
Kedatangan Piter sore itu membuat satu harapan di hati Bintang muncul akan kepergian Kinan dari rumahnya. Dia berharap, pria itu akan membawa pulang istrinya yang sudah dua hari ini membuat gempar.
Bahkan ibu saja tidak bisa memaksa Kinan untuk pulang. "Maaf Bu, aku di sini aja ya Bu"
"Tapi, kalau Piter pulang dan tidak mendapati mu di rumah, gimana?" ibu tidak enak hati mengatakan kalau Kinan sudah mengganggu ketentraman hati Bintang.
Sementara di kamar, Bintang sudah uring-uringan melihat Kinan yang masih betah di samping para bayinya. Dia akan gesit saat si kembar menangis. Menggendong satu bayi saat yang satu nya di gendong Bee. Bagi Bee, keberadaan Kinan tidak jadi masalah, karena toh dia tidak membawa bayi nya keluar dari rumah ini. Berbeda dengan Bintang, dia merasa jadi kurang leluasa, Bee jadi lebih banyak menghabiskan waktu dengan Kinan di ruang bayi ketimbang menemaninya di kamar.
"Sorry gue telat bang" ucap Piter yang baru tiba dan segera di sambut hangat oleh Bintang.
"Oh, ga papa. Gue senang lo datang. Asal lo tahu ini adalah kali pertama gue senang banget ngelihat lo ada di sini" ucap Bintang menepuk pundak Piter sebelum duduk di sofa tunggal.
"Maaf, kalau Kinan buat masalah di sini"
"Masalah sih ga, cuman gue nyaman. Jadi Bee banyak ngabisin waktu bareng Kinan, nganggurin gue"
Mendengar ucapan Bintang, hanya senyum geli yang bisa Piter lakukan. Abang nya tidak berubah sedikitpun semenjak bersama Bee, selalu ingin terus ada di samping Bee, Menghabiskan waktu bersama istrinya.
Di sela perbincangan mereka, Kinan turun bersama Bee, setelah keduanya memandikan si kembar. "Piter, kamu udah pulang?" Kinan sangat gembira melihat keberadaan Piter.
"Aku memang pulang hari ini kan? aku telponin sejak sejam lalu, kau ga ngangkat. Lagi ngapain sih?"
"Aku lagi ngurus Siera" ucap nya nyengir. Ada kegembiraan tersendiri bagi dirinya saat bisa membantu mengurus salah satu para bayi.
Piter dan Bintang saling laga pandang. Mati lah Piter. Bagaimana cara nya dia akan membujuk istrinya pulang? terlebih melihat binar bahagia yang terpancar dari bola matanya?
"Oh, tunggu sebentar, aku ambilkan minum ya. Kamu pasti haus" Kinan sudah bergegas ke dapur, meninggalkan Bee dan kedua abang adik itu di sana.
"Ter, aku mohon untuk tidak memaksa Kinan untuk pulang apa lagi dengan cara kasar ya. Aku tahu, kamu datang ke sini karena di hubungi kak Bintang kan?" ucap Bee melotot ke arah Bintang, yang gelagapan di tatap Bee seperti itu, memilih untuk membuang muka, mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Aku juga bingung Bee. Aku harus gimana. Tadi sebelum bertemu dengan nya, tekad ku sudah bulat untuk mengajak nya pulang, bahkan jika dia menolak akan aku seret bila perlu, tapi melihat kebahagiaan di wajahnya, aku ga tega"
"Karena itu, makanya aku minta kamu jangan kerasi dia. Kalau dia belum mau pulang, maka biarkan lah dia dulu di sini"
"Bee, kok gitu sayang? aku ga setuju" protes Bintang cepat. Dia sudah mendatangkan dua bala bantuan untuk menyingkirkan Kinan, kini malah istrinya ikut jadi lawan.
"Kakak jangan rewel. Coba pikirkan gimana kalau aku yang ada di posisi Kinan saat ini? dan Piter memintamu untuk menyeret ku pulang? apa kau juga akan melakukannya?" Bintang mati kamus. Perkataan siapa pun bisa dia tentang, kecuali istrinya.
"Lalu aku harus gimana Bee? masa Kinan di sini, aku di rumah sendirian?"
"Jangan bilang lo juga berencana tinggal di sini bareng bini lo?" kali ini Bintang menegakkan tubuhnya. Satu orang pengganggu aja sudah menyusahkan apa lagi di tambah suaminya.
"Kalau kau mau, tinggal lah dulu di sini. Pelan-pelan kasih pengertian pada Kinan" ucap Bee menawarkan solusi.
"Ga boleh. Satu aja udah buat gue puyeng, apa lagi tambah suaminya" potong Bintang menolak mentah-mentah.
"Jangan pelit bang. Gini juga gue adik lo, wajar aja kalau gue tinggal di sini. Ok kakak ipar, gue di sini dulu aja, sembari memberi penjelasan pada Kinan"
Bintang kalah telak. Dia hanya memandang kesal pada Piter, lalu beranjak pergi meninggalkan adik dan istrinya. Bee hanya memandangi punggung suaminya yang keluar dari rumah. Tidak berapa lama, Saga berlari dari arah berlawanan, sejak tadi memang anak itu bermain di halaman. " Mama, aku sama papa mau jalan-jalan dulu ya" ucap bocah itu mencium pipi Bee dan tanpa menunggu jawaban dari ibu nya sudah kembali keluar menyusul papanya.
Rasa kesal pada semua orang yang ada di dalam rumah itu, termasuk Bee membuat Bintang memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar komplek perumahan nya. Dia butuh udara segar guna membantu menyegarkan pikirannya. Bertahun tinggal di sini, baru kali ini lah Bintang berjalan kaki menyusuri perumahan ini. Di tengah-tengah nya ada sebuah taman yang di peruntukkan bagi orang-orang yang tinggal di perumahan ini melakukan kegiatan olah raga, atau pun hanya sekedar duduk-duduk. Banyak juga para ibu-ibu yang membawa anak nya dan menyuapi sembari berghibah bersama sesama ibu-ibu komplek.
"Papa, kita mau kemana?" tanya Saga yang berlari mendahului papa nya, berjalan mundur dengan sesekali meliukkan tubuhnya.
"Jangan jalan mundur, nanti kamu jatuh Ga"
"Jawab dulu kita mau kemana ini" tanya bocah super bijak yang banyak bicara itu.
"Papa mau temani Saga aja. Saga mau kemana?"
"Aga mau beli esklim cokelat pa"
Keduanya berjalan ke arah taman, Bintang membawa satu kantong plastik putih berisi cemilan Saga sementara anak itu berjalan dengan tangan penuh mainan yang biasa dijajakan di depan kasir mart tersebut.
"Kita duduk di sini pa" ucap nya memberi komando. Biasanya Bintang tidak suka keramaian, tapi entah mengapa kali ini duduk di taman Ini dengan banyak orang-orang membuat nya merasa lebih baik dari pada di rumah.
"Papa, pegang ini" Saga sudah menyerahkan semua mainan nya pada pangkuan Bintang. Entah siapa yang dilihat anak itu dan apa tujuannya, tapi saat ini Saga merapikan pakaiannya dan juga rambutnya. Bintang mengerutkan dahi melihat anak nya yang berusaha tampil maksimal. Tapi kebingungan Bintang tidak bertahan lama, karena tidak lama seorang gadis kecil dengan rambut di kepang dua datang menghampiri mereka.
"Hai Aga"
"Hai"
Keduanya saling menatap dengan senyum malu-malu. Bintang yang merasa geli dengan tingkah anak nya hanya geleng-geleng kepala karena paham lah dia kini.