
Hari ke tiga di skors, Bee benar-benar mati kutu. Ga tahu harus apa. Komik yang dia beli kemarin juga sudah habis dia baca.
Dia kesepian. Bintang juga sedang di kantor, jadi fix dia benar-benar mati kebosanan.
Deerrrrrt... Deerrrrrt.. Suara ponselnya mengalihkan pandangannya dari meja rias. Tempatnya hampir satu jam mengoles berbagai produk ke wajahnya.
Elang..
"Hai Lang.."ucap nya melambaikan tangan di depan layar ponsel. Dia begitu rindu pada sosok itu. Melhat wajahnya saja sudah bisa membuatnya begitu bahagia.
"Hai sayang..lagi apa?"
"Aku lag.."
"Kamu dengar ga kemarin aku di wawancarai di radio, dan band kami saat ini jadi band nomor satu yang paling banyak di dengerin lagu nya" potong Elang bersemangat. Bee hanya bisa menelan saliva nya.
Elang selalu begitu. Mendominasi setiap pembicaraan mereka. Pria itu seolah menghubungi hanya untuk sekedar pamer akan kesuksesannya, tanpa mau tahu apa pun tentang Bee.
"Kok kamu diam aja sih Bee? ga senang aku udah sukses?" suara Elang meninggi. Selalu begitu kalau ceritanya hanya di tanggapi seadanya oleh Bee. Pria itu ingin Bee ikut antusias, bukan sekedar mendengar tapi juga menyelipkan pujian-pujian padanya.
"Aku dengar Lang" ucap Bee malas. Dia ingin menangis saat ini. Setelah berminggu tak saling tegur walau lewat telpon, sekalinya di telpon malah di marahi.
"Gimana? kamu udah hamil?" Elang tiba-tiba mengalihkan topik pembicaraan.
"Be-belum. Ini aku lagi haid"
"Kamu itu gimana sih, kamu sengaja ya untuk ga hamil? atau kamu minum pil KB lagi? jangan-jangan kamu udah betah ya tinggal sama pria itu? kamu udah jatuh cinta sama dia? murahan kamu Bee"salak Elang.
"Elang.. cukup! pernah ga sih kamu mikirin perasaan aku. Aku di sini karena siapa? aku ga belum hamil, juga bukan karena aku ga ingin cepat hamil. Tapi belum di kasih Tuhan, terus aku bisa apa?" tangis Bee pecah.
Dia menyesal mengangkat telpon dari Elang tadi, kalau akhirnya perasaannya jadi sakit begini.
"Aku cuma ga mau kamu lebih lama bersama dia Bee. Udah dong, jangan nangis. Kita ketemuan yuk. Aku kangen banget sama kamu. Aku ingin ngajak kamu beli sesuatu"
Bee menghapus air matanya. Mencoba untuk kembali menata hati nya yang sempat hancur.
"Aku ga tahu, apa di izinkan sama kak Bintang" ucap nya masih menyeka air mata dan juga hidungnya.
"pokoknya aku tunggu kamu di PIM, jangan lama" video call itu terputus. Dengan kesal Bee melempar ponsel nya. Diam memikirkan alasan apa yang harus dia katakan pada Bintang.
Satu ide muncul. Segera dia kembali meraih ponselnya. "Halo, tumben istri aku yang cantik ini nelpon, ada apa? kangen sama aku? palang merah nya udah siap belum?" ucap Bintang antusias.
"Kak..aku bosan di rumah. Tante Di ngajak aku nyalon. Biasanya kita nyalon di rumah sih, si mbak nya yang datang. Aku boleh ke rumah tante Di?" jantung Bee berdetak cepat, takut kebohongannya ketahuan.
"Ke rumah tante Di? boleh. Nanti minta Komar ngantar kamu ya"
"Ok..Aku berangkat sekarang. Bye" Bintang bahkan belum sempat mengatakan salam penutup, sambungan sudah di putus oleh istrinya.
"Gue harus buru-buru nelpon tante Di nih" cicitnya segera menelpon nomor tante Di.
"Iya sayang.." suara tante Di menggema di seberang sana.
"Tan, aku mau ke rumah tante, kita nyalon bareng ya, aku on the way" Bee tak memberi kesempatan buat tante Di bicara, langsung mematikan ponselnya.
Komar memang di minta untuk mengantar Bee ke rumah tante Di oleh Bintang. Semalam di perjalanan, Bee sibuk mengabari Elang kalau dirinya sudah di jalan. "Di sini aja pak, saya mau beli rujak dulu di tikungan gang itu" ucap Bee meminta Komar untuk berhenti.
"Terimakasih pak. Bapak pulang aja. Nanti suami saya yang jemput" ucap Bee turun dari mobil, lalu melangkah masuk ke arah gang. Bersembunyi sampai mobil hitam itu melesat menjauh hingga tak nampak lagi.
Tak lama menunggu, Ojol yang dia pesan saat hampir tiba di kawasan perumahan tante Di tadi, sudah datang. Dengan tenang, Bee melaju ke PIM.
"Lama banget sih kamu? aku bosan nunggu kamu begini. Ingat Bee, waktu aku ga banyak. Aku bukan Elang yang dulu. Jadwal aku padat. Harus nya kamu bangga, aku sempat-sempatkan buat ketemu kamu" seru Elang setelah Bee ada di sisinya.
Elang memakai Hoodie hitam, lengkap dengan masker dan topi. Berbeda dengan Bee, dia hanya menggunakan masker. Toh jarang orang mengenal dirinya.
Profesi sebagai model, apa lagi model junior, masyarakat belum banyak yang mengenal. Salah satu yang di syukuri Bee, tak perlu takut oleh kejaran paparazi.
"Maaf Lang, aku udah usahakan secepat mungkin" hati Bee kembali sedih dengan sikat dan tutur kata Elang. Sangat berbeda dengan Bintang.
Apaan sih gue, ngebandingin mereka berdua!
"Kita makan dulu ya, aku lapar" Bee serasa bukan dirinya saat bersama Elang. Tak ada kebebasan, tak ada keceriaan. Bahkan saat Bee mencoba duduk dengan santai, menyandarkan punggung nya ke kursi, Elang akan segera berbisik padanya. "Anggun sedikit lah Bee, jangan bikin aku malu. Aku ini superstar. Kamu bakal punya suami artis, jadi please ubah sikap kamu"
Mata Bee seakan memanas. Ingin sekali berlari menangis. Biasanya kalau dia lag sedih dan menangis meraung, Bintang akan memeluknya, dan aneh nya seketika itu juga tangis nya redam Rasa sakit itu menguap.
Tapi saat ini tak ada Bintang. Pria itu bahkan tidak tahu kalau istrinya sedang berduaan dengan kekasihnya. Yang ada hanya Elang tapi pria itu tidak akan mau memeluk Bee. Dia hanya perduli pada diri dan penampilannya.
Dengan perasan sakit, Bee menegakkan tubuhnya. Mengikuti semua keinginan Elang. Sehabis makan, mereka mengelilingi toko perhiasan. Satu kalung mas putih di pilih Elang untuk Bee. "Kamu suka? ini pasti cantik di leher kamu" ucapnya sembari memutar tubuh Bee dan memasangkannya.
Perlahan tangan Bee naik, menyentuh liontin berbentuk burung Elang yang tengah mengepakkan sayapnya. Perasaannya biasa, tak ada bahagia, seperti kala Bintang memberinya hadiah kalung berliontin dua bintang pada saat ulang tahunnya dulu.
Ah..dia rindu kalung itu. Kalung yang dia simpan rapi di lemarinya. Dia ingat, bahkan Bintang dulu pernah bertanya, kenapa dia tak memakai kalung pemberian nya, dan dengan santainya Bee menjawab tak ingin mengkhianati Elang dengan memakai kalung dari Bintang.