
Kejadian yang dialami Kinan sedikit banyak membuat Bee trauma. Semenjak menikah, Bintang selalu mengatakan ingin segera memiliki anak perempuan, dan kini melihat kesedihan Kinan yang kehilangan calon buah hatinya buat Bee sedikit takut untuk hamil lagi. Apa lagi kuliah nya juga belum selesai. Justru masa sekarang ini waktunya banyak di sita oleh tugas-tugas kuliahnya, karena kalau semua berjalan lancar, dia bisa mengambil gelar sarjana tahun depan.
"Memikirkan apa? kenapa belum tidur sayang? aku masih kurang? kita buat satu putaran lagi?" goda Bintang memeluk wanita nya erat, mencium puncak kepala Bee dan kembali terpejam.
"Tidur lah kak. Aku sudah lelah. Malam ini sudah empat kali kita melakukannya, apa ga capek lagian aku ada kuliah pagi besok" Bee mengecup dada pria itu, mendongak melihat wajah pria nya yang begitu tampan sudah kembali terpejam.
Maaf ya kak, aku masih belum siap untuk mengandung lagi. Biarkan satu persatu kita selesaikan dulu, aku janji kalau sudah selesai kuliah, aku akan siap untuk hamil lagi..
Bee memejamkan mata, ada rasa bersalah bergelayut manja di hatinya. Diam-diam dia sudah meminum pil KB, dan jika Bintang sampai tahu, pasti akan ada bencana di rumah tangga mereka. Tapi dia juga masih takut untuk hamil. Dan setiap Bintang mempertanyakan masa kesuburan nya, Bee akan ogah-ogahan menjawab.
"Kenapa kau belum hamil juga sayang?" tanya Bintang suatu malam setelah menyelesaikan perc*ntaan mereka.
Kalau sudah begitu, Bee hanya tersenyum kikuk tanpa niat menjawab. Dalam hati Bee berjanji akan menghentikan KB segera setelah dirinya lulus.
Minggu sore, Bee minta izin untuk pergi ke toko buku. Ada buku yang harus dia beli untuk menjadi bahan referensi skripsi nya.
"Aku antar. Aku ga mau kamu pergi sendiri, nanti di culik alien" ucap nya menghabiskan kopinya dan segera beranjak mengganti baju.
Jadi lah bertiga menjejaki salah satu mall yang ada toko buku gr*media nya. Bee asik melihat-lihat buku yang dia perlukan dan Bintang menemani Saga memilih buku cerita bergambar untuk menambah koleksi bocah itu.
Tapi nama nya anak kecil pasti tidak betah. Saga merengek untuk keluar dari sana sementara Bee belum mendapatkan buku yang dia inginkan.
"Tetap lah di sini. Aku akan membawa Saga jalan-jalan di sekitar sini. Nanti kami datang menjemputmu setengah jam lagi" ucap Bintang lembut.
Bee hanya mengangguk sembari tersenyum. Suaminya begitu baik dan pengertian padanya. Kadang kala sikap manja dan suka merajuk Bee muncul, tapi tetap saja dengan sabar Bintang menghadapinya, membuatnya semakin cinta pada pria itu.
Sibuk memilih buku, semua rak buku ilmu pengetahuan sudah dia datangi. Ada lima buku yang dia dapat. Di liriknya jam di pergelangan tangannya. Ini sudah lebih setengah jam, tapi kedua pria kesayangan nya belum juga muncul.
Akhirnya Bee memutuskan untuk mencari mereka dulu sebelum menghubungi Bintang. Lama berjalan, mata Bee mencari terus dan tempat permainan anak-anak pun jadi tujuan utamanya, tapi Saga tidak ada di sana.
Hendak mengeluarkannya ponsel saat Bee melewati restoran cepat saji, dia mengenali suami dan anak nya yang sedang duduk menjadi pelanggan tempat itu. Tapi yang membuat dahi Bee berkerut, mereka tidak hanya berdua, ada seorang wanita yang tampak asik bercerita dengan Bintang.
Dari tempatnya, Bee bisa melihat kalau wanita itu dan suaminya saling kenal. Sangkin asiknya ngobrol, Saga turun dari kursinya dan berjalan ke wahana tempat bermain anak-anak yang ada dalam kawasan restoran itu.
Bee mengeram, giginya terdengar bergeletak menahan kesal. Bee berjalan masuk ke tempat Saga menatap anak-anak yang lebih tua dari nya bermain seluncuran.
Bukan tidak menyadari banyak pelakor di luar sana yang dengan bangganya bisa mengangkangi suami orang. Dan salah satu penyebab terjadinya hal seperti itu karena si istri sah yang terlalu lemah. Dan itu bukan Bee.
"Papa.." celoteh Saga menyadarkan kehadiran mereka pada kedua anak manusia yang sedari tadi asik dengan obrolan mereka.
"Saga..Bee.." ucap Bintang terkejut, yang kini berubah gelisah karena takut melihat sorot mata Bee yang menatapnya penuh amarah.
"Terlalu asik mengobrol hingga kau tidak melihat anak kita pergi ke wahana itu bermain tanpa pengawasan" ucap Bee dingin. Menekankan kata anak kita untuk menyindir wanita itu.
"Oh..maaf Bee, aku kira Saga masih ada di kursinya" alasan bodoh Bintang itu semakin membuat Bee kesal.
"Kau tidak ingin mengenalkan kami, sayang?"tatapan Bee begitu tajam menatap wanita itu walau di bibirnya terukir senyum. Bintang tahu, singa betinanya sedang mengamuk. Dan itu salahnya.
"Oh..iya. Bee kenalkan ini Ranika. Dia teman ku sejak dari kecil. Kita juga dulu bertetangga saat masih tinggal di Medan" jelas Bintang menatap Ranika. Dengan ekor matanya, Bee masih menangkap cara Bintang memandang gadis itu tidak biasa.
"Ranika, ini Bee. Dia Istriku" lanjutnya. Wanita yang sedang terbakar cemburu pasti selalu merasa semua yang di lakukan pasangannya adalah salah. Itu pula yang di rasakan Bee, yang beranggapan bahwa Bintang menyesal memperkenalkan dirinya sebagai istri!
"Hai, aku Ranika. Panggil aja Nika, tapi kalau pria ini sejak kecil memanggilku Icha, panggilan sayang katanya" ucap Ranika yang membuat nya dan Bintang kembali tergelak. Bee hanya menanggapi dengan senyum yang di bentuk senatural mungkin.
Tunggu Lo kak, bakal gue sate si Pinokio kalau sampai macam-macam sama nih cewek!
Bee bertahan duduk diantara mereka. Ikut makan walau susah untuk menelan. Dia tidak mau terlihat menyedihkan dengan menunjukkan wajah murungnya.
Hanya mereka berdua yang bercerita, seolah Bee tidak ada di sana. Paling sesekali Ranika akan menanyakan pendapatnya mengenai sifat Bintang selama mereka kenal yang di sahut Bee dengan senyuman saja.
"Dia ini paling pintar waktu SD Bee. Aku malah sering nyontek pe-er nya" terang Bintang pada Bee tapi sorot mata nya hanya terpusat pada Ranika yang tertawa.
Dilihat dari gerak geriknya, Ranika tidak menunjukkan sikap yang berlebihan pada Bintang, tapi tetap saja Bee merasa tidak nyaman kalau suaminya begitu gembira saat bercerita tentang masa kecil mereka.
Ranika gadis cantik. Sangat cantik malah. Dan sikapnya begitu lembut dan anggun. Berbanding terbalik dengan Bee. Jadi wajar jika Bee merasa tidak nyaman akan kehadiran Ranika yang tiba-tiba begini.
"Kapan-kapan boleh aku main ke rumah kalian?" tanya Ranika lebih ke arah Bee.
"Tentu saja boleh" sambar Bintang yang membuat wajah Bee memerah menahan kesal.