Sold

Sold
Nasi goreng permintaan maaf



Penuh gelisah Bee mondar-mandir di ruang tamu. Sesekali dia melirik jarum jam sebesar tubuhnya yang berdiri di pojok ruangan.


"Kenapa belum pulang juga sih" rungut nya kesal. Dua jam menunggu dengan agenda, dua kali bolak balik kamar, membaca buku petunjuk dan pengalaman beberapa ibu hamil setelah nanti jadi ibu yang di antar tante Di beberapa hari lalu dan juga Bee sudah mencoba untuk tidur, tapi tetap tidak bisa.


Kekesalan Bee semakin menjadi-jadi, setelah jarum jam menunjukkan pukul sepuluh malam tapi belum ada tanda-tanda kepulangan Bintang.


Perasaan ibu hamil memang sangat sensitif, dan Bee mengalami saat ini. Berulang kali mencoba menghubungi pria itu, tapi tidak ada jawaban. Akhirnya yang bisa gadis itu lakukan hanya menangis hingga matanya bengkak.


Dia bahkan tak menyentuh makanan nya yang di siapkan Mira. Beberapa kali pelayan itu memohon agar majikannya itu mau makan, tapi Bee tak mengindahkan. Terus menangis. Yang dia inginkan hanya Bintang.


Lelah menangis, Bee tertidur di sofa. Pukul sebelas malam, baru lah Bintang tiba di rumah. Seperti Dejavu dia melewati Bee tanpa tahu gadis itu tertidur di sana.


"Tuan..nyonya" suara Mira terputus saat Bintang membalikkan tubuhnya. Tatapannya kini beralih pada wanita yang tertidur dengan posisi miring.


Bintang berjongkok di hadapan Bee. Menatap wajah sayu yang masih terdapat sisa air mata.


"Kenapa nyonya kalian menangis?" hardik Bintang. Pak Jarwo sudah mengkerut ketakutan. Tapi pelayan itu juga kesal. Harus nya tuan besar nya tak perlu bertanya pada mereka, karena setiap nyonya nya ngambek dan menangis, pasti dirinya lah penyebab nya, tapi seolah mereka lah tersangka utamanya.


"Tuan..kami tidak tahu. Nyonya hanya mengumpat dan terus memaki, lalu mondar mandir gelisah dan terakhir tertidur di sini" terang Jarwo.


"Nyonya juga belum makan, beliau ga mau makan, walau sudah saya bujuk" tambah Mira memotong niat Bintang yang ingin bicara.


"Hufffh.. lalu siapa yang di umpat serta di maki istriku?"


Kedua pelayan itu diam. Aura ketakutan muncul di wajah mereka. Bagaimana mungkin mereka bisa jawab pertanyaan yang sama saja menghantarkan leher mereka ke tiang gantungan.


"Jawab!" bentak Bintang tidak sabar. Dia akan mencekik siapa pun yang membuat istri bersedih. Gue tebak, pasti si b*ngsat Elang itu yang buat Bee menangis..


"Itu.."


"Jawab!" hardik Bintang hingga membuat Mira terkejut, wajah begitu ketakutan.


"Nyonya memaki tuan" ucap Mira spontan, di dorong oleh rasa takutnya.


Wajah Bintang pias. Mau marah, tapi sama saja bertindak arogan karena pada dasarnya apa yang di katakan pelayan nya benar.


Bintang memutuskan untuk tidak memperpanjang sikap kurang ajar pelayannya. "Sayang, ayo bangun..aku pulang" ucap Bintang lembut.


"Eeeeeh..." wanita itu bergerak gelisah.


"Sayang..bangun dong" Bintang membelai pipi lembut Bee, mengecup kening wanita itu tak perduli ada dua pelayan yang jadi penonton.


"Bangun dong sayang.." Bintang masih sabar membujuk Bee untuk bangun. Perlahan gadis yang merasa tidur nya terganggu itu membuka matanya.


Amarah nya muncul saat melihat pria itu ada di hadapannya. Dengan kesal Bee menyingkirkan tangan Bintang yang masih membelai pipinya.


"Lepasin. Sana.. jauh-jauh dari aku" salak nya marah.


"Sayang..biar aku bantu" dengan sigap Bintang menyentuh pundak Bee ingin membantu wanita itu duduk, tapi Bee menyingkirkan kembali tangan kekar itu.


"Mira, tolong bantu aku ke kamar ya" pinta Bee menahan rasa sakit di bawah pusatnya. Rasa lapar juga semakin menyerangnya. Sedari tadi dia menahan diri untuk tidak makan, agar bisa makan bersama Bintang. Dia ingin sekali di suapi pria itu.


Pelayan itu seketika melirik pada Bintang seolah meminta persetujuan. Bintang mengangguk lemah.


Bintang bergegas ke dapur, mencuci tangan lalu menggulung lengan kemejanya. Dua koki yang bertugas di rumah itu, bergegas ikut masuk ke dapur. Dengan cekatan Bintang mengurus bawang cabe dan separuh tomat.


Bergegas Bintang membawa nampan itu ke kamar Bee.


Ckreek..


Pintu di buka, dan gadis itu sudah menutup dirinya dengan selimut tebal. "Bee..sayang" Bintang meletakkan nampan di atas nakas dan bergegas duduk di sisi tempat tidur.


Drama merayu istri yang sedang ngambek di mulai. "Bee, bangun sayang" Bintang hendak membuka selimut, tapi gadis manja nya sengaja menahan dari dalam.


Sebenarnya godaan untuk membuka selimut itu sangat besar terlebih aroma nasi goreng yang begitu nikmat menusuk penciumannya hingga membuat rasa lapar itu semakin menjadi-jadi. Tapi gengsi Bee saat ini bahkan lebih besar dari perutnya.


"Sayang, makan dulu ya. Aku minta maaf. Aku salah karena pulang lama. Kamu nungguin aku ya. Ayo dong Bee makan dulu, jangan ngambek lagi" Bintang mencoba sekali lagi membuka selimut yang di pakai Bee dan berhasil.


"Makan dulu ya?" pinta Bintang. Tapi gadis itu malah buang muka.


Sebenarnya tubuh Bintang sangat lelah satu harian ini. Harus nya dia yang di urus, di manja dan di perhatikan, tapi itu masih jauh dari hayalan nya untuk saat ini.


Bintang mengubah cara nya membujuk gadis itu. "Halo anak papa..lagi apa? kamu lapar ya nak? belum makan?" ucap Bintang membelai perut Bee, sementara gadis itu masih melihat ke arah lain.


"Dedek lapar ya? ajak mama makan yuk. Papa udah buat nasi goreng yang enak banget. Bujuk mama ya nak" ucap Bintang menciumi perut Bee yang membuncit. Hati gadis itu bergetar. Terharu oleh ucapan lembut Bintang pada anak mereka.


Melihat Bee masih tak bergeming, Bintang kembali melanjutkan komunikasi satu arah nya. "Bilang sama mama ya dek, papa minta maaf karena udah pulang terlambat. Papa banyak kerjaan. Papa salah, maafin papa ya. Bujuk mama makan dong dek" lanjut Bintang ber monolog ria.


"Sayang, kau boleh marah pada ku, tapi pikirkan anak kita. Dia pasti lapar dan sedih kalau sampai mama nya tidak makan" ucap Bintang mengelus pipi seputih gading itu.


Air mata Bee menetes jatuh membasahi telunjuk Binatang.


"Jangan menangis sayang..aku mohon" bisik Bee memeluk gadis itu. Pelukan hangat yang menggoyahkan jiwa. Bee memutar tubuhnya hingga wajah nya menghadap dada pria itu. Tak lama isak nya terdengar.


"Sudah sayang..jangan nangis lagi. Nanti kepala mu pusing Bee. Kasihan anak kita, dia akan sedih kalau kamu sedih. Kita makan dulu ya" ucap Bintang menarik dagu gadis itu menatap mata sayu Bee. Samar gadis itu mengangguk.


Hanya butuh kurang dari sepuluh menit nasi goreng itu sudah ludes. Bahkan Bee merasa kurang. "Masih mau lagi"


"Aku buat kan lagi?" tanya Bintang tersenyum.


"Besok aja" jawab nya malu.


Setelah selesai membersihkan tubuhnya, Bintang naik ke tempat tidur tempat sang istri sudah menunggunya.


"Sayang, sebelum kita tidur, ada yang ingin aku sampaikan"


Bee bergerak maju, melihat wajah Bintang. Perasaan nya kembali tidak tenang.


"Sayang, besok aku akan berangkat ke Lyon Perancis selama lima hari untuk membicarakan kerjasama kita dengan rumah mode di sana"


Air wajah Bee berubah. Tentu itu kabar yang tidak menyenangkan buatnya. Entah mengapa belakang ini dia begitu ingin terus berada di dekat Bintang.


"Aku ingin mengajak mu, tapi saat ini kau hamil tua, dan tidak mungkin melakukan perjalanan jauh. Aku janji akan secepatnya menyelesaikan pekerjaan dengan cepat agar bisa segera pulang"


Bintang bisa melihat kesedihan di wajah gadis itu. Seandainya bisa, dia tidak ingin pergi, tapi nyatanya, CEO perusahaan itu ingin bertemu langsung dengan nya.


"Jangan sedih sayang. Besok sebelum berangkat, aku akan mengantar mu ke rumah ibu ya, agar kamu tidak kesepian selama aku tidak ada" Bintang bersuara meyakinkan istrinya bahwa semua akan baik-baik saja.