
"Tang..tunggu.. apa-apaan semua ini? dari mana datang nya anak ini tiba-tiba begini?" tanya Stella menghadang langkah Bintang.
"Minggir Stel.." hardik Bintang tak menghiraukan gadis bawel itu.
"Tapi kamu jelaskan dulu. Itu anak siapa? ibu nya siapa?"
"Ga ada yang perlu aku jelaskan padamu!" bentak Bintang menatap Stella penuh kesal lalu masuk dalam mobil mewahnya.
Bee berjalan dengan rasa takut. Kalau bisa memilih dia ingin kabur saja dari pada harus masuk ke dalam mobil karena itu dengan masuk sama saja bunuh diri.
"Kamu sebenarnya ada hubungan apa dengan Bintang? kenapa anak itu ada bersama kamu?" tanya Stella. Kalau dulu dia akan menatap Bee seperti debu di telapak sepatunya, kini dia merasa takut jika wanita itu muncul sebagi pesaingnya dalam merebut hati Bintang.
"Aku? aku bukan siapa-siapa" hanya itu yang di ucapkan Bee sebelum berlalu.
Pintu mobil di buka kan sopir untuk Bee yang sedari tadi menunggu di luar atas perintah Bintang.
Bee masuk dan langsung berlaga tatap dengan Bintang yang seakan ingin menguliti nya saat itu juga. Lalu Pria itu membuang muka, agar penahanan dirinya untuk mencekik wanita itu bisa terjaga, setidaknya hingga sampai rumah.
Eeeeeheeeek...eeeeeek..
Rengekan Saga memecah keheningan hingga membuat Bee berinisiatif mengambil nya dari pangkuan Bintang. Ini memang sudah waktu nya Saga mengisi perut.
"Jagoan mama haus ya, sini sayang.." ucap nya mengambil Saga tanpa memperdulikan pandangan Bintang yang masih tidak bersahabat.
Bentuk Gaun yang memang memiliki garis rendah pada bagian dada memudahkan Bee untuk bisa mengasihi Saga. Tanpa malu Bee menguarkan dada sebelah kirinya dan mengajukannya pada mulut Saga.
Bayi montok itu segera menyedot ASI sebanyak yang dia mau. Bee melihat kearah luar jendelanya, karena dia tahu Bintang sedang menatapnya kini. Lo pengen ya? enak aja. Ini milik Saga sekarang..!
Setelah perutnya terisi, Saga pun tertidur meringkuk di timangan Bee. Rasa ngantuk pun tak lama menyerang, Bee memutuskan untuk tertidur setelah membenahi pakaiannya. Perjalanan masih jauh karena macet yang berkepanjangan.
Kemarahan Bintang masih belum surut. Tapi melihat kedua kesayangan nya itu tertidur lelap, mendatang kan rasa sayang nya. Perlahan mendekatkan diri pada Bee lalu menarik tubuh gadis itu untuk bersandar di dadanya.
Rasa nyaman dan wangi yang dia sukai, membuat Bee mengendus-endus wangi tubuh Bintang. Seperti aroma terapi yang membuat tidurnya lebih nyaman.
Mobil sudah berhenti di depan rumah. Perlahan Bintang menggeser tubuh Bee menjauh darinya agar wanita itu tidak tahu kalau selama tidur Bintang menjadi alas tidurnya.
Bintang tidak ingin Bee selalu menang setiap melakukan hal yang salah yang menyakiti harga dirinya. Dia ingin mendidik istri manja nya untuk menghormati perasaannya. Setelah dikembalikan pada posisi semula, Bintang turun. Membuka pintu mobil Bee dan mengambil anak mereka yang masih tidur dengan nyenyak nya.
"Mira, kamu bangun kan nyonya mu, bawa sia ke kamar" perintah Bintang yang sudah membawa Saga ke rumah.
"Saga.." ucap nya melihat tangannya.
"Udah di bawa tuan ke dalam"
Ngantuk yang tadi dia rasakan hilang semua. Menyadari waktu nya untuk di adili Bintang tiba
Seperti dugaannya, Bintang tidak akan membiarkan malam ini berlalu tanpa mengajaknya untuk berdebat dulu. Ketika Bee hendak masuk kamar dirinya terkejut melintasi pria itu sudah duduk di sofa dekat kamarnya dengan selinting rokok di sela jarinya.
"Hah..bisa tidak ga usah buat orang jantungan" salaknya memegang dada nya yang terkejut melihat sosok Bintang dalam pencahayaan lampu yang temaram.
Seringai mengejek muncul di sudut bibir Bintang. "Jantungan? kau merasa jantungan hanya melihat ku duduk di sini? bagaimana dengan diri mu, apa tingkah mu di sana tadi tidak membuatku jantungan, hah?" hardik Bintang berdiri mendekati gadis itu.
Dengan berat Bee mencoba menelan Saliva nya. Matanya kini sudah terkunci oleh tatapan Bintang. "Apa salah ku? apa dengan datang kesana dan membawa Saga, pria busuk ini jadi marah padaku? Apa karena takut Stella salah paham karena kehadiran ku dan Saga? atau apa dia tidak ingin publik tahu bahwa dia sudah punya anak? dasar pria brengsek!" umpat Bee dalam hati.
"Jawab!" bentak Bintang semakin marah. Pasalnya setiap dia melihat ke arah belahan dada Bee, amarahnya memuncak di ingatkan kembali akan gaya centil gadis itu yang memamerkan tubuh nya.
"Apa? apa yang harus ku jawab? kau marah padaku karena datang ke sana hingga semua orang tahu kau sudah punya anak, atau karena kau tidak ingin kekasih mu terluka?" Bee si keras kepala akan menjawab lantang. Sifat Bee yang keras selalu memberontak jika dia merasa di tekan.
"Aku tidak marah karena Saga, justru aku bangga pada anak ku. Semua orang harus tahu kalau aku sudah punya ahli waris. Tapi yang membuat amarah ku naik adalah kau begitu tidak tahu malunya memamerkan tubuhmu pada pria hidung belang di sana!" jawab nya kasar. Kesabarannya habis. Seandainya Bee meminta maaf, mungkin hati nya akan luluh, tapi nyatanya gadis itu mencari perang.
"Aku? apa yang salah dengan diriku?" protes Bee tidak terima.
"Kau masih bertanya? lihat dirimu! Bagian tubuh mana yang tidak kau pamerkan"
Oh.. akhirnya Bee sadar. Bintang marah karena penampilannya. Tapi tunggu dulu, bukan kah Stella juga memakai pakaian yang jauh lebih terbuka dari dirinya?
Hufffh...Bee mendengus kesal. Ternyata semua hanya akal-akalan dan alasan pria itu saja agar bisa terlepas dari rasa bersalahnya karena terciduk bermesraan dan bergandengan dengan Stella di sana.
"Apa yang salah dengan pakaian ku? bukan kah kau suka gadis yang memamerkan tubuhnya? bahkan apa yang ku pakai ini lebih sopan dari yang di pakai Stella tadi, tapi kau terlihat nayaman dan sangat menyukai nya? jangan munafik! dasar kau pria menjijikkan!" salak Bee hendak beranjak pergi, tapi tidak semudah itu karena Bintang belum selesai dengan luapan emosinya.
"Tunggu.." tahan nya memegang lengan Bee.
"Apa pun yang dia atau wanita lain pakai, bahkan jika mereka semua t*lanjang sekali pun, aku tidak akan perduli! Tapi kau, jika sekali lagi saja kau pamerkan tubuh mu pada pria lain, aku akan menghabisi mu!" tatapan Bintang berkilat seperi bara api yang menyala. Nyali Bee ciut. Sorot matanya seperti dulu saat menghukum Bee tepat di hari ulang tahun nya.
"Ingat satu hal, yang bisa melihat dan menikmati tubuh mu hanya aku, aku dan aku seorang. Camkan itu!" Bintang berlalu pergi meninggalkan Bee.
Gadis itu masih berada di tempatnya. Mematung, hingga dari halaman depan terdengar suara mobil yang melaju keluar!