
Hati Bee seketika bergetar. Dia kenal suara itu. Suara yang tiap malam seolah selalu berbisik di telinga nya.
"Bee..hei..kamu dengar ga? kamu baik-baik aja kan? kamu di mana?" ulang suara itu lebih tinggi.
Kesadaran nya kembali, tapi debar jantung nya masih sama, saling berkejaran.
"Kakak..Saga..." suara terbata Bee masih dapat dipahami Bintang.
"Saga kenapa?" susul nya mulai khawatir.
"Saga demam. Aku lagi di rumah sakit ibu dan anak dekat rumah" Bee kini mulai terisak. Rasanya beban dan rasa khawatirnya tadi lenyap hanya dengan mendengar suara Bintang. Hati nya bilang, semua akan baik saja asal bersama pria itu.
"Tunggu di sana, aku akan segera datang"
Saga masih tidur. Hangatnya buaian dalam dekapan Bee membuat Saga terlelap. Damai sekali menatap wajah anak itu. Semakin besar Saga begitu mirip dengan Bintang. "Abang cepat besar ya nak, jangan sakit-sakit. Mama khawatir" ucap nya lirih.
Dari belakang seseorang menyentuh pundak nya hingga Bee menoleh. Tadi air matanya sudah surut, tapi melihat sosok yang kini sudah berjongkok di hadapannya sambil menatap lekat matanya, membuat air bening itu menetes lagi. "Kak.."
"Jangan menangis" ucap Bintang lembut menghapus air mata gadis itu. "Gimana keadaan Saga?" Bintang mengintip putra nya dengan menyibak selimut tebal yang menutupi tubuh kecilnya. Anggukan kecil dari Bee sudah bisa menenangkan hati nya kini.
Saga sudah dibaringkan di tempat tidur. Kalimat untuk meminta Bintang tinggal sudah ada di ujung lidah nya, tapi rasa malu membuat nya mengurungkan niatnya.
"Boleh aku tinggal malam ini?" Bee mendongak, senyum kaku samar terlihat sembari anggukan cepat dari nya.
Malam itu kedua nya tidak tidur, karena Saga yang terbangun dan kembali menangis. Panik Bee kambuh, begitu khawatir setiap Saga menangis. Dia benci dirinya yang tidak mengerti mengurus anak kecil. Bahkan Mira lebih lihai dari nya.
"Kak, Saga nangis lagi..gimana ini kak? demam nya tinggi lagi" Bee bingung harus apa hanya bisa menggendong Saga, memberikan nen agar bocah itu diam, tapi Saga menolak.
Bee ingat dokter bilang tadi, gusi nya pasti berdenyut karena akan tumbuh gigi hingga membuat Saga menangis.
Seolah ingat sesuatu yang pernah di baca di satu artikel, Bintang segera membuka kemeja serta kaos nya hingga bertelanjang dada.
"Kakak mau apa?" Bee bingung melihat tingkah Bintang. Tidak mungkin pria itu mau mandi tengah malam begini.
"Buka baju Saga Bee, cepat" walau bingung Bes mengikuti perkataan Bintang tanpa bertanya lagi. Berikutnya yang di saksikan Bee adalah Bintang mendekap erat tubuh Saga.
"Panas nya sama papa aja ya nak.." ucap Saga tetap memeluk erat. Berharap suhu panas di tubuh Saga akan terserap pada nya.
Satu jam kemudian, Saga sudah terlelap, dengan nen di mulutnya. "Kamu istirahat Bee, biar aku yang jaga Saga" ucap Bintang yang tak tega melihat Bee yang sudah sangat lelah dan mengantuk.
Bee menggeleng, dia ingin ambil andil dalam mengurus Saga. Tidak ingin di cap sebagai ibu yang tidak becus. Tapi semenit kemudian, gadis itu tertidur di tepi tempat tidur di sisi Saga.
Bintang yang baru keluar dari kamar mandi, membenarkan posisi Bee, menggendong dan membaringkan tubuh gadis itu.
Kelelahan yang sangat berat membuat Bee mengigau. "Kak..jangan pergi..aku takut"
Memastikan gadis itu hanya bermimpi, Bintang bermaksud untuk membaringkan tubuhnya di sofa, tapi tangan Bee menarik ujung kaos nya.
"Jangan pergi.."
"Mungkin dia haus Bee" Bintang ikut bangkir dan duduk di samping wanita itu.
Semua mungkin sudah terlambat untuk Bee sadari. Tapi dia sudah memilih langkahnya, mau tidak mau harus tetap menapakinya. Baru lah saat ini dia sadar, bahwa hati nya lebih nyaman di dekat Bintang dari pada Elang.
Memperhatikan Bintang yang bermain dengan Saga yang sudah kembali lincah, tertawa akan gerak Bintang yang menggelitiknya membuat Bee menyadari kalau mereka berdua adalah hal terpenting dalam hidupnya.
Selesai sarapan, Bintang pamit karena melihat Saga yang juga sudah membaik.
"Aku pergi ya. Kalau ada apa-apa, hubungi aku"
Mereka berdua duduk di teras rumah, bersama Saga untuk berjemur sesaat pagi itu.
"Ke nomor yang kemarin?"
Bintang hanya mengangguk. Bee ingin mengajukan pertanyaan lagi perihal nomor pria itu yang sudah tidak yang lama lagi, tapi rasa nya enggan. Dia kan bukan siapa-siapa Bintang lagi.
"Nomor yang lama sudah aku buang, bersamaan dengan ponsel itu" terang Bintang seolah memahami isi pikiran Bee.
"Kenapa?" penyesalan yang terlambat. Bee mengutuk lidah nya yang gatal untuk bertanya. Kenapa harus ku tanya sih? suka-suka dia lah kalai mau ganti nomor..
"Untuk menahan diri untuk tidak lagi menghubungi mu, untuk bisa melupakan mu dengan tidak melihat photo-photo mu di handphone ku" ucap Bintang menatap ke depan lurus, tidak ingin berlaga pandang dengan Bee yang kini tengah menatapnya.
Bee memilin jemarinya. Penjelasan Bintang berpengaruh besar padanya. Kalau saja pria yang ada di samping nya itu masih suaminya, dia bersumpah akan memeluk dan mengecup nya. Tapi kini mereka adalah orang asing yang masih terikat hanya karena urusan Saga.
"Bahagia lah Bee, aku akan bahagia kalau kamu juga bahagia, walau pun itu bukan dengan ku"
"Apa kau bahagia kak?" dalam hati Bee memohon pada diri sendiri untuk jangan menangis di depan Bintang. Dia tidak boleh lemah di hadapan pria itu.
"Aku akan mendapatkannya" ucap Bintang tak yakin.
"Bersama Stella?" lagi-lagi rasanya ingin mengiris lidahnya yang tidak tahan untuk tidak bertanya.
"Mungkin..entah dengan siapa pun itu. Yang terpenting kamu bahagia dulu"
Diam sesaat. Hanya terdengar suara Saga yang berceloteh yang hanya dia yang tahu. Dua orang itu sama-sama menyimpan rasa, tapi kenapa begitu sulit untuk mengatakan nya.
Kepergian Bintang dari rumah pagi itu seakan membawa seluruh kebahagiaan Bee pergi. Jauh bersama langkah pria itu. Kaki nya masih saja berdiri di tempatnya memandangi deru mobil Bintang yang menjauh.
Tak akan ada yang melihat kerapuhannya kini. Hingga memutuskan untuk menetes kan cairan bening itu sepuasnya.
Jika ibu tidak mendengar pembicaraan dengan Elang, Jika tidak karena ancaman Elang yang ingin menjatuhkan martabat Bintang, Bee tidak akan mau bercerai.
Walau lambat, tapi kini doa yakin akan apa yang dia rasakan kini pada pria itu.
"Aku mencintaimu Bintang..aku sangat mencintaimu.."