
"Ayo dong kak, buruan pakai kemejanya. Riko udah nunggu di bawah" ucap Bee untuk ke dua kalinya. Namun kalimat itu bukan seperti untuk pria yang sedang bermain gelitik dengan Saga di tempat tidur.
"Kakak.." Bee menjatuhkan sepatu Bintang dari genggaman ke lantai, hingga membuat pria itu terperanjat dan memandang Bee.
"Apa sih Bee?"
"Masih tanya kak? mau kakak apa sih? udah dari satu jam aku bantuin kakak siap-siap di sini, tapi kau seolah tidak niat untuk menyelesaikan" geram Bee berkacak pinggang.
"Tapi aku ga mau pergi Bee"
"Jangan kayak anak kecil deh kak. Riko udah nunggu di bawah, lagian ini juga perjalanan bisnis kak. Buruan nanti ketinggalan pesawat" kali ini nada suara Bee merendah. Membujuk bayi besar nya itu untuk mau pergi.
Harusnya Bintang Minggu lalu berangkat ke Prancis, tapi di tunda dengan alasan tidak sanggup jauh dari istrinya. Out of the box sekali kan?
"Kamu ga sedih aku pergi? dua Minggu loh"
"Kakak, kita akan selalu bersama. Aku senang kau ingin selalu dekat dengan ku, karena aku pun begitu, tapi kerjaan tetap kerjaan, harus bertanggung jawab kak"
"Kalau gitu, kamu ikut aku aja ya sayang. Temani aku kerja. Sekalian kita liburan, itung-itung ganti honey moon yang belum juga terealisasi" bujuk Bintang mengulang permohonan nya dari semalam.
"Kamu tahu aku ga bisa kak. Aku ujian semester, mau mengajukan outline lagi. Aku ga mau harus menunda kelulusan ku nanti" terang Bee berharap suami yang bucin itu akan mengerti.
Akhirnya setelah perdebatan panjang, Bintang berangkat. "Baik-baik di sini bersama Saga, jangan nakal" ucap Bintang memeluk erat tubuh Bee, tidak perduli wajah Riko sudah memerah menahan malu melihat tingkah kedua insan yang sedang di mabuk cinta.
"Iya kak. Udah berangkat sana. Jaga diri, jaga kesehatan juga. Di sana lagi turun salju, jangan lupa pakai baju hangat" ucap Bee membenarkan letak dasi Bintang.
"Oh Tuhan..apa aku sanggup jauh dari mu? dua Minggu itu lama loh yang" Bintang kembali menggesek kan ujung hidung nya pada ceruk leher Bee, mencium kulit lembut itu sesekali.
"Ah..udah kak. Malu ada Riko" bisik Bee menahan malu.
"Ko, lo ke mobil duluan, jauh sana. Tunggu gue datang"
Riko menjalan kan perintah itu dengan suka cita. Harus nya sejak tadi tuan muda nya itu memberikan perintah itu.
***
Kepergian Bintang tentu saja membuat hidup Bee terasa kosong. Waktu dua Minggu ke depan pasti akan membuat nya tidak bersemangat. Bukan nya Bee tahan jauh dari Bintang, tidak sama sekali. Bahkan dia begitu gembira saat Bintang mengajaknya ikut serta. Tapi Bee lebih rasional. Dia tidak ingin kembali mengulang dengan mengambil semester pendek karena ketinggalan pelajaran dan mengulang mata kuliah tahun depan.
Biar lah mereka melakukan kewajiban masing-masing. Bee yakin pasti ada waktu untuk mereka menikmati hari-hari dengan saling berpelukan saja tanpa melakukan apa pun.
Ini masih dua hari, tapi kesepian sudah menggerogoti jiwa Bee. Dia rindu belahan jiwa nya. Walau setiap hari mereka saling berkomunikasi, tapi tetap saja tidak memuaskan kerinduan nya.
Hari ini tenaga Bee rasanya tersedot mengikuti mata kuliah Farmakologi dan Terapi II, mengingat jenis obat dan nama nya yang membuat kepala nyut-nyutan.
Pesan dari Mira yang mengatakan susu dan perlengkapan Saga sehari-hari sudah hampir habis membuat Bee memutuskan untuk pergi ke swalayan, dan PIM menjadi pilihannya karena lebih dekat dari tempat nya saat ini.
Sejuknya pendingin udara buktinya berhasil menenangkan hatinya. Bee jadi lebih rileks dan bisa belanja dengan mood yang baik. Sibuk memilih susu formula untuk Saga yang kini sudah setahun.
"Au..sakit.." ucap bocah itu yang terduduk di lantai.
"Mana yang sakit? kenapa lari-larian?" tanya Bee lembut, jongkok di depan tubuh anak kecil itu.
"Celo, kamu ga papa?" suara itu lah yang membuat Bee segera berbalik. Dia ingat suara itu bahkan sangat familiar.
"Bee.."
"Elang.."
"Papa, bantu aku berdiri" seru bocah tiga tahun itu mengulurkan tangannya pada Elang.
Dahi Bee mengkerut, anak itu memanggil Elang dengan sebutan papa? sejak peristiwa itu, Dia dan Elang hampir setengah tahun tidak bertemu, tapi tidak serta merta Elang punya anak berumur 3 tahun kan?
"Bee..apa kabar kamu?"
"Oh..aku baik. Kamu gimana?" basa basi yang kerap terjadi saat suasana sudah sangat canggung.
"Baik.."
Senyum anak itu yang di tujukan pada Bee membuat Bee tidak bisa menahan lidah nya untuk tidak bertanya.
"Dia anak siapa?"
"Anak ku" Ada rasa malu yang terselip di nada suara Elang. Dia paham, kalau Bee bingung akan penjelasannya, hingga memilih untuk mengajak nya menikmati secangkir kopi.
"Kita ngopi yok. Udah lama kita ga ketemu" ajak Elang. Bee ingin menolak, tapi tangan anak itu sudah menariknya untuk ikut.
"Creamy latte satu" ucap Bee menyerahkan menu kembali pada pelayan restoran. Cuaca hari sore ini mulai mendung dan orang-orang semakin memadati salah satu mall yang di jadikan tempat nongkrong anak-anak muda.
"So..gimana ceritanya kamu udah punya anak seganteng ini?" ucap Bee lebih mencairkan suasana.
"Ini anak istri ku Bee. Aku menikahi janda anak satu" ucap nya tertahan. Entah itu perasaan nya saja, tapi ada setitik penyesalan dalam suara Elang.
Bee bisa menebak, Elang tampak tidak gembira akan pernikahannya, wajah nya tampak kusut sangat berbeda sejak terakhir mereka bertemu. Berita tentang group band mereka pun kini sepi.
"Apa kau bahagia Lang?" tanya Bee tulus. Bukan tanpa alasan, Elang tampak sedih menatap wajah Bee. Seolah ada yang ingin di katakan nya, tapi tak sanggup. Yang bisa Bee simpul kan, ada penyesalan dalam hati Elang.
Bagaimana mereka pernah pacaran, punya hubungan dan sejak kecil juga sudah saling kenal. Mungkin memang mereka tidak berjodoh untuk menjadi kekasih, tapi untuk menjadi teman, kenapa tidak.
"Nomor mu masih yang lama?" tanya Elang menjawab pertanyaan Bee. Gadis itu hanya mengangguk.
"Kalau aku butuh teman cerita, mau kah kau menjawab telepon ku?"
Anggukan kedua. Sungguh Bee tidak tega melihat kesedihan yang coba di sembunyikan Elang. Sejauh apa perubahan yang terjadi dalam hidup pria itu? dia bukan Elang yang penuh ambisi lagi seperti yang selama ini Bee kenal. Sikap Elang yang sombong juga sudah hilang. Sisa pertemuan itu mereka habiskan dengan mengobrol seputar masa kecil mereka dan kerinduan akan kampung halaman.