Sold

Sold
Pertemuan yang tidak terduga



Hampir saja benda pipih yang tengah di menempel di telinga Bee jatuh, sangkin terkejut akan berita yang dia dengar.


Kinan hamil?


Bee bisa menebak, saat ini pasti gadis itu dalam keadaan kalut. Bingung harus apa. Terlebih Kinan begitu takut kalau sampai papa nya tahu akan kehamilannya.


"Bee.." isak dari seberang sana terdengar menyayat hati.


"Iya Nan. Aku dengar. Kamu dimana? ayo ketemuan" ucap Bee mengerti Kinan saat ini butuh dirinya.


Kembali kedua nya janji bertemu di cafe Tatiana love. Saat Bee tiba di sana, Kinan sudah lebih dulu sampai dan memilih tempat duduk mereka kemarin.


"Bee.." Kinan menghambur ke pelukan Bee begitu gadis itu duduk di sampingnya.


"Sabar ya Nan. Kamu tenang dulu. Kita pikirkan bareng-bareng" Bee mengutuk pria yang sudah membuat Kinan menderita begini. Walau pun tangis Kinan sudah berhenti nanti, tapi Bee juga ga tahu harus berbuat apa untuk jalan keluar masalah Kinan.


"Bee, aku takut. Takut papa marah, takut kalau sakit jantung nya Jumat lagi" Isak nya terbata.


"Aku akan selalu ada di sisi mu. Tapi ini ga bisa di sembunyikan lebih lama lagi. Gimana pun perut mu akan semakin membesar"


Setengah jam membujuk Kinan, akhirnya nya gadis itu bisa tenang. Bee sudah memesan teh manis hangat dengan madu, untuk membantu Kinan bisa rileks.


"Kamu mau kan Bee temani aku bicara sama papa? nanti kalau papa marah, kamu bisa belain aku"


Belain? tapi emang perbuatan Kinan salah kan? semoga tuan Setiawan bisa mengerti..


Anggukan Bee menerbitkan segaris senyum tipis di wajah Kinan. Walau belum maju ke medan perang, setidaknya dia tahu kalau dia sudah punya bala bantuan, Bee sebagai tamengnya.


***


Malam nya, setelah Bee menidurkan Saga, Kia menghubungi nya. Mengajaknya untuk jalan besok karena sudah lama mereka tidak pergi keluar.


Tawaran Kia memang sangat menggiurkan, terlebih untuk saat ini Bee butuh waktu untuk me-refresh kembali otak nya yang terasa penat.


"Ok, tapi gue ga bisa lama"


"Wokeh cantik. Jangan lupa bawa calon anak gue" balas nya penuh semangat. Dari suaranya, Bee bisa menebak pria itu sedang tersenyum saat mengatakannya.


"Idih, pede. Emang Saga mau punya papa kayak elo?" goda Bee ikut tersenyum. Dia bersyukur, Kia begitu menyayangi Saga. Kadang saat Bee harus ke luar kota untuk pemotretan suatu produk, Kia selalu selalu datang ke rumah untuk bermain dengan Saga, walaupun dia tahu Bee sedang tidak ada di rumah. Bukti nyata kalau dia menyayangi Saga tulus, bukan karena mau mengambil hati Bee semata.


Pria itu juga membelikan banyak mainan. Kadang Bee kesal melihat Kia terlalu memanjakan Saga. Tapi kembali satu sisi hatinya menghangat karena perhatiannya, Saga tidak lagi kekurangan kasih sayang seorang ayah.


"Ya mau lah. Cakep gini. Pengacara kondang lagi" Kia tidak mau kalah. Akhirnya keduanya tertawa bersama. Hidup Bee kini lebih tenang. Dan semua berkat Kia di sisinya. Tapi tetap saja, hati nya bukan milik pria itu, sebagaimana pun Bee mencoba.


Minggu itu Plaza Senayan begitu ramai dipadati pengunjung. Banyak orang datang bersama keluarga mereka untuk menghabiskan akhir weekend sebelum kembali beraktivitas besok nya.


Kadang Bee merasa Saga tumbuh begitu cepat. Sekarang aja bocah itu sudah bisa jalan. Setiap melihat Saga hal pertama yang dia syukuri adalah bisa mengenal Bintang hingga memiliki anak sepintar dan setampan Saga.


Tidak ingin kembali mengingat Bintang, Bee menggeleng kepalanya, terus berjalan bersama Saga yang menggengam tangannya.


"Kenapa lo sakit kepala?" celetuk Kia yang menangkap gerakan nya.


"Eh..ga..ga papa"


Tidak seharusnya dia mengingat Bintang lagi. Pria itu sudah benar melupakan dirinya. Bee pikir, setelah pertunangannya dengan Kinan usai, pria itu akan mendatangi dirinya. Nyatanya tidak. Sebulan lebih justru yang dia dengar malah kedekatannya dengan Stella. Bahkan mereka di kabarkan akan segera menikah.


Bee jadi ingat omongan Kia seminggu yang lalu. "Lupakan dia, lo jangan nyiksa diri lo dengan memikirkan pria itu. Kalau dia ga bisa menghargai cinta lo, maka lepaskan dia"


Dan setelah Bee pikir, itu lah yang harus dia lakukan. Hanya saja dia masih belum menemukan cara nya dan kapan akan mulai.


Saga menarik tangan nya menunjuk patung badut dengan baju dominan berwarna kuning dan duduk di bangku.


"Let's go" ucap Kia, membuat Saga tertawa karena gerakan lucunya.


Sementara Kia sedang mengantri pesanan mereka, Bee membawa Saga untuk mengambil kursi. Tapi langkahnya terhenti kala matanya bersitatap dengan Bintang. Hati Bee semakin terluka saat melihat sosok Stella yang tengah duduk bersama nya.


"Hai..kamu. Wah, lucu nya..anak kamu?" tembak Stella menatap ke arahnya.


Sedikit lega, dirasakan Bee, awalnya dia mengira Stella akan mengenal putranya karena sudah pernah membawa Saga ke depan publik. Tapi nyatanya Stella tidak ingat, saat itu memang Saga masih bayi, dan hanya di gendong.


Sementara status anak Bintang yang dulu sempat di ekspos media, kini redup, seolah itu hanya lelucon Bee saat itu. Netizen hanya menganggapnya sensasi yang biasa di main kan para selebriti.


Buktinya, setelah sebulan berita itu redup dengan sendirinya. Stella sendiri pun tidak mempercayainya sedikitpun. Atau tepatnya, jika berita itu benar pun, dia tidak perduli, yang dia perdulikan hanya Bintang seorang.


Sebelum menjawab, Bee melirik sekilas pada Bintang yang masih menatapnya tajam. "Iya..ini anak aku" sahut nya mantap. Mulai sekarang dia tidak akan menyembunyikan keberadaan Saga lagi, walau karirnya akan redup sekalipun dia tidak perduli. Baginya Saga yang terpenting.


"Lucu nya, mau makan juga? gabung yok" ucap nya menawarkan. Dia tahu, Bee sempat di gosip kan punya gunungan dengan Bintang. Dan dia tidak suka. Jadi dengan menawarkan untuk duduk bersama, Stella ingin menunjukkan pada Bee, dirinya lah kini yang ada di sisi Bintang.


"Ga usah, kami cari kursi yang lain aja. Di sa-na.." Stella ikut melihat gerakan tangan Bee, kursi yang tadi ingin di tempati Bee sedari awal kini sudah di tempati orang lain. Dan sialnya, semua kursi penuh.


Kia datang membawa satu nampan berisi banyak makanan. Menyusul Bee dan tepat di belaka gadis itu. "Mana kursi kit?" ucap nya. Kali ini sasaran pandangan Bintang beralih pada Kia. Seolah lewat sorot matanya, Bintang bisa membakar pria Kia.


Seketika wajah Bintang berubah. Rahang nya mengeras tanda marah sekaligus cemburu Bee jalan bersama Kia.


"Hai, gabung sama kita aja. Udah pada penuh" suara Stella memecah keheningan.


"Ga usah deh. Kita ke resto lain aja ya Kya" potong Bee. Kalau sampai semeja, yang ada dia yang sengsara.