Sold

Sold
Larangan



Tiga hari di rumah sakit, dokter sudah mengizinkan Bee pulang.


Acara penyambutan sederhana pun di lakukan para ART di bawah arahan pak Jarwo, Bee begitu terharu atas perhatian dan kehangatan yang coba mereka tunjukkan.


Tak sampai disitu perhatian yang di terima Bee, mertua nya juga menawarkan diri untuk tinggal di rumah mereka selama seminggu untuk membantu Bee mengurus Sagara kecil. Bu Salma paham Bee yang masih muda pasti kikuk dan kebingungan untuk mengurus anak nya nanti.


Jadi lah hari-hari Bee beradaptasi menjadi mama muda. Selama ibu mengajarinya, rasa antusias dan mau belajar Bee membuat mertua nya salut pada gadis itu.


"Saga belum kenyang ya?" ucap Ibu pada bayi itu mendengar tangis nya yang begitu kencang. Tubuh Saga memang tampak sehat karena bayi itu begitu suka dan kencang nyedot ASI nya.


Bahkan p*ting Bee kini luka karena Saga yang kalau nyusu suka lama. "Apa ASI aku kurang yang ma? Saga ga kenyang-kenyang juga" ucap Bee mengayun-ayunkan tubuh saya agar berhenti menangis.


"Saga nya biar ibu gendong dulu ya.." Bee menyerahkan bayi nya di bawa ibu, tak lama ibu masuk lagi bersama Bintang.


"Kau bantu Bee. Ambil kain ini, peras dengan air hangat dan pijat dadanya, sesekali kamu isap p*ting nya biar ASI nya banyak keluar" terang ibu.


"Hisap p*ting Bu?" tanya Bintang malu, begitu pun Bee, wajah nya sudah seperti kepiting siap santap.


"Iya, hisap, kenapa? jangan sok ga tahu cara nya!" ibu sudah berlalu dan menutup pintu kamar meninggalkan ke dua nya.


Moment awkward terjadi diantara mereka. Saling tatap dan terselip senyum malu.


"Jadi..ini gimana?" bisik Bintang.


"Ya lakukan apa kata ibu, kak" jawab Bee tak kalah pelan.


Mulai lah Bintang memijat dada Bee dengan lembut dari kulit atas hingga ke bawah. Berulang-ulang hingga membuat Bee memejamkan mata.


"Bee, aku hisap ya.." samar Bintang melihat anggukan Bee hingga pria itu mulai mencercap. Perasaan geli menyerang Bee oleh kesibukan Bintang saat ini, hingga Bee harus meremas seprei dengan kuat, sebagai pertahanan dari mulut nya untuk tidak mendesah.


"Kak.." bisik nya lebih ke erangan tertahan. Bagaimana pun jangan sampai mertua nya mendengar suara nya.


"Ka-kak.." ulang nya. Suhu tubuhnya serasa semakin panas perlahan.


Si mesum Bintang justru asik hingga Bee menarik rambutnya. "Bee.."


"Gimana rasanya? iuyeuh..itu ASI kak, kok sampe di telan sih?"


"Enak Bee manis kayak rasa susu almond tapi agak sedikit creamy" ucap nya melap mulutnya.


"Dasar aneh. Bee tersenyum geli melihat ekspresi polos wajah suaminya. Bee terpekik, Air susu itu semakin banyak keluar bahkan tanpa di sedot, muncrat hingga dasternya basah.


"Aku sedot lagi ya.." tawar Bintang.


"Ga..ini buat Saga. Cepat panggil ibu bawa Saga kemari" pinta Bee malu.


Bintang setia di samping Bee. Menemani Bee mengasihi anak mereka. Rasa nya damai dan menyenangkan melihat pemandangan itu. Bee yang mendekap bayi mereka, mengayunkan tubuhnya pelan agar Saga terlelap.


Bee bak gambaran Dewi yang begitu cantik sedang memberikan kehidupan bagi bayi mungil itu.


Mama..mama lihat aku kan dari surga. Ini anak aku ma, ternyata begitu besar perasaan yang berkembang setelah jadi seorang ibu. Aku mengasihi anak ku, seperti aku yakin mama juga dulu melakukannya padaku..


Bintang melihat air mata Bee yang tumpah, segera menyentuh lengan wanita itu dan menghapus air mata gadis nya. "Ada apa sayang? apa sangat sakit?" tanya Bintang yang menganggap air mata Bee karena merasa sakit pada p*ting Bee lagi.


"Dia begitu menggemaskan. Terimakasih sayang. Sekarang kamu istirahat" ucap Bintang mencium kening Bee.


Setiap hari tante Diana juga datang membantu mengurus Saga. Semua antusias, gembira berada di dekat bayi itu. Seminggu yang di janjikan ibu untuk tinggal membantu, nyatanya berjalan hingga dua Minggu lebih.


Katanya ibu berat untuk berpisah dengan Saga. Tapi ibu juga sadar, Bee dan Bintang perlu privasi agar terbiasa untuk melatih diri menjadi orang tua.


Akhirnya ibu memutuskan untuk pulang. Tapi berjanji akan datang sekali dua hari untuk melihat Saga.


Berkat mertuanya, Bee sudah cekatan memandikan Saga. Walau Bintang menyediakan dua suster untuk merawat dan menjaga anak sultan itu, tapi Bee ingin merawat Saga sendiri dan menghabiskan lebih banyak. Dalam hatinya seperti diburu waktu seolah akan tiba waktunya hanya memiliki sedikit waktu dengan Saga.


Pengajuan cuti kuliah nya selama satu semester akan berakhir dalam tiga bulan lagi, dan dengan waktu itu dia akan memberikan perhatian dan kasih sayang sebanyak yang Saga bisa terima dari nya.


Malam setelah Saga tertidur dengan perut kenyang nya, Bee mengambil waktu untuk diri nya sendiri, berbaring di kasur empuk nya, memejamkan mata. Sudah pukul tujuh malam, dan Bintang belum pulang juga.


Bunyi dering ponselnya membuat Bee membuka matanya. Nama di layar ponsel itu membuat nya menyunggingkan senyum nya.


"Hai.." sapa Bee manja saat wajah Elang muncul di layar.


"Hai cantik..apa kabar?"


"Baik. Kamu udah di Jakarta? gimana tour nya?" tanya Bee membenarkan punggungnya agar bisa lebih nyaman.


"Yah..begitulah. Aku baru sampai subuh tadi, ini baru bangun dan langsung menghubungi mu"


"Apa kamu merindukan ku?" tanya Bee tertawa renyah.


"Tentu saja sayang. Kangen banget. Kapan kita akan bertemu?" tanya Elang sembari menguap.


"Maaf sayang, mungkin tidak dalam waktu dekat ini. Aku..aku..baru saja melahirkan"


"Kamu..kamu udah melahirkan? katakan anak itu laki-laki" ucap Elang sedikit terkejut. Menahan nafas saat menunggu jawaban Bee. Ketika anggukan gadis itu muncul, baru lah Elang bisa menghembuskan nafasnya.


"Bagus.. berarti tugas mu sudah usai. Segera minta cerai dari nya Bee" lanjut Elang bersemangat. Kini wajah nya berbinar sementara wajah Bee yang meredup.


"Lang..dengar, aku tidak bisa minta cerai sekarang. Anak ku masih kecil Lang. Dia masih butuh ASI dari ku" ucap Bee lemah, berharap kekasihnya itu bisa mengerti.


"ASI? jadi kau menyusui anak itu? kau ini gila atau apa? dia itu anak nya Bintang Danendra, musuh kit!"


"Tapi dia juga anak aku, Lang. Dia terlalu kecil untuk di salah kan atas semua ini" Bee hampir saja putus asa menjelaskan pada pria itu. Naluri keibuannya tidak mengizinkan dirinya menyia-nyiakan putranya.


"Aku ga mau tahu, jangan berikan ASI mu pada anak itu. Nanti dada mu jelek. Aku tidak izinkan Bee. Kau dengar?" salak nya.


Si bodoh Bee hanya diam. Ingin sekali rasa nya membantah, tapi kenapa berat?


"Kau dengar aku? atau aku perlu datang ke rumah itu untuk menyeret mu? membuat keributan?" ancam nya.


"Jangan..jangan Lang. Aku mohon" Bee menghapus air matanya.


"Jadi kau tidak akan memberikan ASI pada anak itu kan?" dengan lemah Bee mengangguk.


"Satu hal lagi, segera diet dan kembali kan bentuk tubuh mu. Aku tidak mau punya pacar yang gendut seperti ibu-ibu!"