
Kursi yang di tendang Piter berderit, membuat Kikan yang baru saja mengantar Kirei pulang sampai di meja Nita.
"Kenapa sih kamu pake acara maafin dia segala?" tuntut Piter kesal. Keinginannya untuk memasukkan Kirei dalam bui sangat besar.
"Terus, kalau dia sudah masuk penjara seperti mau mu, anak kita balik lagi? Jujur aku terpukul mengetahui kecelakaan itu karena ada nya sabotase dari mantan pacarmu, tapi aku lebih kasihan melihat dia. Aku bisa memaafkannya, tapi hatinya tidak akan pernah tenang karena kejahatan yang sudah dia lakukan" Kinan duduk setelah membenarkan posisi kursi yang sempat di tendang Piter tadi.
"Hati ku ga seluas hati mu. Aku ingin dia merasakan sakit yang kita alami" Piter menatap tajam pada Kinan, mencoba mengajak gadis itu menyesalinya keputusannya tadi.
"Ini bukan masalah hati yang luas atau tidak, tapi memaafkan. Karena dia melakukan itu juga karena mu"
Kalimat itu berhasil membungkam mulut Piter. Kinan benar, dia juga salah di sini. Piter menarik kursi yang di duduki Kinan, menjepit paha gadis itu dengan pahanya.
"Aku begitu bangga bisa memiliki wanita seperti mi di sisiku. Kalau kau bilang kita harus melupakan masalah ini, maka aku akan mengikuti ucapan mu" tangan Piter terulur membelai lembut pipi Kinan.
"Terimakasih" balas nya sambil berbisik.
"Tapi hati ku tidak akan bisa menerima kau dekat dengan asisten kep*rat mu itu" Piter kembali ke tujuan awalnya datang ke sini. Di perjalanan tadi, dia sudah memikirkan jika melihat Kevin masih ada di sini bersama Kinan, dia akan memukul pria itu.
"Aku bisa apa? papa menugaskan nya untuk selalu berada di sampingku, agar bisa mengawasi ku, kalau-kalau kamu mendekati ku lagi" ucap Kinan bermain dengan dasi Piter.
Hubungan mereka rasa nya berjalan di tempat. Setiawan masih saja kekeuh memisahkan mereka.
"Apa kita kawan lari aja Nan?"
Bola mata Kinan membulat. Tidak percaya pria itu bisa mengatakan hal yang tidak masuk akal lagi."Ga mau. Aku mau kita nikah setelah me dapat restu dari papa"
Piter menyandarkan punggungnya. Kalimat Kinan barusan membuat nya semakin lesu. Bagaimana mungkin mendapatkan restu Setiawan? kalau begini adanya, bisa-bisa mereka tidak akan menikah.
***
Kinan masih heran, kenapa selama dua hari Kevin tidak muncul di kantor, papa nya juga tidak terlalu ketat mengawasinya. Bahkan sudah seminggu ini, dia bisa kencan dengan Piter. Kini mereka seperti pasangan pada umumnya. Makan, nonton dan sesekali Kinan akan datang ke apartemen mereka. Tempat dimana barang-barangnya masih ada di sana. Sekedar untuk merapikan tempat itu, menunggu Piter pulang dan menyiapkan makan malam untuk nya dan ya..walau akhirnya pakaian Kinan akan aut-autan, bahkan sampai terlepas.
Kinan sudah memperingatkan Piter, dia boleh melakukan apa saja pada tubuh bagian atas, tapi tidak yang bawah. Dan Piter sudah cukup puas akan hal itu, walau untuk sekarang ini saja.
"Papa mana bi?" Kinan sudah selesai dengan ritual memanjakan kulit nya dan turun mencari papanya.
"Ada di ruang kerja non"
Pria itu ada di sana, duduk di meja kerjanya. Entah apa yang sedang di tulis, tapi kedatangan Kinan membuatnya menutup laptop yang sejak tadi dia amati.
"Papa lagi apa? makan malam udah siap, ayo kita makan"
"Firasat aku ga enak. Papa jangan aneh-aneh deh" rengek Kinan merasa takut.
"Ga aneh. Papa cuma minta satu hal pada mu sebelum papa mati"
"Papa, aku ga mau dengar omongan begitu. Papa akan sehat, panjang umur" Kinan berpindah tempat, duduk di samping Setiawan dan masuk dalam pelukannya.
"Papa ingin kamu menikah dengan Kevin. Hanya setelah kamu menikah dengan nya, papa akan tenang" air mata Setiawan jatuh setitik di sudut matanya.
"Papa, aku mohon, jangan begitu. Aku mencintai Piter, pa" Kinan semakin tersudut. Dia ingin mengabulkan apa pun permintaan papanya, tapi tidak untuk meninggalkan Piter.
"Tidak. Papa tidak akan setuju kamu kembali pada pria brengsek itu, lebih baik papa mati, dari pada melihat kamu dengan nya"
Kini Kinan yang menangis sesunggukan. Hatinya tersayat membayangkan berpisah dengan Piter.
"Papa sudah bicarakan masalah ini pada Kevin dan orang tuanya, dan mereka setuju. Kamu kalau masih mau papa hidup lama di dunia ini, jadi lah anak penurut"
Pembicaraan itu berhenti di sana. Kinan tidak punya tenaga untuk melawan terlebih karena dia tahu kesehatan papa nya belakangan ini memburuk.
Besok nya, Kinan mengajak Piter bertemu di sebuah cafe. Pertemuan itu adalah pertemuan mereka yang paling singkat. Dan pertemuan itu pula, awal mula kebencian Piter muncul untuk Kinan.
"Aku minta maaf Ter. Aku tidak bisa memenuhi janji ku untuk bersama mu. Papa sudah menjodohkan ku dengan Kevin" Kinan bahkan tidak berani menatap mata Piter, pandangannya hanya sebatas dasi Piter yang menjuntai di perut nya.
"Aku tidak suka lelucon mu" hardik Piter. Dia menebak kalau Kinan sedang mengerjainya, tapi walau itu hanya prank, dia tetap tidak suka. Terlalu takut bermain-main atas hubungan mereka, apa lagi dengan menggunakan kata putus.
"Aku serius. Kami akan menikah bulan depan" ucap nya masih menunduk, tapi air mata yang jatuh di telapak tangan gadis itu menandakan kalau Kinan saat ini sedang tidak bercanda.
"Lihat aku? katakan ini hanya bohongan" hardik Piter mulai mengepalkan tinju di sisi tubuhnya.
Perlahan Kinan mengangkat wajahnya. Air mata masih bercucuran di pipi gadis yang kini merajai hatinya. Jantung Piter berdegub kencang, ketakutan tergambar di wajahnya. Ini serius. Kinan sedang tidak bercanda.
"Aku ga mau" salaknya. Dua orang pengunjung yang duduk di dekat meja mereka menoleh pada Piter lalu ke arah Kinan. Mencari tahu apakah Piter akan bersikap kasar pada Kinan.
"Tapi aku ga punya pilihan lain. Papa aku sakit, dan dia berharap aku menikah dengan Kevin sebagai permintaan terakhirnya"
Piter tidak mengatakan apa pun. Dia tahu dia pria emosian. Salah-salah bisa-bisa dia akan menghajar siapa pun dan mengobrak-abrik cafe itu. Tanpa mengatakan apa pun juga, dia bangkit dan pergi meninggalkan Kinan. Tidak memperdulikan suara wanita itu yang memanggil namanya di sela isak tangis nya.
Hati nya hancur. Saat dia benar-benar jatuh cinta pada seorang wanita, justru dia yang di campakkan. Saat dia benar-benar ingin memperjuangkan hubungan mereka, tapi justru Kinan yang memilih untuk menyerah.