Sold

Sold
Insiden menjelang pernikahan



Seperti yang diinginkan ibu, pernikahan Bee dan Bintang di gelar besar-besaran. Hampir semua media televisi menyiarkannya. Tujuan ibu agar semua orang mengenal menantunya, hingga siapa pun yang punya niat buruk untuk kedua nya berpikir ulang.


Pernikahan pertama Bee dan Bintang dulu, mereka lalukan hanya demi perjanjian bodoh mereka, tanpa diketahui ibu. Menyimpan dari publik hingga muncul orang-orang yang berniat menyusup dalam rumah tangga mereka.


"Apa semua sudah siap? acara akan di gelar sebentar lagi," ucap ibu masuk ke kamar yang di jadikan tempat Bee di rias. Ada tante Di dan juga Kinan bersama teman Bee yang lain.


"Ini sudah Bu. Bee cantik kan Bu?" tanya Kinan yang sedari tadi duduk di dekat Bee.


"Iya, dia cantik. Hatinya pun cantik," ucap Ibu membelai pipi Bee. "Dan kau, ibu minta jangan kelelahan, karena bulan depan giliran mu jadi pengantin."


Kinan hanya tersipu malu. Harusnya pernikahan mereka dilakukan bersamaan hari ini, tapi Bintang protes. Dia tidak ingin momen bahagia nya ini harus terbagi perhatian tamu undangan karena ada dua pasang pengantin.


Tidak ada yang bisa membantah permintaan ketua. Raja tega itu tidak perduli, jika ibu mengeram kesal.


Acara akan dimulai. Bee dibantu keluar untuk menemui Bintang yang untuk kedua kali mengucapkan sumpahnya atas diri wanita itu.


"Kau sempurna..cintaku. Akhirnya aku bisa membawamu kembali ke sisiku" bisik Bintang setelah Bee di dudukkan di sampingnya. Tidak ada satu katapun yang terlontar dari mulut Bee. Hati yang berdebar kencang sudah menjadi jawaban apa yang dia rasakan saat ini.


Acara sakral itu pun selesai, dan semua anggota keluarga bersiap memasuki ballroom yang sudah ramai oleh tamu undangan yang menyaksikan hiburan dari artis yang diundang.


"Gue patut bangga ya sama hasil karya tangan gue. Lo cantik banget nek" ucap Seba saat mengganti pakaian Bee untuk kedua kali nya.


"Iya kak. Makasih banyak ya kak. Aku suka banget gaun nya" ucap Bee memeluk Seba senang. Tapi pelukan itu buru-buru di lerai paksa oleh Bintang yang baru masuk ke ruangan make up.


"Au...apa sih bos, sakit tahu" rungut Seba menggosok tangannya bekas cubitan Bintang.


"Rasain. Siapa suruh lo meluk istri gue!" hardiknya menarik tangan Bee untuk kembali ke pelaminan. "Masih disitu lo? bantuin ngangkut gaun nya"


"Kak, ga boleh gitu ah sama kak Seba. Dia itu udah banyak ngebantu aku"


"Jangan ajak aku ngomong. Aku lagi marah sama kamu" ucap nya tetap menggandeng Bee pergi.


"Sama aku? kenapa? aku salah apa?"


"Salah apa? baru beberapa jam lalu kita sah jadi suami istri, kami udah meluk si gendut!"


"Astaga kakak.." ucap Bee menutup mulut tidak percaya atas apa yang dia dengar. Semakin hari sikap Bintang benar-benar kekanakan.


"Hei..asal yei tahu ya bos. Gue ga nepsong sama kue apem, gue doyan sama pisang raja!" salak Seba dari belakang. Kesal melihat tingkah Bintang yang berlebihan menjaga Bee.


Gue udah lama ngikut lo bos, ga pernah gue lihat se bucin ini sama cewek..semoga lu berdua bahagia deh ye..


"Woi, malah bengong di sana. Ayok" lanjut Bintang mengusir lamunan Seba.


Acara itu terus berlanjut hingga malam. Suasana semakin riuh, acara dansa dimulai oleh pertunjukan pengantin yang menjadi bintang di lantai dansa.


"Bahagia. Sangat. Walau papa sempat marah tadi. Apa kau memarahi papaku karena marah dan memakimu tadi?"


Sempat terjadi insiden kecil sebelum acara berlangsung. Pagi ini Hutomo tiba di Jakarta yang langsung di jemput Riko.


Dengan waktu yang singkat, om Edo menjelaskan perihal rumah tangga mereka yang sempat berakhir dan kini ingin menikah kembali.


Merasa tidak dihargai dan sudah menyia-nyiakan putri nya, Hutomo menolak untuk menikahkan putrinya kembali dengan Bintang.


Ruangan yang kini sudah di isi semua anggota keluarga inti kedua belah pihak semakin membuat suasana terasa panas.


"Saya tidak menyetujui pernikahan ini!" suara Hutomo keras dan tidak terbantah. Bee bahkan sudah menangis di sudut ruangan tempat nya mencuri dengar perdebatan itu.


"Jangan begitu mas Hutomo, bagaimana pun ini demi kebahagiaan anak-anak kita" sahut ibu Salma menenangkan. Dia paham perasaan Hutomo yang seolah tidak dianggap.


"Pokoknya saya tidak setuju. Hari ini juga saya akan bawa putri saya dan juga cucu saya kembali ke Pekanbaru. Dulu saya menerima permintaan nya untuk menikahi Bee, karena saya pikir dia orang yang tepat untuk menjaganya, menyayanginya, bukan malah menyia-nyiakan putri saya" Hutomo sudah berdiri dan akan pergi.


Semua panik, terutama Bintang. Penghulu sudah menunggu di ruang sebelah tempat mereka akan mengucapkan janji suci. Kalut akan ketakutan kehilangan Bee membuat emosi Bintang tidak terkendali.


Ga, gue ga bisa kehilangan Bee lagi..


"Anda tidak bisa membawa Bee pergi, begitu pun Saga" ancam Bintang mengepal tinju.


"Kenapa? apa karena kau punya uang dan kuasa hingga saya harus tunduk. Tidak untuk hari ini. Saya tidak takut. Bagi saya yang terpenting adalah kebahagiaan putri ku"


"Aku tidak main-main. Selangkah saja anda membawa Bee keluar dari tempat ini, akan aku hancur kan semuanya, dan anda tidak akan bisa keluar hidup-hidup!"


"Bintang, jaga sikap mu!" ibu ikut panik akan tempramen anaknya. Dia tahu, Bintang serius dengan ucapannya.


"Silakan, bunuh saya. Tapi saya tidak akan memberikan putriku. Bee, keluar, ayo kita pulang. Kalau kamu masih menganggap ku papa mu, ayo kita pulang nak" ucap nya mencari Bee dengan matanya.


Terisak Bee keluar dari persembunyiannya. Dia bahkan sudah mengenakan riasan dan pakaian pengantin. Begitu cantik dan anggun. Mata Bintang bahkan tidak bisa berpaling dari wajah yang begitu dia cintai itu.


"Papa.."


"Kita pulang" Hutomo sudah menarik tangan Bee. Tapi Bintang tidak terima lalu menarik Bee paksa, dan berdiri di depan Hutomo, menjadi benteng bagi tubuh Bee. Hati gadis itu hancur atas pertikaian kedua pria yang sama-sama dia kasihi itu.


Tidak terima perlakuan Bee, Hutomo sudah bersiap menghajar calon mantunya, menarik kerah kemeja pria itu.


"Papa, lepaskan, aku mohon jangan bertengkar" Hutomo melepas genggaman nya pada Bintang, saling tatap. Bintang sendiri sudah sangat ingin melepas tinjunya untuk pria tua itu, tapi adanya Bee membuat hal itu tidak mungkin.


"Ayo pulang Bee," pinta Hutomo lembut. Bee menatap papa dan Bintang bergantian lalu mengangguk lemah ke arah papanya.


Untuk apa menikah kalau tanpa restu papanya. "Tapi Bee, pernikahan kita?" Jantung Bintang sudah berdebar kencang. Jika pernikahan nya gagal kali ini, mungkin untuk melihat matahari terbit besok pun dia sudah tidak ingin.