
Sudah di putuskan, Kia akan menjadi pengacara Kinan. Senin nanti surat permohonan cerai akan di ajukan dan segera mungkin bisa di layangkan pada Piter.
Hari itu juga Kinan mengangkut barang nya dari apartemen Piter saat pria itu ada di Surabaya yang katanya mengurus pekerjaan.
Bisa di tebak, Andri Setiawan tentu saja tidak akan setuju. Tapi Kinan yang menangis bersimpuh memeluk kaki papa nya menjelaskan semua yang dialaminya.
"Jangan buat harga diri ku semakin jatuh untuk kedua kalinya pa" isak nya.
"Tapi perceraian bukan hal yang di benarkan agama, Nan"
"Apa papa lebih memilih aku mempertahankan pernikahan ini tapi tersiksa dan tidak bahagia? Dia tidak mencintai ku pa, dia mencintai orang lain. Dan kalau papa malu memiliki anak dengan status sebagai seorang janda, aku akan pergi dari sini pa" hati Kinan sakit. Dia kira papa nya akan mengerti dan mendukung keputusan nya. Hanya Setiawan yang dia miliki sebagai keluarga tapi nyatanya tidak mendapat dukungan.
"Jangan nak. Jangan tinggalkan papa. Kalau memang itu keputusan mu, papa akan mendukung mu" Kinan bangkit dan memeluk papanya.
Pria yang selama nya tidak akan mengecewakan nya dan akan selalu mencintai nya tulus.
***
Piter melangkah memasuki apartemen sembari menyeret koper berukuran sedang yang berisi perlengkapannya. Senyum nya mengembang sejak tadi. Di raba nya sekali lagi saku celana nya. Benda itu masih ada di sana.
Dengan tergesa, dia menekan code unlock, lalu masuk. Senyum yang sejak tadi menghiasi wajahnya hilang melihat ruangan kosong. Ini hari Minggu, harusnya Kinan ada di rumah. Instingnya berkata lain, ada sesuatu yang tidak beres.
Dengan langkah lebar, Piter menuju kamar Kinan, kosong. Lalu ke kamar yang sejak awal mereka tempati, juga kosong. Kembali lagi ke kamar Kinan, debar jantung nya mulai kencang. Dengan tangan gemetar dia mendorong pintu lemari, dan wajahnya seketika pucat. Lama dia memandangi lemari yang kini sudah kosong.
Langkah nya mundur. Tidak mempercayai apa yang dia lihat. Dua hari meninggalkan istrinya, Piter tidak menyangka pulang akan mendapati kenyataan pahit ini. Dia kira setelah apa yang di ucapkan ibu pada Kinan saat hari ulang tahun ibu kemarin, Kinan akan membatalkan niatnya untuk minta cerai.
Dipugar nya sisiran rambutnya, kepalanya seperti di hantam palu gadang. Piter segera menekan nomor yang bahkan sudah dia hafal di luar kepala. Dua kali berdering, tapi Kinan belum juga mengangkat hingga panggilan itu mati sebelum tersambung.
Piter mengulang kembali, tapi hasil nya tetap sama. Dia tahu harus mencari kemana gadis itu, segera dia pergi, tidak ada waktu untuk menunggu lagi.
Tiba di kediaman Setiawan, bukan Kinan yang menyambut nya, tapi mertuanya. "Papa, aku mau ketemu Kinan" ucapnya tegas. Tidak ada siapa pun yang bisa menghalanginya bertemu istrinya bahkan jika itu adalah mertuanya sendiri.
"Pulang lah. Kinan tidak ingin bertemu dengan mu"
"Aku tidak akan pulang sebelum bertemu Kinan dan membawanya pulang" sambar Piter penuh amarah. Dia tidak pernah se-kacau ini. Bahkan saat di persidangan yang alot dan berakhir dengan kekalahan, Piter masih tenang, tidak seperti ini. Seolah jika tidak bertemu Kinan hari ini, berarti selama nya dia akan kehilangan gadis itu.
"Pulang. Jangan buat ribut di rumah ku. Cukup sudah kau membuat ku kecewa" hardik Setiawan dengan kesabaran yang mulai menipis.
"Maaf pa, tapi aku tidak akan pergi sebelum bertemu dengan istri ku"
"Istri yang sudah kau sia-siakan. Kau bajingan, aku menyesal pernah setuju menikahkan mu dengan putri ku. Kau membuat ya menderita!"
"Pernikahan bukan sekedar punya keturunan. Pernikahan itu bisa bertahan harus ada kenyamanan, dan cinta sebagai pondasinya" Setiawan sudah tidak memandang Piter lagi sebagai mantu atau pun anak Salma. Dia membenci pria yang sudah menyakiti hati putri nya itu.
"Pa..izin kan aku bertemu dengan Kinan. Sebentar aja pa" Piter memelas, tapi tampaknya Setiawan tidak akan bergeming.
"Pulang lah. Jika kau memang menginginkan dirinya, harusnya kau memberikan cintamu padanya, bukan paksaan" Setiawan sudah bangkit meninggalkan Piter yang masih termangu sendiri.
Dari balik tirai di balkon kamarnya, Kinan bisa melihat punggung pria yang beberapa bulan lalu menjadi sandarannya saat sedang menonton di sofa bersama atau sedang tidur, berjalan semakin menjauh. Air matanya kembali menetes.
"Andai saja kau mencintai ku sedikit saja, Ter" cicit nya perih.
Kepala Kinan pusing. Dia memilih untuk lebih cepat tidur. Mungkin dengan istirahat yang cukup, pusing nya akan hilang.
Tok..tok..tok..
"Masuk"
"Maaf non. Ini tadi simbok nemu di atas meja di ruang tamu. Mungkin ini punya tuan Piter" wanita paruh baya itu menyerahkan satu kotak kecil berlapis beludru merah dan pamit keluar. Kinan membuka nya perlahan. Air matanya kembali jatuh, cincin itu begitu indah. Dan di lingkaran bagian dalam cincin itu terukir nama nya. 'Kinan, my love'.
Tapi bisakah dia percaya pada pria itu? di saat dulu dia berjanji hanya akan ada untuk nya, justru pergi bersama wanita lain. Sakit nya masih bisa Kinan ingat, terlebih saat itu dia berbohong dengan mengatakan ada pekerjaan yang sangat penting hingga tidak bisa menemani nya ke dokter.
Kinan menutup kotak dan menyimpan nya dalam laci putih di samping tempat tidurnya. Berbaring memiring, menatap keluar lewat pintu balkon yang di biarkan nya terbuka sedikit. Merasakan hembusan angin masuk menyapanya. Menangis semalam hingga terlelap.
Senin pagi yang cerah milik Piter berubah mendung. Saat tiba di kantor dan duduk di meja kerja nya, satu buah amplop tergeletak di atas meja. Tanpa melihat pun, dia bisa menebak apa isi nya, karena sudah beberapa kali melihat benda seperti itu. Jantung nya kembali berdegub kencang. Dia hanya diam, mengamati benda itu tanpa berniat membuka nya.
Hembusan nafas yang kasar pertanda amarah nya yang sudah memuncak. Di rogoh nya saku jas mengambil ponsel nya dan menekan nomor Kinan.
Kali ini hanya butuh dua kali dering, Kinan sudah mengangkat telponnya.
"Apa maksud semua ini?" ucap kasar.
"Maksud apa?"
"Jangan berlagak bodoh. Kau melayangkan surat cerai pada ku? hah?" emosi Piter terpacu. Dia tidak menyangka akan secepat ini Kinan akan bertindak.
"Aku sudah mengatakan sebelumnya kan?" suara Kinan masih datar.
"Dan kau tahu aku tidak akan menerima perceraian ini" bentaknya penuh emosi. Tidak ada kata sabar untuk masalah seserius ini.