
Semua orang yang ada pada jamuan makan malam itu tampak menikmati acara. Tertawa, melahap makanan dan juga menikmati minuman yang beralkohol rendah.
Hanya Piter yang duduk di kursi yang agak menjauh dari yang lain. Meminum Vodka yang dia ambil dari bar koleksi Bintang. Hanya dari kejauhan dia bisa menikmati wajah cantik Kinan tanpa ada yang mendikte nya.
Tadi, Setiawan menarik nya sedikit menjauh hanya untuk memperingati nya agar menjauhi Kinan. "Jangan sampai aku melihat mu mendekati putri ku!"
Beberapa teman nya menyarankan agar Piter mampu menekan egonya. Bersikap rendah hati dan jangan cari ribut pada papa nya Kinan kalau ingin mendapatkan Kinan kembali. Dan walau berat, Piter akan mencoba.
Tapi naas nya, tidak hanya mantan mertua nya yang mencekal nya, ibu nya pun ikut jadi lawannya. "Ingat, ini acara kakak ipar mu, jangan mengganggu tamunya"
Dia jelas paham maksud ibunya. Dan di sini lah dia, berdiam diri mengamati mangsanya. Sigap kalau-kalau ada kesempatan untuk menyambar.
Lima belas menit sudah, acara makan malam usai. Kini acara di lanjutkan dengan ngobrol santai di temani cemilan segar dan minuman dingin.
Bee tampak membisikkan sesuatu pada Bintang, dahi nya berkerut menatap Bee, tanda menolak perintah Bee, tapi mata Bee yang membulat membuatnya menganggukkan kepala pasrah.
"Nan, bantu ambil buah lagi yok" ajak Bee beranjak yang di ikuti Kinan. Setiawan mengamati langkah Kinan, dia tidak ingin putrinya hilang dari pengamatan nya. Setiawan tahu ada serigala yang sedari tadi memperhatikan putri nya dan siap menerkam.
"Nan, maaf kalau aku lancang, gimana sih perasaan kamu terhadap Piter?" tanya Bee sembari mengupas buah apel, sementara Kinan membantu menyusun di piring.
"Aku..aku juga ga tahu Bee" Kinan menghela nafas, bahu nya merosot gelisah.
"Kok ga tahu? apa yang kamu rasakan?" Bee menghentikan aktivitas nya, mengajak Kinan duduk di meja makan.
"Aku ga ngerti apa yang aku rasakan. Jujur aku ingin di dekatnya, aku juga menyimpan rindu padanya, Bee" Kinan menunduk mengamati ukiran indah di meja itu.
"Itu artinya cinta. Kalau kamu memang punya rasa untuk nya, kenapa tidak di perjuangan kan?"
"Untuk apa Bee? sementara dia tidak mencintaiku? aku tidak ingin menjalin hubungan hanya untuk main-main. Tidak may berhubungan dengan pria yang tidak mencintaiku" ucap nya dengan wajah sendu, seolah beban pikirannya berat dan tidak punya solusi.
"Sekeras apa pun pria, pasti akan luluh pada wanita yang disukainya. Cinta itu juga lambat laun akan terbentuk, seiring kebersamaan kalian. Dan aku yakin, Piter menyukaimu" ujar Bee meyakinkan.
"Dari mana kamu tahu?" Kinan mengangkat wajahnya. Apa yang di katakan Bee seperti angin surga bagi nya, membawanya melambung.
"Apa kamu tidak bisa melihat cara nya menatap mu? sama dengan kak Bintang setiap melihat ku. Tatapan penuh damba." ucap Bee.
Kinan jadi senyum-senyum mendengar nya. Hati nya berbunga seolah Piter sudah mengatakan cinta padanya. "Yuk, mereka pasti sudah menunggu" ucap Bee beranjak. Kinan mengikuti langkah Bee, berjalan menunduk bermain dengan pikirannya. Senyum nya tak pernah lekang.
Tiba-tiba mulut nya di bekap dari belakang dan di seret kembali ke dapur, tepat nya kamar mandi yang ada di dapur. Kinan meronta, berusaha menjerit dengan posisi mulut di bekap oleh tangan kekar.
"Ssssst...ini aku" ucap Piter melepas bekapan tangannya.
"Kenapa kamu membawa ku ke sini?" bisik nya.
"Karena aku tidak punya cara lain untuk bicara padamu. Papa mu selalu mengawasi ku. Kenapa nomor mu tidak bisa di hubungi?" suara Piter tampak mengintimidasi. Dia ingin kepastian, apakah sejak cumbu mesra yang mereka lakukan di apartemen nya hari itu membuat Kinan membencinya hingga memilih menjauh dari nya.
"Papa menahan ponselku. Kartu ku juga di tahan, hingga tidak bisa menghubungi mu" ucap Kinan dengan suara serak.
"Papa kamu mau apa sih? kita santet aja yuk? Auuu...sakit nan" ringis Piter memegangi rusuk nya yang baru saja di cubit Kinan.
"Rasain. Makanya kalau ngomong itu disaring. Mulut gada filternya. Itu papa aku ya" salak nya tidak terima.
"Habis, papa kamu reseh! hobby banget gangguin kita" Tapi Kinan masih tetap manyun. Tidak terima papa nya dikatain buruk oleh Piter.
"Iya deh, aku salah. Maaf ya" ucap si pengacara mengerti alasan ngambek nya Kinan.
"Kamu ga boleh ngatain papa. Kalau kamu ngatain dia, sama aja kamu menghina aku"
Piter mengangkat dagu Kinan, menatap pada netra yang kini sudah berkabut air mata. "Jangan nangis, please. Aku janji, ga akan bercanda begitu lagi"
Keduanya saling tatap, tidak perlu waktu lama, Piter menangkup wajah cantik Kinan, memangkas jarak diantara mereka lalu menyatukan bibir mereka. Lama dan penuh kelembutan.
Piter ingin menyimpan setiap rasa yang bisa dia rengkuh, agar mempunyai teman saat dia jauh dari Kinan. Bibir Kinan bak candu, sangat membuat Piter ketagihan. Ingin terus dan terus lagi. Kalau mengikuti kemauannya, Piter ingin membawa Kinan ke salah satu kamar di rumah ini, dan mengulang kenikmatan yang pernah dia rengkuh bersama wanita itu.
Tapi Piter buru-buru menghalau pikiran liarnya, dia tidak ingin Kinan marah lagi padanya seperti waktu wanita itu datang menjenguknya nya di apartemen.
Dia ingin menikmati proses nya bersama Kinan. Asal ada kepastian wanita itu bisa bersama nya lagi, Piter rela menunggu dengan sabar.
"Mau kah kau berjuang dengan ku? kau mau kan menikah dengan ku lagi?" bisik Piter di atas bibir ranum Kinan yang kini sedikit membengkak.
"Iya..aku mau" Piter hanya butuh janji itu agar dia bisa tenang. Memikirkan langkah yang akan dia lakukan untuk mendapat restu dari Setiawan, sekalipun dia tahu tidak lah mudah.
Sementara di luar sana, Setiawan sudah bolak balik menatap ke arah rumah. Dia semakin tidak tenang, saat Bee yang membawa Kinan pergi tadi sudah kembali tapi sendiri, tanpa putrinya.
"Mana Kinan?" tanya Setiawan menyongsong kedatangan Bee. Wanita itu menoleh ke belakang nya dan mendapati tidak ada siapa pun di sana. Lalu samar senyum di wajahnya terlihat.
"Oh, dia lagi di toilet. Nanti juga datang, om"
Setiawan tidak ingin kecolongan, tidak ingin ambil resiko, ingin masuk ke rumah memastikan keberadaan putrinya, tapi niat nya terhalang, oleh Bintang yang sudah menghadang langkah nya.
"Temani aku minum om. Ada yang ingin aku diskusikan dengan om" akhir Bintang menunaikan tugas yang di berikan istrinya tadi.