
Melihat gadis itu terduduk tak berdaya di sana, dunia Bintang seakan runtuh. Sungguh dia tak sanggup kehilangan gadis itu.
Dengan cepat, Bintang mengangkat tubuh Bee, berjalan ke lantai bawah untuk membawa ke rumah sakit.
Bi Jum yang ikut menangis, mengambil selimut untuk menghangatkan tubuh Bee.
"Segera jalan kan mobil ini secepatnya, jika perlu, kau harus membuat nya terbang!" bentak Bintang pada Herman dengan ketakutan dan emosi tinggi.
Bintang sudah mengikat pergelangan tangan Bee dengan sapu tangan putih yang ada di saku nya. Di buka nya kemeja gadis itu, lalu membungkus kembali dengan selimut yang di berikan bi Jum tadi.
Disini lah pria berkuasa itu. Duduk di jok belakang, memeluk gadis nya dengan penuh ketakutan.
Tak ada yang melihat, air mata Bintang jatuh tepat mengenai pipi Bee yang ada dalam dekapannya. Bibir gadis itu bahkan sudah menghitam.
Bintang mengusap-usap pipi Bee agar tubuhnya tetap hangat. Entah sudah berapa lama dia ada di dalam kamar mandi dengan kondisi seperti itu.
Kamu harus selamat Bee, aku belum buat perhitungan dengan mu
Kamu ga bisa ninggalin aku kayak gini..aku mohon, buka matamu sayang..please.. jangan tinggalkan aku..
Ya Tuhan, aku mohon, selamat kan dia. Aku janji asal dia bisa selamat, aku menuruti semua keinginannya..
Aku sangat mencintai gadis ini Tuhan, jangan pisahkan kami. Sembuhkan dia Tuhan..
Sepanjang jalan yang di lakukan Bintang adalah berdoa. Bee kembali lagi di bawa ke rumah sakit St. Maria.
Dokter segera melakukan pertolongan untuk menyelamatkan nyawa Bee. Banyak darah yang sudah keluar. Pihak rumah sakit juga sudah mempersiapkan kantong darah untuk membantu Bee jika memang di butuhkan.
Walau belum sadarkan diri, dokter sudah berupaya memberikan pertolongan pada gadis itu, hanya menunggu Bee siuman.
Dengan setia, Bintang selalu ada di sisi Bee. Menggengam erat tangan gadis itu.
Esok nya, baru lah Bee sadar. Kepalanya masih terasa berat, dan ada sesak serta pusing di kepalanya. Dokter kembali memeriksa. Masa kritis Bee sudah lewat, namun harus tetap banyak istirahat dulu.
"Bee..kamu kenapa melakukan ini nak?" bisik Tante Di membelai rambut gadis itu.
"Tan-te..biar kan aku mati..aku ga mau hidup lagi Tante.." ucap Bee dengan susah payah diantara alat bantu pernafasan di hidung dan mulutnya.
"Jangan ngomong gitu sayang.." ucap Tante Di masih terus menangis. Hampir saja dia kehilangan permata nya ini.
"Aku ga mau hidup lagi tante, kalau harus kehilangan Elang. Aku mencintai Elang tante, aku ga mau yang lain. Bawa Elang pada ku tante" ucap nya tertatih, lalu kembali jatuh pingsan.
Bintang segera berlari memanggil dokter. Panik, takut dan cemas menghantui dirinya.
"Pasien kembali pingsan. Dia berada si bawah tekanan alam sadarnya. Problem yang kini tengah menggerogoti pikirannya, membuat alam bawah sadarnya kembali tak sadarkan diri" ucapan dokter itu membawa pukulan berat bagi keluarga Bee.
"Yang saya takutkan, pasien justru merasa nyaman dengan keadaannya yang seperti ini. Tidak ingin kembali ke dunia nyata. Kita harus membuat gadis itu kembali bersemangat untuk segera sadar" terang sang dokter.
"Bagaimana cara kita untuk membuat nya semangat untuk bangun, dok?" tanya Hutomo.
"Pasien mungkin dalam kondisi tak sadar kan diri, tapi setiap apa yang di bisik kan padanya, dia bisa mendengar, dan merasakan kehangatan dari keluarganya, hal itu akan men- stimulasi pikirannya kembali bersemangat untuk bangun. Katakan hal yang indah, yang memang ingin dia dengar" ucap Dokter sebelum pamit keluar.
Jelas Bintang mendengar penuturan sang dokter. Kembali dia menatap gadis itu. Tante Di tahu, Bintang ingin waktu berdua dengan Bee, oleh karena nya wanita itu keluar bersama Hutomo.
"Hei..aku masih di sini. Walau aku tahu, kamu ga suka aku ada di dekatmu. Tapi aku harus apa Bee?aku begitu khawatir dengan mu, ga bisa jauh dari mu" perlahan di usap nya wajah mulus gadis itu. Bintang ingin terus berbicara, dia tahu Bee bisa mendengarnya.
"Bee..aku minta maaf jika kehadiran ku dalam hidupmu, membuat kamu tersiksa. Maaf karena aku sudah mencintaimu. Aku hanya ingin kamu bahagia Bee. Tak ingin menderita. Kamu tahu, aku ketakutan saat melihat mu hampir meregang nyawa. Rasa takut yang belum pernah aku rasakan seumur hidupku. Kalau memang menikah dengan ku membuatmu tak bahagia, aku akan melepas mu Bee, asal kamu janji, akan hidup dengan baik dan bahagia" Bintang meletakkan kepalanya di samping tangan Bee yang dia genggam. Perih rasanya harus melepaskan gadis itu. Tapi akan lebih menyedihkan bagi nya, jika harus melihat Bee pergi untuk selamanya.
"Sadar lah Bee. Buka matamu sayang. Aku akan pergi, melepaskan mu. Jangan begini Bee, aku mohon. Biar ku simpan cintaku padamu hanya di dalam hati saja. Bangun Bee.." ucap Bintang mencium punggung tangan Bee, lalu mencium kening gadis itu, tepat air matanya jatuh ke pipi Bee malam itu.
Itu adalah ucapan terakhir dari Bintang, sebelum menemui Hutomo dan tante Diana.
"Aku pergi. Aku akan melepaskan Bee. Membatalkan perjanjian itu. Biar kan dia bahagia dengan pilihannya. Jika memang Elang yang bisa membuatnya bahagia, aku akan merelakannya" ucap Bintang getir. Ketiganya duduk di kursi kantin rumah sakit.
"Tapi tuan.." potong Hutomo cepat. Khawatir kalau sampai perjodohan itu dibatalkan, segala utang nya pada Bintang harus segera di lunasi nya. Uang dari mana?
Seakan paham isi pikiran Hutomo, Bintang menyahut, memberi rasa tenang pada pria itu.
"Lupakan semua. Aku tidak akan minta ganti rugi, atau pun meminta uang ku kembali. Anggap saja itu sebagai kado untuk pernikahan Bee dan Elang nanti" sahut nya dingin. Air matanya masih berkaca-kaca.
"Bintang.."ucap tante Di mengulurkan tangan ke arahnya. Benar-benar terharu atas apa yang sudah di lakukan pria itu.
"Tante..jaga Bee dengan baik..aku pamit" Bintang mencium punggung tangan tante Di, dan segera berlalu.
Rencana nya dia akan kembali ke Jakarta malam itu juga. Tapi sebelumnya, dia ingin menemui seseorang. Memastikan dia menitipkan Bee pada orang yang tepat.
Suasana bar malam itu begitu ramai, namun atas info dari anak buah Herman yang sudah lebih dulu di suruh mengikuti Elang, Bintang bisa dengan mudah menemukan pria itu, di meja bar lengkap dengan botol minumannya.
"Aku perlu bicara dengan mu" ucap Bintang tanpa basa basi.
"Untuk apa kau mencari ku?" sahut Elang tak bersahabat. Bukan menjawab, Bintang lantas keluar dari tempat itu, dan dua anak buah nya sudah menyeret paksa Elang keluar.