Sold

Sold
Berteman baik



Melihat Bintang yang tampak lelah dan tidak bersemangat, Bee membatalkan niat nya untuk bertanya. "Kenapa wajah nya cemberut?" Bee mengambil tas kerja Bintang dan ikut berjalan di sisi pria itu.


"Ntah lah sayang. Kontaktor yang di percaya menyelesaikan proyek ini jatuh dari gedung saat meninjau lokasi bangunan, hingga departemen tenaga kerja yang telah mendapat laporan dari keluarga nya mensomasi Danendra's corp" terang nya tepat di penghujung anak tangga.


Sebagai istri Bee turut sedih atas apa yang menimpa perusahaan suaminya. "Udah sayang, jangan sedih. Kita berdoa semoga semua baik aja dan masalah ini cepat selesai"


"Makasih sayang. Kita berdoa semoga kontraktor itu segera siuman dari koma nya. Biar dia bisa menjelaskan sendiri. Aku udah minta Piter untuk mengurus ini semua. Sebenarnya ini bukan masalah besar, ini pasti bisa di selesaikan, hanya aja aku jadi kesal melihat si kontraktor itu yang meninjau ke atas gedung sambil video call dengan anak nya, hingga melangkah keluar pembatas"


"Udah kak, jangan di pikirkan lagi. Mandi dulu, aku siap kan makan malam ya" Bintang hanya mengangguk.


Sejak itu dua hari Bintang uring-uringan. Terlebih saat media menyeret namanya dan disebut kan sebagai orang yang bertanggungjawab jawab penuh, bahkan ada surat kabar murahan yang memberitakan dia lari dari tanggung jawab yang menambah emosi di hati Bintang. Waktu Bintang lebih banyak dihabiskan di ruang kerja. Kadang Bintang naik ke ranjang saat Bee sudah terlelap. Pria itu perlahan akan menarik tubuh Bee dan membawa dalam pelukannya sebelum jatuh ke dalam alam mimpi.


Bee sendiri juga sudah waktu nya untuk kembali bekerja. Empat bulan sudah dia cuti. Untuk memperpanjang juga merasa tidak enak hati pada salah satu temannya yang di minta menggantikannya untuk praktek di kliniknya.


"Mir, udah jadi kamu tanya kerabat mu, ada yang mau jadi baby sitter?" tanya Bee saat melihat Mira masuk ke dalam kamar membawa keranjang berisi pakaian bayi yang sudah rapi.


"Maaf nyah, belum ada yang dapat. Udah saya tanya sama keluarga di kampung. Ga papa kok nya kalau saya aja yang jaga si kembar" tawar Mira. Bee bukan tidak percaya Mira mengurus duo baby Si, toh sejak kecil Saga di urus oleh Mira. Bee hanya tidak ingin Mira terlalu lelah, dan juga dia ingin Mira fokus pada Saga saja, terlebih anak itu sudah besar dan banyak mau nya.


"Kamu nanti keteteran Mir, aku ga mau kamu kelelahan merawat tiga orang anak. Mereka akan tetap dalam pengawasan mu, hanya saja ada orang yang bisa membantu mu, melakukan sesuai pengarahan mu"


"Apa lagi sekarang ini Saga udah makin besar, pasti susah untuk mengontrol nya sembari menjaga si kembar. Kamu fokus sama Saga aja, jadi yang baru nanti yang jaga baby Si"


Bee ingin Saga lebih ketat di awasi karena saat ini anak itu begitu aktif, tidak takut pada apa pun, bahkan hampir semua anak-anak di komplek ini di tahu namanya. Seperti saat ini saja, entah di mana anak itu berada. Ingat Saga, Bee tiba-tiba ingin menanyakan sesuatu pada Mira.


"Oh iya Mir, Saga mana?"


"Di taman nyah. Tadi minta saya antar, terus tuan muda minta saya pulang karena dia tidak ingin main di awasi"


"Itu anak emang ya" Walau tidak keamanan di komplek ini terjamin, tetap saja Saga belum genap tiga tahun. Tubuhnya boleh setara dengan anak umur lima tahun, tapi tetap saja dia masih anak-anak. Beruntung di komplek mereka, terlebih di taman bermain, dua orang satpam selalu patroli menjaga anak-anak.


"Huuuufh...kemana ya Mira, saya cari pengasuh. Kalau buka lowongan di media cetak, saya takut salah pilih orang. Mau nya keluarga atau kenalan orang di sini aja"


Bee memasukkan kembali penghasil ASI anak-anaknya kebalik bajunya. Siera sudah tertidur pulas.


Tok..tok..tok..


"Masuk" wajah Wati muncul di balik pintu.


Bee saling melepas tatap dengan Mira. Siapa wanita yang mencari nya siang begini? apa mungkin tetangga? bergegas Bee turun yang di ikuti Mira. Di sana, di salah satu sofa duduk seorang wanita yang begitu anggun dan wajah nya juga sangat ayu dan bersahaja. Saga duduk di samping gadis itu, mereka berbincang tampak begitu akrab.


Ehmmm..


Suara dehem-an Bee membuat perbincangan keduanya terhenti. Dengan anggun Hana berdiri mengangguk memberi hormat padanya, yang di balas Bee dengan anggukan dan juga senyum. Melihat penampilan wanita itu, Bee yakin wanita itu bukan dari golongan orang biasa. Dan kalau tidak salah menilai, dari wajah nya, Bee menyimpulkan mereka seumuran, atau paling jauh terpaut tiga tahun lebih tua dari nya.


"Maaf nyonya, saya mengganggu waktu anda" ucap nya sopan dan lembut. Bee saja hingga terpesona ada wanita bisa selembut dan elegan seperti itu di dunia nyata. Setahu Bee hanya dalam negri dongeng saja ada wanita seperti Hana.


"Oh..tidak apa. Loh, Saga? kenapa nangis nak?" Bew baru fokus pada wajah Saga saat anak itu menghambur dalam pelukannya. Jejak air mata masih ada di pipi gembul nya. Dengan lembut Bee menghapus dengan tisu yang dia ambil dari box di atas meja.


"Maaf nyonya.."


"Bella, panggil Bella aja" ucap nya memotong pembicaraan wanita itu dengan sopan.


"Maaf Bella, Saga menangis karena merasa sedih, temannya Geona hari ini harus berangkat ke Inggris"


"Geona?"


"Mama ga ingat, aku bilang aku punya teman cantik, nama nya Geona. Aga suka sama geona ma, tapi kenapa Geona pelgi ma?"


Kembali air mata Saga merebak. Bee merasa lucu melihat tingkah anak nya yang masih kecil sudah mengerti rasa suka. Tapi tentu dia tidak berani meledek Saga, anak itu akan meraung tidak terima. "Saga jangan nangis lagi, Geona pasti kembali kok" ucap Bee menenangkan.


"Iya Saga, bulan depan Geona pasti pulang kok" lanjut Hana menimpali.


"Anda?"


"Oh, maaf, saya Hana"


Tidak lama keduanya asik saling bercerita. Mira sudah membawa Saga untuk bersih-bersih sebelum tidur siang. Wati mengantarkan teh dan juga cemilan untuk menemani mereka bercerita. Aneh, tapi Hana begitu menyenangkan. Dia asik diajak cerita. Terlebih sikap lembut dan juga rendah hatinya membuat Bee menyukai gadis itu.


"Kamu hebat ya, jadi istri sekaligus dokter gigi juga" ucap Hana memuji Bee dengan tulus.


"Ah..kamu terlalu menyanjung. Aku malah minder lihat kamu, seorang wanita bangsawan mau berpetualang hingga ke Indonesia"