Sold

Sold
Berita suka cita



Hanya perlu menunggu lima belas menit, akhirnya giliran mereka tiba. Dengan tampak kusut dan ogah-ogahan, Bintang berjalan mengikuti langkah Bee masuk ke ruang dokter.


"Selamat malam bapak, ibu" sapa sang dokter tersenyum menatap keduanya lalu kembali membaca file berisi data Bintang yang tadi sempat di isi oleh perawat.


"Mual nya sudah seminggu lebih ya pak?" ucap dokter.


Bee mewakili suaminya mengangguk cepat. Dokter lalu meminta Bintang untuk berbaring, dan seorang perawat datang untuk mengukur tensi pria arogan itu.


Tensi nya di katakan normal. Lalu setelah memeriksa perut dan juga rongga mulut Bintang, dokter itu pun memintanya untuk kembali duduk.


Sembari menunggu sang dokter menulis sesuatu di kartu laporan data pasien, Bintang meminta Bee untuk mengoleskan kembali minyak ke bawah hidung nya.


"Ini Bu, habis dari sini saya sarankan ke dokter Leann. Ruangannya tidak jauh dari sini. Nanti perawat akan mengantarkan ibu"


Bee hanya mengangguk walau tidak mengerti.


"Jadi, bapak tidak sakit apa pun. Anda hanya mengalami sindrom kehamilan simpatik, yaitu suami ngidam dan mengalami gejala-gejala kehamilan seperti yang biasa di alami oleh ibu yang sedang mengandung. Dalam dunia medis dikenal dengan nama couvade syndrome" terang sang dokter.


"Hamil? siapa yang hamil dok?" Bintang semakin bingung. Sementara Bee yang paham akan penjelasan sang dokter, perlahan mengulurkan tangannya ke bawah, meraba perutnya. Hampir saja dia menangis haru.


Dokter yang melihat Bee sudah paham, lalu beralih menjelaskan pada Bintang.


"Kemungkinan besar istri bapak tengah hamil saat ini. Untuk memastikannya, maka saja merujuk ibu ke dokter spesialis kandungan"


Bintang mencermati setiap perkataan dokter, lalu seperti di sambar petir, Bintang kaku, memiringkan duduk nya untuk bisa melihat Bee dengan jelas.


"Sayang..." bahkan Bintang tidak mampu lagi berkata-kata.


Keduanya di arahkan ke dokter kandungan. Bee menggengam tangan Bintang, berjalan beriringan. Dia sebenarnya tidak perlu di arahkan oleh perawat itu, karena dia sudah pernah bertemu dokter cantik itu. Dia juga lah yang dulu menolong persalinan Saga.


"Sore dokter" sapa Bee. Bintang masih dalam diamnya. Entah apa yang di pikir kan pria itu saat ini.


"Nyonya Bellaetrix Elaina, wah dulu juga pernah periksa kandungan dan melakukan proses persalinan dengan saya ya" ucap dokter Leann yang tengah membaca riwayat data Bee.


"Iya dok"


"Ok, kita periksa dulu ya. Dari note dokter Rizal, bapak mengalami gejala seperti couvade syndrome ya?" ucap nya sembari mengarahkan transducer ke perut Bee.


"Nah pak, ibu..ini adek bayi nya.."


Semua penjelasan dokter itu tidak lagi di dengar Bintang dia hanya menatap perut istrinya yang sedang di periksa. Sesekali dia akan melirik ke monitor berwarna hitam dan seperti ada bayang-bayang bak gumpalan awan yang tengah bergerak-gerak.


"Ini degub jantung nya ya.."


Dengan seksama Bintang mendengar kembali suara yang memang seperti degub jantung manusia pada umumnya.


"Sudah.." dokter itu pun kembali ke kursinya sementara Bee masih di bersihkan dan perawat membantu merapikan pakaian nya.


"Selamat ya bapak ibu" ucap dokter itu setelah pasutri itu kembali duduk di hadapan bu dokter cantik.


"Benar pak. Dan kemungkinan besar, ibu dan bapak akan punya anak kembar"


Lagi-lagi kabar itu menyengat Bintang. Wajah bodoh nya pun muncul lagi. Tidak percaya, berita itu sungguh sangat luar biasa.


Bee tidak perduli lagi, dia meneteskan air mata bahagia, dan mulai meraba perut nya. Terima kasih sayang sudah hadir di sini..


Mulai dari parkiran, Bintang menggengam tangan Bee hingga menuju mobil. Berjalan begitu pelan. Bee yang gemes dan tidak sabaran, menarik tangan Bintang agar mempercepat langkahnya, tapi Bintang menarik tangan Bee agar gadis itu berhenti.


"Jangan cepat-cepat. Kamu lagi hamil sayang"


"Ya ampun kak. Aku baik-baik aja. Jalan aku juga masih wajar, ga lari atau tergesa-gesa. Ayo dong kak, Saga pasti nyariin aku. Udah kelamaan kita di luar" ujar Bee. Tapi Bintang tidak perduli, dia tetap menahan tangan Bee agar melangkah pelan bersama nya.


Bee benar-benar harus bersabar menghadapi tingkah Bintang yang dianggapnya berlebihan. Bintang bahkan menyetir sangat lama.


Bee baru akan buka mulut, meminta untuk Bintang menginjak gas, agar mereka bisa tiba tepat waktu di rumah, tapi dering ponselnya membatalkan niatnya.


"Halo Bu"


"Gimana? sudah periksa ke dokter? kamu hamil kan?" serang ibu tanpa basa basi. Bee mengernyitkan dahi. Bagaimana ibu tahu tentang kehamilannya, padahal ibu tidak jadi datang ke rumah sakit itu.


"Ibu tahu dari mana?"


"Aku ini sudah tua Bee. Sudah banyak asam garam yang aku nikmati di dunia ini. Dengan melihat Bintang yang mual kemarin aja, ibu tahu kau sedang hamil, tapi dia yang mengalami gejala ngidam nya" terdengar suara tawa ibu di seberang sana.


"Iya Bu. Aku lagi hamil. Malah kata dokter kemungkinan bayi nya kembar"


Pekik girang ibu di kejauhan sana kembali bergema. "Baik-baik jaga kesehatan mu ya. Besok ibu datang bawa jamu sama makanan sehat"


"Iya Bu"


Bee merasa begitu beruntung, memiliki keluarga yang sangat mencintai nya.


Setelah hari itu, Bee selalu di jaga dan perlakukan bak tuan putri sungguhan. Jika rasa mual sedang tidak menyerang Bintang, pria itu akan melayani Bee seorang diri. Memandikan dan membantu menyisir rambut wanita itu


Walau awal nya agak risih, tapi Bee menerima semua bentuk perhatian padanya. Setiap hari ibu akan datang, membantu menjaga Saga agar Bee tidak perlu repot dan jangan sampai kelelahan.


Hanya saja, tidak semua anggota keluarga Danendra menyambut kabar baik itu. Malam itu, saat ibu meminta semua berkumpul di rumah Bintang, hanya untuk makan malam biasa saja sebenarnya, Bee bisa merasakan raut sedih dari wajah Kinan. Setiap yang lain memuji dan antusias membahas anak kembar, Kinan hanya diam, menunduk dan tidak mengatakan apa pun.


Mungkin tidak ada yang menyadari, hati Kinan sedih, mengetahui Bee hamil saat ini, bahkan kembar, memugar kenangan lama Kinan. Membawanya kembali pada ingatan akan kehilangan calon bayinya dulu.


Sudut hatinya mulai dirasuki rasa tidak percaya diri. Bagaimana jika dirinya tidak bisa hamil lagi? dia bukan nya tidak pernah mencari artikel mengenai kemungkinan susah nya seorang wanita memiliki anak kembali pasca keguguran.


Dia takut, dirinya tidak di karuniai hak untuk menjadi seorang ibu.


Apakah keluarga keluarga ini akan tetap menerimaku seperti menyukai Bee jika suatu hari nanti aku tidak bisa memberikan keturunan pada keluarga Danendra?