
Mentari pagi menyapa seisi bumi dengan sinar hangatnya. Cuaca cerah, dan cicitan burung di ranting pohon menjadi melodi indah untuk memulai pagi dengan semangat.
Tapi tidak untuk Kinan. Harusnya dengan tidur nyenyak nya semalam, pagi ini dia bisa bangun lebih bersemangat, nyatanya tidak.
Jarum jam menunjukkan pukul sepuluh pagi, saat bola mata indah nya mulai terbuka. Sedikit demi sedikit, Kinan mengumpulkan memorinya, setelah menyadari tempatnya berbaring saat ini bukan di kamarnya. Ingatan itu masih samar, tapi rasa pegal di tubuhnya, serta ngilu di bawah sana perlahan menyadarkannya akan kejadian semalam.
Rentetan peristiwa satu demi satu dia kutip menjadi sebuah cerita yang kini berhasil membuat jantung nya berdegub kencang.
"Apa aku tidak cantik?"
"Cantik"
"Apa aku tidak menarik?"
"Sangat menarik"
"Kalau begitu ayo"
Dan dengan jelas Kinan mengingat dia lah yang pertama kali menyerang pria itu secara brutal. Mel*mat bibir menggoda itu hingga rasa haus Kinan semakin membakar.
Awalnya pria itu menghindar, menolak perbuatan Kinan dengan menjauh kan tubuh gadis itu. Tapi Kinan merengek bak anak kecil lalu kembali mendekati pria itu yang wajah nya tampak sangat familiar di matanya, lalu kembali menciumi bibir pria yang kini tidak memakai atasan apa pun.
Mata Kinan liar menatap tubuh liat sang pria, tangannya bahkan tanpa sungkan menggerayangi tubuh atletis pria itu.
Pria itu nyatanya bukan malaikat yang tahan akan godaan sensual Kinan. Bahkan gadis itu tanpa sadar memberikan efek kejut dengan mengh*sap p*ting dada pria itu yang membuatnya mengerang.
Setelah nya yang Kinan ingat mereka berdua terhempas di atas kasur dengan tubuh penuh keringat, berpacu dengan deru nafas yang saling memburu.
Hanya itu yang jelas muncul dalam ingatan Kinan. Selebihnya biar noda di atas seprai hotel yang menjelaskan.
"Ough.." erangnya merasakan sakit setelah mencoba bergerak. Kekesalan nya semakin menjadi saat menyadari ternyata dia sendirian.
"Dasar pria brengsek, sialan..bajingan.." umpatnya menggebuk kasur dengan kuat, hingga secarik kertas di atas bantal terjatuh ke lantai.
Rasa pusing semakin menyerangnya seiring rasa sakit di tubuhnya. Sejenak berpikir apa yang harus dia lakukan.
Malam ini harus nya dia akan bertunangan dengan Bintang, tapi itu tidak mungkin akan diteruskan kan? bukan karena apa yang baru menimpa dirinya, tapi juga Kinan tidak mau meneruskan pertunangan itu karena ternyata Bintang tidak mencintainya, tidak menginginkan nya.
Harusnya dia benci pada Bintang, tapi kenapa hati nya tidak hancur seperti dirinya dulu putus cinta dengan pacar pertama nya?
Hanya ada kecewa dan kesal pada Bintang. Tapi jika di lihat dari sudut pandang lain, sejujurnya Kinan harus berterima kasih pada Bintang untuk kejujuran nya yang menyakitkan itu. Kinan tidak mau menjalani rumah tangga tanda dasar cinta.
Sial memang, sudah lah pertunangannya batal, keperawanan nya juga harus hilang. Naas nya harus dengan pria yang tidak dia kenal.
Kinan mencoba untuk duduk, bersandar pada headboard. Menenangkan dirinya sejenak sebelum meninggalkan tempat ini.
Hal pertama yang harus dia lakukan adalah berbicara pada papa nya. Tapi mengingat wajah sendu papa nya, nyalinya menciut. Tuan Setiawan terlalu terobsesi untuk menikahkan putrinya dengan anggota keluarga Danendra, terlebih setelah mengetahui Bintang adalah anak dari sahabatnya sendiri.
Kinan menyibak bed cover yang menutupi tubuhnya. Tampak noda merah yang berasal dari tubuhnya tadi malam.
"Ck.. Kinan bodoh. Kalau pun mau buka perawan harus nya sama orang yang di kenal dong, bego!" rungut nya.
Mungkin karena kesialan yang dialaminya, dia ingin mengabdikan seprei ternoda itu. Kinan mengambil ponselnya yang ternyata mati. "Lowbat lagi!" ucap nya semakin kesal. Mengambil power bank dan tidak lama benda pipih itu dapat aktif.
"Dua gambar udah cukup. Biar lah, kenang-kenangan" melempar ponsel ke tempat tidur dan bergegas menuju kamar mandi.
Pikiran nya yang kacau membuat otak nya tidak bekerja. Taxi yang membawanya pergi dari hotel itu menurunkannya di sebuah mall. Dia ingin menikmati kesendirian nya sembari berpikir apa yang harus dia lakukan.
"Please dong papa, jangan telpon Kinan dulu. Kinan takut nih" gerutu nya menatap layar ponselnya yang berbunyi. Entah sudah berapa kali papa nya menghubungi nya. Dia bukan lah gadis yang biasa tidak pulang tanpa kabar berita.
Layar ponselnya redup. Sesaat Kinan menarik nafas. Perutnya yang sudah di isi tenderloin steak satu jam lalu, rasanya masih lapar juga.
Benar, dia butuh tenaga untuk menghadapi amukan amarah papanya. Sebelum Maghrib baru lah Kinan berani menginjakkan kaki di rumah nya.
Bisa di bayangkan wajah merah padam tuan Setiawan saat menyambut nya di teras rumah.
"Papa sudah mau buat pengaduan pada polisi tentang anak papa yang hilang" hardik nya. Kinan hanya diam. Bahkan untuk menatap wajah papa nya pun dia tidak berani.
Rumah sudah tampak di hias. Penuh ornamen putih, berhias bunga melati yang indah. "Papa..aku mau bicara"
"Apa lagi Kinan? segera lah bersiap. Sebentar lagi keluarga Danendra akan datang" tuan Setiawan menatap Kinan yang justru duduk di sofa bukannya beranjak ke kamar.
"Justru itu yang ingin aku bicarakan dengan papa" ucap nya lirih. Kembali degub jantung nya terdengar.
Dahi tuan Setiawan berkerut. Di tatap nya dengan seksama wajah putrinya, yang memang berbeda dengan biasanya. Naluri nya berkata, ada hal buruk yang terjadi pada gadis nya.
"Ada apa? katakan"
"Maaf pa, aku..aku ga bisa melanjutkan pertunangan ini"
Wajar jika tuan Setiawan terkejut. Ini jauh dari yang dia pikirkan. Tapi apa alasannya?
Dengan lembut dan di iringi isak tangis Kinan menceritakan alasannya memilih berpisah dengan Bintang. Setiawan yang hanya perduli pada kebahagiaan putri nya, hanya merangkul Kinan dan memberikan kata penghiburan.
Tidak ada nya cinta di hati Bintang menjadi alasan Kinan memutuskan pertunangan. Dan Setiawan bisa menerima itu. Karena dia tahu bagaimana rasanya menikah tanpa ada nya cinta diantara suami istri.
Andri Setiawan, pernah jatuh cinta pada seorang gadis di bangku SMA, yang juga kekasih sahabatnya sendiri. Bahkan hingga menikah dengan ibu Kinan, Setiawan tidak bisa melupakan wanita itu.
Setiawan tetap bersikap baik dan bertanggung jawab pada Kiara, ibunya Kinan. Tapi hanya sebatas itu. Dia setia, dan menghargai Kiara, tapi hatinya tetap milik seseorang yang memilih menjadi milik orang lain.
Saat Kinan melakukan panggilan video call menunjukkan wajah ibu dari pria yang dia cintai, degub jantung Setiawan bertalu-talu. Sekian lama tidak pernah bertemu lagi, akhirnya dia bisa melihat wajah satu-satunya wanita yang pernah dia cintai itu.
Wanita itu masih cantik, garis kerutan di wajah nya tidak memudarkan nilai ayu dari parasnya.. Dia tetaplah Salma, cinta pertamanya.