Sold

Sold
Ada yang naksir



Sebulan dua kali, tante Di pasti mengajak Bee untuk shopping ke mall, membeli segala keperluan nya. Tante Di tak ingin, Bee ketinggalan modis dari teman sebayanya. Jika anak-anak ABG biasanya sudah mulai berdandan jika pergi ke sekolah, Bee sama sekali tak tertarik. Satu tahun bersekolah di Angkasa Biru, tidak mengubah kepribadian Bee yang sederhana, hingga tante Di kadang putus asa. Secara tampilan, Bee memang sudah banyak berubah, dari ujung rambut hingga ujung jari kaki, Bee sangat cantik, kulitnya juga terawat, namun semua itu berkat usaha dan juga omelan tante Di, yang akan marah jika Bee lupa untuk maskeran seminggu tiga kali.


Dua Minggu sekali, selain shopping, tante Di juga membawa Bee ke salon ke cantikan, walau pun kadang Bee harus pura-pura tidak enak badan agar tidak jadi pergi ke salon yang begitu membosankan bagi nya karena harus menghabiskan waktu berjam-jam.


"Mama, biarin aja. Bee sekarang makin cantik kok, penampilannya juga udah modis, mama mau apa lagi? jangan paksa Bee ngikutin kemauan mama terus, kasihan Bee, ma" ucap Om Edo membela Bee Minggu pagi itu, saat ada drama penolakan ke salon.


"Iya ma, kakak Bee kan mau main sama Niko, kita mau pergi ice skating an ke mall" lanjut Niko membela kakak tersayang nya.


"Kalian bertiga selalu begitu, kompakan ngebantah mama.." ucap tante Di terisak. Mulai lah, drama keluarga yang ga penting. Tante Di akan berperan sebagai ibu yang teraniaya. Terus terisak, hingga ketiga nya saling memandang, dan bibir komat Kamit.


"Udah deh Bee, ngalah aja" gerak bibir om Edo di tangkap Bee.


"Iya kak, lain kali aja deh kita main skating nya" kembali bibir Niko yang seolah baca mantra.


Hufff..Bee kembali menarik nafas. Harus jadi gadis penurut agar tante Di senang. Walau pun dia tahu, maksud tante Di untuk kebaikan nya juga.


"Kita berangkat sekarang tan?"ucap Bee merangkul pundak tante Di dari belakang.


"Ok.."secepat itu wanita separuh baya itu. Memutar tubuhnya agar menghadap Bee, lalu melepas senyum penuh semangat. Benar kan..hanya drama..


Tinggal di rumah tante Di, lambat laun membuat Bee tidak kesepian, dan tak lagi merindukan kampung halamannya. Walau pun posisi ke tiga sahabatnya tak akan terganti di hatinya, namun Kiki punya tempat tersendiri di bagian hati nya juga.


Saat naik kelas dua, mereka masih satu kelas, dan setelah memohon pada Bee agar tetap jadi teman sebangkunya, Bee menyetujui. Walau tanpa memohon pun, Bee tetap akan memilih Kiki untuk jadi teman sebangku nya dari pada teman yang lain.


Kedua gadis belia itu pun semakin akrab. Kadang, Kiki akan menghabiskan malam minggunya untuk nginap di rumah Bee, atau sebaliknya, Bee yang akan main ke rumah Kiki, walau pun tidak menginap, karena om Edo tidak mengizinkannya. Tentu saja alasan khawatir akan keselamatan Bee yang membuat om Edo tak memberi izin.


Dan hal terbaru yang terjadi, kakak satu-satunya Kiki, Kiano menyukai dirinya. Setiap Bee main ke rumah mereka, Kiano akan semangat menemani Bee untuk bercerita tentang apa saja. Bee mudah akrab dengan Kiano, karena cowok itu pintar, serta bukan tipe cowok yang suka pecicilan. Gayanya cool, dan salah satu mahasiswa jurusan hukum di kampus biru dengan IP tinggi.


Mungkin karena otak nya yang encer, masalah keluarga tidak mempengaruhi nilai nya di kampus. Berbeda dengan Kiki, gadis itu bukan kategori cewek pintar, tapi ga bodoh juga, orang bilang so-so lah. Lebih suka seni dari pada berkutat dengan ilmu pasti.


"Hai Bee, udah lama ga main ke mari" suara Kiano mengejutkan nya, hingga sesaat mengalihkan tatapannya dari layar ponsel. Sementara dia duduk di ayunan taman rumah mereka, Kiki lagi di kamar, mandi gerah katanya.


Baru lah setelah putus dari Lani, kini Kiano berani untuk mendekati Bee. Yah, walau belum berani nembak juga. Semenjak itu mereka kian kompak, saling bercerita, Bee merasa nyambung dengan Kia, serasa satu server, cepat connect!


"Kenapa lu di panggil Bee sama keluarga lu?" tanya Kia mendengar tante Di berbicara pada Bee, saat mampir sebentar sehabis jalan berdua ke toko buku. Awal mereka jalan berdua tanpa Kiki, dan ini pure cuma cari buku.


"Panggilan gue dari keluarga sama teman-teman dekat di kota kelahiran gue, manggil gue Bee" ucap nya tersenyum manis. Kadang merasa lucu dengan nama panggilannya. Lebah..karena dia memang seperti lebah, ribut.. ga bisa diam.


"Kalau gitu, gue juga bakal manggil lu Bee aja"


Semenjak itu Kiano dan juga Kiki yang ikut-ikutan, memanggil Bee pada gadis yang bernama lengkap Bellaetrix Elaina, si Bintang yang bercahaya terang.


"Iya, baru dari kampus. Kok sendiri? si ceman mana?" tanya nya melihat kesendirian Bee.


" Lagi di atas Kya, lagi mandi.."


"Bee, Sabtu nanti lu sibuk ga?ikut gue ke suatu tempat yuk?sambungnya lagi saat pertanyaan pertamanya di jawab Bee dengan gelengan.


"Kemana?" tanya nya antusias. Bee sangat percaya pada Kia, kenapa bisa segitu percayanya? dia sendiri ga tahu, yang pasti saat bersama Kia dia merasa aman dan nyaman.


"Suatu tempat, pasti kamu suka"


"Ok" Bee menyatukan jari jempol dan telunjuknya, membentuk lingkaran, dengan sisa jari yang lain berdiri ke arah Kiano yang di sambut anggukan.


"Wayo..ngomongin gue ya?" suara manja dari belakang memutus pembicaraan mereka.


"Idih, si ceman, ge-er bet sih lu dek" ucapnya mengacak rambut Kiki lalu beranjak masuk.


Kiano sosok pria yang penuh kasih. Sebagai anak pertama, sekaligus anak laki-laki satu-satunya di keluarga itu, dia selalu berusaha menjaga dan menyayangi kedua wanita yang paling dicintai dalam hidup nya, yaitu mama dan adik ceman nya. Ejekan untuk Kiki, yang memang berkarakter cengeng dan manja.


Sementara sang ayah, kini sudah tinggal bersama istri mudanya, walau pun masih menanggungjawabi segala keperluan mereka bertiga, dengan rutin setiap bulannya mentransfer ke rekening masing-masing. Tapi toh, mama nya tak perduli, karena pada dasarnya, mama nya punya usaha bakery yang cukup laris yang mampu mencukupi kebutuhan mereka.