
"Gila ya, kita jadi harus ngebersihkan WC kayak gini. Padahal gue ada janji buat ketemu cem-ceman gua" umpat Kiki kesal.
"Sabar deh Ki. Gue minta maaf ya, Lo jadi ikut susah" sahut Bee menumpukan dagu di ujung gagang kain pel sembari menatap sahabatnya.
"Bego. Bukan salah Lo"
Bel tanda kelas masuk sudah berbunyi untuk mata pelajaran pertama. Dan hari ini menjadi hari terakhir dari hukuman mereka yang di berikan kepsek.
"Yuk ah..kita tinggalkan penjara kita selama seminggu ini" ucap Kiki meletakkan kain pel.
Bu Tuti guru bahasa Indonesia pada jam pelajaran pertama sudah berada di dalam kelas saat mereka tiba.
"Ya masuk" ucap Bu Tuti membuka lembar buku yang akan diajarkan hari ini.
Jam pelajaran bahasan Indonesia beda tipis dengan pelajaran sejarah dalam hal membuai siswa untuk jatuh kepelukan mimpi.
Hoaaam.. ini kali ketiga Kiki menguap, yang merembet pada Bee. Pagi-pagi membersihkan WC guru, membuat tubuh sedikit lelah hingga mengantuk. Jesi dan kedua temannya mendapat giliran membersihkan taman hari ini.
"Gila, gue ngantuk banget. Padahal ini masih jam pertama" bisik Kiki dan sekali lagi menguap.
"Gue pengen banget cabut, terus tidur di kasur gue yang empuk. Seandainya ada keajaiban" lanjutnya mencoret-coret buku nya.
Sepertinya hari ini Tuhan sangat sayang pada Kiki. Tak lama pintu ruang kelas terbuka. Seorang tata usaha datang dan memberitahukan kepala sekolah meminta semua guru untuk ikut rapat mengenai kesiapan ujian anak-anak kelas tiga sekaligus rapat mengenai sekolah mereka yang menjadi tuan rumah pertandingan basket antar sekolah se rayon dan agar semua siswa di perbolehkan pulang.
Sorak Sorai semua siswa mulai terdengar walau belum secara resmi di umumkan Bu Tuti.
"Yes..thanks God..gila doa gue terkabul. Ke rumah gue yok. Lo udah lama lagi ga main ke rumah gue"
Apa yang dikatakan Kiki benar. Dia sudah lama tidak ke rumah itu. Terlebih saat ini Kia sudah tidak tinggal lagi di sana. Kiki bilang, Kia menolak untuk memakai duit ayah nya yang masih memilih mempertahankan wanita simpanan nya. Kalau pun dia pulang ke rumah, dia juga akan mati bosan, karena Bintang pasti sedang di kantor.
"Yuk lah.." ucap Bee bersemangat merangkul pundak Kiki.
Rumah besar itu masih terlihat sama, hanya saja sudah tidak ada kehangatan tercipta lagi di sana. Dulu tante Mery, mama nya Kiki suka menjamu Bee setiap kali singgah main. Tapi saat ini seperti kata Kiki, tante Mery di rumah Oma nya di Jogja. Sementara Kia masih tak jelas tinggal dimana. Tapi kata Kiki, pria sering menghubungi nya. Menyatakan tak perlu khawatir, dia tetap kuliah sambil kerja. Dan kini kos masih tetap di daerah dekat kampus nya.
"Lo pasti kesepian ya Ki" celetuk Bee merebahkan tubuhnya di kasur empuk itu.
"Ga kok. Nyokap besok juga balik. Kalau bokap, ga usah di tanya, masih nyaman sama selingkuhannya" ucap Kiki. Kalau bagi Bee hal itu tampak menyedihkan, tidak bagi Kiki. Dia sudah terbiasa untuk mengatakan hal itu. Tidak menyakitkan lagi buatnya.
"Ki, sebenarnya Lo gimana sih sama gebetan Lo. Udah jadian?" ucap Bee mengalihkan pembicaraan.
"Belum. Gue sosor aja dia. Ya walau dia udah suka sama yang lain, tapi gue ga bakal menyerah" Kiki cekikikan melihat reaksi Bee yang tampak aneh menatap nya.
"Gatalnya gue? ga papa deh. Selagi dia belum nikah" sambungnya.
Dua jam keduanya sibuk dengan tontonan drama Korea mereka. Bungkus cemilan berhamburan di lantai begitu pun tisu yang bekas mengeringkan air mata dadakan beserta ingus.
"Bosan gue. Oh iya, bentar ya.." tanpa menunggu jawaban Bee, Kiki berlari keluar kamar. Lalu tak berapa lama kemudian muncul diambang pintu dengan senyum aneh yang biasa menghias wajahnya kala ada sesuatu yang menggelikan baginya.
"Taraaaaaa.." Kiki menengadahkan telapak tangannya kehadapan Bee berikut satu buah flashdisk di atasnya.
Bee mengerutkan keningnya, tak mengerti maksud sahabatnya.
Malas menjelaskan, Kiki langsung mengambil tempat tepat di sebelah Bee. Memasukkan Flashdisk ke sisi laptopnya. Mengutak atik beberapa file. "Ngapain?" tuntut Bee ga sabaran.
"Kita ngeb*kep, yang" ujarnya mengedipkan mata. Membuat raut wajah geli.
"Ga ah..matiin deh"ucap Bee menolak.
"Please deh Bee. Kita nonton ya, satu film aja."
"Dapat dari mana?" delik Bee.
"Hehehe..kamar abang gue"
Akhirnya kedua gadis itu menghabiskan sore mereka dengan menonton film dewasa. Janji awal hanya satu, tapi nyatanya mereka menghabiskan dua jenis film. Sebenarnya yang mereka tonton itu film semi. Yang punya alur cerita, tidak monoton hanya mempertontonkan kegiatan iya-iya saja.
Pada saat menghabiskan film kedua yang berjudul 365 day, Kiki bahkan menangis saat melihat endingnya sang pemeran wanitanya mati.
Pukul lima sore Bee pamit pulang. Sepanjang jalan adegan mesra di film itu seolah terus berputar di kepalanya. Jantung nya berdetak begitu kencang. Dan tubuhnya terasa panas. Bahkan miliknya seolah ngilu. Cepat-cepat di gelengkan kepalanya agar bayangan di film itu hilang.
"Sampai rumah gue harus berendam nih, biar pikiran jorok gue hilang" batinnya.
Tapi setelah berjam-jam lama nya berendam, yang ada kulit jarinya yang keriput. Tapi bayangan sang aktor menyentuh wanitanya membuat Bee kembali panas dingin.
Aduh gimana nih kok gue malah pengen begituan sih?
Tok..tok..tok..
Suara ketukan setidaknya mampu mengalihkan pikirannya untuk hal itu.
"Masuk.."
"Maaf Nya, tuan sudah menunggu untuk makan malam" ucap Mira.
"Oh..iya.." Bee berjalan mengikuti langkah Mira. Satu pemikiran membuatnya menegakkan kepalanya yang berjalan menunduk sedari tadi.
"Mir, kamu duluan. Bilang sebentar lagi aku turun" ucap Bee berbalik arah menuju kamar ya lagi. Tujuan utamanya lemari pakaian. Bee mengganti pakaiannya dengan gaun baby doll peach nya. Lalu berputar di depan cermin. Bagian dada gaun itu memang sedikit lebih rendah, tapi toh dia hanya di rumah saja. Bee tersenyum kala melihat penampilannya tampak sempurna. "Ini sebagai pelengkap.." cicitnya mengaitkan kalung yang diambil dari box nya. Yang sudah lama dia simpan sejak pria yang kini berstatus suaminya itu memberikan padanya.
"Hai.." sapa Bintang saat Bee sudah duduk di sampingnya.
"Hai...udah lama kakak pulang?" tanya nya membalikkan piring Bintang dan mengisi sedikit nasi.
Mata Bintang terkunci pada penampilan menggemaskan sekaligus menggoda Bee. Tampak polos sekaligus menawan. Lalu tatapannya jatuh pada kalung yang melingkar di leher Bee. Dan senyum berkembang di bibirnya.