Sold

Sold
Akhirnya ketemu



Setelah menimbang, Kiki memutuskan untuk pergi ke mall seorang diri. Kalau ke rumah, dia akan mati kebosanan juga, karena mama nya masih di Jogja, dan Kia ga tahu dimana. Papa nya? apa lagi itu, jangan tanya. Paling juga lagi kelonan sama selingkuhannya yang seumuran dengan Kiki.


Gadis itu berusaha keras untuk menghibur dirinya. Dia merasa terbuang dan tak di perdulikan. Satu-satunya sahabat nya adalah Bee, tapi gadis itu sudah pulang.


Tujuan utama nya adalah resto cepat saji. Dia ingin makan yang banyak, meluapkan rasa kesal nya pada makanan. Asik berjalan dengan melihat ponsel, seseorang menubruk nya hingga ponselnya jatuh hingga pecah.


"Au..sakit..punya mata ga sih? ponsel gue" ringis nya menatap ponselnya. Lalu akan bersiap memaki orang yang menabrak dirinya, tapi nyatanya urung dia lakukan saat melihat siapa sosok itu.


Bukan marah, Kiki justru sumringah melihat wajah pria itu.


Si ganteng.." cicitnya pelan.


"Maaf, lo ga papa?" pria itu mengulurkan tangannya ingin membantu Kiki yang masih terpesona menatapnya.


"Ga kok, ga papa. Tapi hape gue hancur tuh" ujarnya memungut kembali ponselnya.


"Gue ganti sama yang baru. Lo pilih aja" sahut si tampan dengan sikap dingin nya.


Seorang anak kecil mendekat pria itu, dan memegang tangan nya yang berusaha untuk kabur lagi.


"Lihat tuh, ponsel kakak ini jadi jatuh, udah kita ga jadi main" ucap nya hingga membuat bocah menggemaskan itu menutup mulut tak berani protes.


"Nih.." ponsel pilihan gadis itu sudah di berikan oleh si tampan. Gadis itu yang awalnya riang entah mengapa setelah kedatangan anak kecil itu, wajah Kiki jadi berubah cemberut.


"Makasih. Lo ga ingat gue?" tanya nya ketus.


Pria itu memicingkan matanya. Dia memang serasa pernah bertemu dengan kiki, tapi dia tak ingat dimana.


"Maaf, kita pernah bertemu?"


"Dompet, yang Lo temuin , tapi justru gue bilang lo jambret" terang Kiki.


Lama diam, mengingat dan bayangan satu wajah muncul di pelupuk matanya. Pria itu sekali lagi melihat Kiki, benar. Kini dia ingat.


"Oh, jadi itu Lo. Gue ingat. Tiap ketemu lo kok gue sial ya? Udah ya, hape Lo udah gue ganti, kita gada urusan lagi."


"Yee nyolot, iya makasih udah dapat hape baru gue. Anak lu cakep, tapi kok ga mirip sama Lo" Kiki malah ngajak ngobrol. Walau kecewa ternyata pria yang dia taksir sudah punya anak, dan tak mungkin lagi mendekati pria itu, tapi Kiki bukan gadis ga tahu terimakasih. Dulu udah di tolong in, sekarang di beliin hape baru, jadi kiki basa basi hanya untuk sopan santun.


"Ini om aku kak, bukan papa aku. Nama nya om Erick" ucap anak kecil yang sedari tadi menatap keduanya secara bergantian.


"Om? bukan papa?" tanya kiki antusias. Saat dia mengangguk, Kiki mulai bersikap centil.


Gadis itu cantik. Erick bisa melihat sisi cantik nya, tapi cara bicara yang ceplas-ceplos, serta kepedean yang luar biasa, membuat Erick geli.


"Wah..om kamu ganteng ya. Kalau nama kamu siapa?" tanya Kiki kini menunduk agar sejajar dengan wajah mungil itu. Rok sekolah Kiki yang pendek tentu memperlihatkan paha mulusnya hingga pria yang lalu lalang menatap dengan buas ke arah paha gadis itu.


"Rain.." dengan ceria di jawab si bocah.


Naluri Erick tanpa di komandoi berdiri tepat di belakang Kiki, agar menutupi paha gadis itu.


"Eh.. kenapa?" tanyanya berdiri tegak.


"Ga bisa.." tahan Kiki dengan suara lantang. Hingga semua orang di sekitar mereka melihat. Dan mulai berbisik-bisik.


"Kamu kenapa sih, harus teriak-teriak? ga malu apa di lihat sama orang?" hardik Erick mulai kesal.


"Makanya, kamu jangan tinggalin aku dong sendiri" ucap Kiki menunjukkan wajah gemes.


"Apaan sih, tadi juga kamu sendiri kan?" Erick sudah melangkah pergi bersama Rain meninggalkan Kiki yang termangu menatap.


"Oh..jadi kamu gitu ya, sudah kamu rebut keperawanan ku, sekarang dengan modal hape baru, kamu mau ninggalin aku om?" teriak Kiki sekuat yang dia bisa.


Semakin banyak orang yang berkerumun, melihat pertengkaran mereka. Saling berbisik dan dari tatapan mereka jelas lah kalau semua menyalahkan Erick.


Berbagai umpatan salah alamat pun dia terima.


"Hey kamu, jangan begitu dong sama gadis. Jangan mau manis nya aja. Tanggung jawab dong" hardik seorang ibu yang menatap nya kesal.


"Iya benar, apa lagi dia cuma anak SMA, jadi gampang kamu perdaya ya" sambung yang lain.


"Awas kena karma mas"


"Jangan mintang cakep, suka hati kamu ngerusak anak gadis orang"


Makian dari orang yang tak tahu fakta sebenarnya terus menggema. Bukan kah begitu lah netizen di Negera ini? ga tahu apa pun, sudah menghakimi hanya karena yang tampak dari luar.


Tak ada pilihan lain selain menyeret gadis itu keluar dari mall. Sesampai di luar, Erick langsung menghempaskan genggaman nya pada lengan Kiki yang membuat gadis itu meringis kesakitan. "Au..sakit.."


"Mau Lo apa sih? Lo sadar ga udah buat malu gue? lebih parah lagi, Lo udah mempermalukan harga diri Lo sendiri!" Raung Erick.


"Mau gue Lo jadi pacar gue. Gue suka sama Lo saat pertemuan kita yang pertama dulu" sahut Kiki cepat. Dia tak perduli dianggap murahan, asal bisa mendapatkan Erick, itu sudah setimpal.


"Dasar cewek gila.." umpatnya berlalu. Tapi tentu saja Kiki mengejar.


"Iya, gue udah gila. Gue gila karena terlanjur suka sama Lo. Please, terima gue. Gue bisa kok jadi cewek manis" ucap nya mengerjapkan mata nya berkali-kali dengan memasang wajah imut tak bersalah, berdiri menghadang langkah Erick.


"Minggir" bentak Erick masih menahan kesabarannya.


"Ga mau, pokoknya aku ga akan pergi sebelum kamu terima aku jadi pacar..kalau boleh sih jadi istri.." godanya lagi sambil tersenyum.


"Dasar gila. Kalau Lo masih ngikutin gue, jangan salahkan kalau gue bakal mukul Lo"


"Ok, silahkan aja pukul. Gue rela di pukul sama cowok yang gue suka"


Pria itu kehabisan akal melihat tingkah tak tahu malu Kiki. Baru kali ini bertemu dengan gadis seperti itu.


Apa anak SMA zaman sekarang begitu semua? ga tahu malu nembak cowok?


Kesal dan begitu marah pada gadis ga tahu malu itu. Perhatiannya teralihkan saat Rain merengek lapar.


Resto cepat saji menjadi pilihan mereka. Berharap makanan yang kini ada di meja mereka, segera habis, agar punya alasan untuk segera pulang, jauh dari gadis yang membuat nya naik pitam hari ini.