
Pihak rumah sakit lah yang menghubungi Bee melalui daftar kontak di ponsel Bintang. Bee hampir saja jatuh pingsan saat mendapat kabar Bintang mengalami kecelakaan dan sekarang sedang di rawat di rumah sakit.
Tidak perlu menunggu lama, Bee segera berangkat ke sana. Hana yang saat itu sedang bersama Bee di ruang bayi dan ikut mendengarkan tentang kecelakaan itu, menawarkan diri untuk ikut menemani Bee yang disetujui oleh Bee.
Setengah jam berikutnya Bee sudah tiba di rumah sakit. Setelah bertanya di pusat informasi, Bee menuju ruang rawat Bintang. Jantung nya sudah tidak karuan, begitu mengkhawatirkan nasib Bintang.
Wajah pucat penuh ketakutan itu hilang, saat melihat Bintang sedang mengutak atik ponselnya di atas ranjang dengan posisi menyandarkan punggungnya. Kepala nya terlihat di perban, terlebih di pelipisnya terlihat benjol.
Bee masih berdiri di sana, dari depan pintu menatap ke arah sang pasien. Perasan kesal tapi juga khawatir bersatu. Tapi sebesar apa pun rasa kesal itu masih lebih besar rasa syukur nya Bintang dalam keadaan baik-baik saja.
"Sayang..." sapa Bintang yang akhirnya menyadari kehadiran Bee di sana. Ragu-ragu Bee melangkah masuk. Ingin sekali memukul pria itu, karena sudah berhasil membuat nya mati ketakutan. "Beliau banting stir menghindari tabrakan hingga menabrak pohon. Kemungkinan di sebabkan karena suami anda menyetir dalam keadaan mabuk"
Keterangan pihak polisi tadi masih terngiang-ngiang di telinganya. Awalnya mendapat kabar dari pihak rumah sakit tentang kecelakaan ini saja sudah membuat jantungnya mau copot, di tambah lagi saat bertemu Piter di lobi rumah sakit yang sedang bicara dengan polisi yang meminta keterangan mengenai peristiwa itu, hingga Bee ikut bertanya penyebab kecelakaan itu.
"Yang..kok diam?" pertanyaan Bintang itu sukses membuat air mata nya yang sejak tadi merebak menetes tidak tertahan lagi.
"Jangan nangis yang, aku baik-baik aja, belum mati"
"Masih bisa kau bercanda? apa kau mau buat aku mati berdiri?" salak Bee di susul suara tangisnya. Bintang tidak tahan menarik tangan Bee dan memeluk tubuh istrinya, rumah yang selalu dia tuju.
Kehadiran Hana tentu saja sudah di ketahui Bintang, tapi dia bersikap seolah hanya ada Bee dan dirinya di ruang itu.
Tanpa merasa malu dan canggung akan kehadiran Hana di sana, Bintang mengecup kening Bee lama dan penuh cinta. "Aku tidak mungkin secepat itu mati, aku masih harus menjaga mu dan anak-anak"
Melihat semua kemesraan kedua orang itu, Hana hanya bisa menunduk. Bintang tidak perduli padanya. Memang hal itu lah yang ingin di perjelas Bintang padanya. Pria itu ingin menunjukan bahwa cinta nya sangat besar pada istrinya hingga jikalau pun ada niat Hana untuk masuk ke dalam lingkaran kehidupan mereka, maka lupakanlah.
"Lepas, ada Hana" Bee menolak dada pria itu agar melepaskan pelukannya. Bintang yang bergeming membuat Bee harus mencubit paha pria itu agar mau melepasnya.
"Au.. sakit yang"
"Bodo!" pertengkaran kecil itu terhenti saat Piter dan seorang pria berseragam masuk ke ruangan Bintang.
"Bagaimana keadaan bapak?" tanya si petugas.
"Baik pak. Maaf untuk kejadian yang saya timbulkan" ucap Bintang.
Seperti anak yang diwejangi guru BP, Bintang hanya mengangguk mengerti.
"Gue ke kantor polisi dulu, buat keterangan. Makanya lo kalau mau teler, bawa sopir bang" bisik Piter sembari memukul pundak Bintang dan berjalan mengikuti langkah sang petugas yang lebih dulu meninggalkan ruangan itu.
***
Dari kejadian itu hanya kepala Bintang yang terbentur, itu pun ke kaca mobil, karena ditahan oleh seatbelt, sementara pergelangan kakinya keseleo akibat benturan keras hingga membuat nya susah berjalan, selebihnya kondisi Bintang baik-baik saja.
Berjalan di sampingnya, Bee dengan setia memapah suaminya naik ke kamar. "Jangan perlakukan aku kayak pasien parah Bee, ini cuma keseleo aja. Besok aku juga akan masuk kerja"
"Ikutin mau ku kak..Besok kakak ga boleh kemana-mana dulu. Istirahat di rumah" perintah Bee yang langsung diangguk Bintang. Dia kalah setiap melihat kecemasan di wajah istrinya.
Maka besok nya, setelah pamit pada Bintang, Bee berangkat kerja sementara pria itu berbaring di atas tempat tidur.
Hari sudah semakin siang ketika Bintang bangun. Rasa lapar nya lebih menang dari pada rasa ngantuk. Baru saja membuka knop pintu, di balik nya sudah berdiri Hana dengan membawa nampan berisi makanan. Keduanya saling pandang, lalu Bintang membuang pandangannya ke arah lain.
"Ini makan siang mu" ucap Hana lembut seperti biasa. Sejujurnya, Bintang sangat senang mendengar suara lembut Hana, tapi memikirkan wanita itu punya maksud lain pada rumah tangganya, Bintang jadi tidak menyukainya bahkan antipati pada nya.
"Ga usah, aku mau ke dapur. Biar mbok Inah yang siapkan" ucap nya meminta Hana menyingkir dengan gerakan jari.
"Bintang.." suara Hana yang begitu serak. Bintang tahu dia menahan diri untuk tidak menangis.
Langkah Bintang memang berhenti di sana, tapi dia sama sekali tidak berbalik. Hana lah yang berputar untuk melihat punggung tegap itu. "Kenapa kamu begitu membenci ku? kamu bahkan tidak sudi melihat ku" ucapnya terbata. Air mata nya yang sejak tadi dia tahan kini jatuh, dan buru-buru di hapus nya.
Masih tidak ada jawaban dari Bintang. Tapi untuk melangkah pun kenapa rasanya berat. Bintang jadi serba salah.
"Dulu kamu begitu lembut bicara padaku. Begitu menyenangkan. Apa aku punya salah padamu?" lanjut Hana maju. Tangan nya baru saja akan menyentuh pundak Bintang, namun terhenti.
"Kamu yang salah menilai keramahan ku. Aku tidak tahu apa tujuanmu masuk ke rumah ini, tapi jika kau punya pikiran buruk untuk merusak rumah tanggaku, maka buang semua pikiran mu itu dan pergi dari sini. Aku tidak mau Bee salah duga, karena aku sangat mencintai istri ku" Bintang sudah jauh melangkah, sehingga Hana bisa memuaskan diri untuk menangis. Di depan kamar Bintang dan Bee, Hana menggenggam nampan dan terduduk meratapi kesedihannya.
Hati nya terluka. Sakit. Ketika melangkah masuk ke rumah ini, tidak pernah terpikirkan oleh nya untuk merusak rumah tangga Bintang dan Bee. Hati nya hanya menuntun untuk datang dan berada dekat dengan Bintang. Dia sudah jatuh hati pada Bintang. Dia tahu itu salah. Tapi hati nya tidak akan tenang jika jauh dari Bintang. Dia ingin berada di sisi pria itu, melayaninya sepenuh hati. Terlebih karena Bee begitu sibuk dengan pekerjaannya, hingga Hana tidak tega melihat Bintang yang kurang di perhatikan. Jadi dia memutuskan untuk mengambil alih tugas Bee untuk menyiapkan apa pun yang di butuhkan Bintang.