itu membuat Bee menoleh ke belakang. Wajah nya seketika berbinar. "Kya..." pekiknya berdiri.


"Kapan lo balik? mana oleh-oleh buat gue?" ucap nya girang.


"Sun dulu dong" balas pria itu mendekatkan pipinya pada Bee yang sontak di dorong Bee hingga membuat Kia terkekeh.


"Gue geplak ya pala lo!" hardik Bee. "Oh iya, lo ingat Kinan?"


"Ingat lah. Dari saingan lo ngedapatin Bintang berubah status jadi ipar lo kan?" ucap nya santai. Meletakkan tas kerja dari kulit milik nya di atas meja dan duduk di samping Bee tanpa permisi.


"Lo udah tahu gue balik lagi sama Bintang?" tanya Bee pelan.


"Tahu dong. Apa sih yang ga gue tahu tentang lo. Lo pake daleman warna apa aja sekarang gue tahu" ucap nya dengan tawa riang.


"Dasar b*ngke. Pengacara mesum!" umpat Bee mencubit lengan Kia.


"Pengacara?" tanya Kinan memandang Kia.


"Iya, kenapa? samaan ya sama suami lo? emang. Gue juga udah berapa kali ketemu di persidangan sama dia. Kalau ga gue yang menang, ya dia. Kita selalu berseberangan" ujar Kia santai.


Kinan tampak diam sebentar. Seolah ada yang sedang dipikirkan nya. "Kalau gitu, gue boleh minta tolong sama lo?"


"Sama gue?" Kinan cepat mengangguk. "Apa?"


"Jadi pengacara gue, ngurus perceraian gue" Itu bukan kalimat yang di sangka Kia. Dia menatap Kinan lalu beralih pada Bee seolah ingin meminta penjelasan pada Bee akan maksud Kinan, tapi yang di minta penjelasan hanya mengangkat bahu.


"Lo becanda kan ya?"


"Gue serius. Gue mohon, gue mau segera pisah dari Piter"


"Sorry, gue ga mau"


"Kenapa? lo takut berhadapan dengan Piter Danendra?" tebak Kinan asal.


"Bayaran gue mahal"


"Gue sanggup bayar berapa aja"


"Kadang gue jadi ada affair sama klien gue. Kalau gue jadi suka sama lo gimana?" Kia masih mencari alasan untuk mengelak jadi pengacara gadis itu. Bukan karena takut berhadapan dengan Piter seperti dugaan Kinan tadi. Justru ini momen tepat untuk membalas kekalahannya dulu dari Piter.


"Gue bakal terima, asal lo benar-benar cinta sama gue" tantang Kinan.