
Kinan keluar dari kamar mandi dengan bathrobe melekat di tubuhnya. Piter masih di dalam setelah keduanya membersihkan diri selepas permainan panas mereka tadi.
Kinan menggelengkan kepala melihat pakaian mereka yang berserakan di lantai. Piter, si suami tidak sabar membuka pakaiannya serta milik Kinan dan melempar ke segala arah. Saat memunguti kemeja Piter, dari saku nya jatuh sebuah gelang wanita dengan inisial A yang dijadikan mainan pada gelang itu.
Dahi Kinan mengerut mengamati gelang itu setelah memungut nya. Itu jelas bukan miliknya, dan kalau pun Piter membelikan untuknya, tapi kenapa inisialnya huruf A? tidak mungkin pria itu lupa siapa nama istrinya!
Bergegas Kinan memakai pakaiannya dan tak lupa menyiapkan pakaian Piter, lalu duduk sembari menunggu pria itu keluar.
"Kok lesu? kamu kecapean ya? maaf ya Nan, tadi aku main nya terlalu ganas ya?" Piter menghempas kan bokong nya di samping Kinan, memeluk pundak gadis itu dan mencium keningnya.
"Ini tadi jatuh dari saku kemeja mu" ucap nya lirih. Wajah sendunya menegaskan ada gurat kekhawatiran di sana.
"Oh, iya. Ini punya klien aku. Tadi saat mengantarnya pulang, aku lihat gelang nya jatuh di bawah jok mobil. Besok deh aku kembalikan" ucap nya santai mengambil gelang itu lalu bangkit untuk berpakaian. Kinan masih sempat melirik saat Piter memasukkan gelang itu dalam tas kerjanya.
Selesai berganti pakaian, Piter masih mendapati istrinya duduk di tempat semula, termenung dengan seribu hal dalam pikirannya yang kini tengah berkecamuk.
"Kok masih bengong di situ? kenapa? mikirin apa sih?" seperti dejavu, Piter kembali duduk di samping Kinan.
Kinan kesal melihat dirinya yang terlalu lemah untuk mengatakan apa yang mengganjal di hatinya. Piter sudah menjelaskan kalau itu milik kliennya, yang Kinan tebak adalah gadis yang dia lihat tadi bersama suaminya. Tapi justru itu, walau pun Piter sudah menjelaskan, Kinan semakin tidak tenang karena dia sendiri bisa menilai kalau wanita itu punya niat lain. Gaya centil dan juga agresif nya membuat Kinan takut kalau Piter akan tergoda.
Ayo Kinan, katakan pada suami mu. Kalau kau tadi melihatnya dengan wanita lain dan kau tidak suka dengan cara wanita itu menatap nya!
"Hey, kok malah bengong. Kamu kenapa?"
"Ga papa" kan, dia pengecut!
"Kau lupa aku ini pengacara? aku bisa membedakan mana orang yang sedang berkata jujur dan yang berbohong. Katakan padaku"
"Aku melihat mu tadi dengan seorang wanita. Duduk di salah satu cafe, saat aku membeli kue ulang tahun mu. Apakah dia yang punya gelang ini?" ucap nya memberanikan diri.
"Astaga..jadi kau murung karena memikirkan hal itu? sayang dengar, aku sudah bilang padamu. Jangan pernah ragu untuk bertanya padaku tentang apa pun. Aku ga mau kita jadi berselisih paham karena sesuatu hal yang tidak jelas kebenarannya" terang Piter menangkup kedua wajah Kinan dan mencium kening nya.
"Aku melihatnya, dia begitu agresif dan siapa pun pasti bisa menilai kalau dia ingin mencari perhatian padamu" cicit nya manja.
"Biarkan saja dia begitu, selagi dia masih belum keluar batas. Jangan takut aku tidak akan tergoda olehnya, karena hati ku sudah ada yang punya"
Tatapan Kinan berubah. Sorot matanya menjadi teduh dan riak gembira jelas terlihat di wajahnya. Perkataan Piter secara tidak langsung mengungkapkan isi hatinya. Kinan masih belum yakin, apa yang dia dengar tadi adalah kebenaran.
"Aku ada di hatimu?" ulang Kinan menatap mata Piter. Pria itu mengangguk yakin.
"Pertanyaan bodoh. Tentu saja aku mencintaimu. Kalau tidak untuk apa aku mengajakmu menikah lagi?" Piter menyatukan sekilas bibir mereka dan kembali merengkuh tubuh gadis itu ke pelukannya.
Ini memang hari ulang tahun Piter, tapi Kinan lah yang mendapat hadiah yang begitu besar. Ungkapan isi hati Piter yang selama ini dia nantikan akhirnya bisa dia dengar. Dan itu membuat nya sangat bahagia, tubuhnya begitu ringan seperti hendak melayang ke langit ketujuh.
Bicara soal hadiah, Kinan jadi ingat kado ulang tahun yang juga sudah dia siapkan untuk Piter. "Sebentar" ucap nya lembut, mengurai pelukan mereka dan bergerak ke arah lemari. Di tangannya sudah ada kotak hitam di ikat dengan pita merah.
"Ini kado ulang tahun mu. Aku harap kamu suka" ucapnya sumringah.
"Bukannya kado nya udah aku buka tadi begitu sampai?" goda Piter yang berhasil membuat wajah Kinan memerah.
Kotak itu berisi sebuah jam tangan mewah. Limited edition, dan Kinan harus memesan langsung dari luar negeri jauh hari. Dia ingin memberikan yang terbaik untuk suaminya. Walau pun Kinan tahu, jam sejenis juga sudah banyak di laci koleksi suaminya, tapi seri dan model jam tangan pilihannya ini belum ada.
"Ini sangat indah, terimakasih" ucap nya menarik kepala Kinan untuk mengecup kening wanita itu.
Besok nya ibu meminta semua anak nya datang, untuk makan malam bersama, dengan tajuk merayakan ulang tahun Piter yang sudah telat satu hari.
Itu hanya sebuah alasan, karena ibu mengundang hanya karena rindu pada semua anak mantu dan cucunya.
Saga yang sudah mulai pinter bicara, membujuk neneknya untuk membeli sebuah robot besar yang suka dia lihat di YouTube.
"Nek, aga suka ini loh. Beliin ya?" bisik nya takut kedengaran oleh mama nya. Sudah dua hari Saga merengek minta di belikan. Bintang, seperti biasa yang selalu berperan jadi ayah yang baik, langsung mengabulkan permintaannya Saga di hari itu juga. Tapi semua nya gagal saat permaisuri mengatakan tidak untuk membeli mainan itu. Dan efeknya, Saga merajuk tidak mau bicara pada Bee selama dua hari terakhir.
Bee bukan pelit, hanya saja dia ingin mengajarkan Saga untuk membeli barang yang paling dia inginkan dan dia butuhkan. Lagi pula Bintang baru tiga hari lalu membelikan mobil-mobilan dan juga tobot seperti permintaan Saga.
Sudah berulang kali Bee mengatakan pada Bintang agar tidak terlalu memanjakan Saga, karena itu tidak akan baik untuk membentuk karakter nya nanti ketika sudah dewasa.
"Tapi aku kan ingin menyenangkan anak aku Bee. Lagi pula aku punya duit, Saga berhak mendapatkan semua yang dia ingin kan" ucap Bintang sebagai pembelaannya.
"Tapi ga harus memberikan apa pun yang dia inginkan kak. Aku ga mau Saga menjadi lemah memandang enteng semua hal hanya karena orang tuanya punya uang"
Dan Bintang akan terus menjawab sampai keduanya lelah berdebat dan memilih untuk diam. Perbedaan pendapat itu acap kali membuat mereka jadi diam-diam an hingga berhari-hari.
"Siap, nanti nenek belikan. Memangnya mama papa kamu udah jatuh miskin sampai ga bisa beliin kamu mainan begini?" ucap ibu melihat robot yang ada di video itu.
"Papa mau beli nek, mama yang larang"