Sold

Sold
Hamil



Ada ketakutan menghiasi wajah Bee saat mendengar cerita Kinan. "Dia bahkan sudah menikah Bee" ucap memperjelas efek kejut di hati Bee.


"Oh.." hanya itu yang sanggup Bee ucapkan. Pikirannya sudah melayang jauh pada Bintang. Ingin rasa nya mencekik leher pria itu, yang membuka rahasia mereka. Tapi tidak munafik, terselip rasa bahagia di hati Bee mengetahui Bintang dan Kinan tidak jadi menikah.


"Jadi rencana mbak apa?" tanya Kinan menghapus pundak Kinan yang masih belum bisa menguasai diri. Tangis nya menunjukkan kalau kesedihan Kinan amat besar batal tunangan dengan Bintang.


"Aku juga ga tahu Bee. Ga usah panggil mbak, panggil Kinan aja" Bee hanya mengangguk, yang penting gadis itu sudah lebih tenang.


"Sabar ya mbak. Aku paham gimana rasanya kehilangan orang yang kita cintai" ucapnya memilin jari nya. Bijak menenangkan orang lain, sementara dia sendiri tidak tahu bagaimana menghibur dirinya sendiri.


"Bee.. sebenarnya bukan batalnya pertunangan ku dengan Bintang yang buat aku hancur sesedih ini"


Bee tidak jadi mengambil cangkirnya, memfokuskan perhatiannya pada Kinan. "Maksudnya mbak?"


Kinan diam. Gamang pada wajah nya gambaran kebingungan nya untuk memulai cerita entah dari mana.


"Bee..kemarin aku.." Cerita itu mengalir begitu saja. Semua dia ceritakan seolah Bee jadi tempat yang nyaman untuk bercerita tentang apa yang dialami.


Sama hal nya melihat hantu, seperti itu pula lah perasaan Bee saate mendengar penuturan Kinan tentang apa yang dialaminya. Bahkan Bee sampai terdiam tidak tahu harus berkata apa.


"Gimana dong Bee.."


Nah loh, emang yang hamilin Kinan si Bee? Tapi Bee paham kekalutan yang dialami Kinan saat ini.


"Kamu ga ingat wajah nya?" ucap Bee mencoba menenangkan Kinan.


Gelengan lemah dari Kinan ikut membuat Bee putus asa. Bagiamana mereka akan menyelesaikan masalah ini?


"Aku ga mau Bee kalau papa sampai tahu" Kinan merebahkan kepala nya di pundak Bee. Permasalahan dia saja belum dapat dia selesaikan. Ok, Bintang memang sudah selesai dengan Kinan, tapi masih aja sulit untuk bersatu dengan pria itu.


Pertama, bagaimana menghadapi ibu? kedua yang paling parah, Bintang sendiri tidak datang padanya untuk mengabari nya tentang pembatalan pertunangan mereka.


"Bee, kok malah bengong. Gimana?" suara Kinan menyadarkan nya kembali.


"Gimana apa?" wajah plongo Bee menjelaskan dirinya tidak mendengarkan pertanyaan Kinan tadi.


"Iih..Bee, kamu ga denger ya. Maaf ya Bee, kalau aku udah buat kamu bosan dan ikut pusing karena masalah ku ini"


"Oh..bukan, bukan gitu Nan. Tapi tadi aku emang ga dengar. Kamu bilang apa?" ucap Bee merasa tidak enak.


Pengunjung cafe semakin ramai, hingga suara mereka harus lebih di kecilkan.


"Gimana kalau aku hamil Bee?"


Pertanyaan yang Bee sendiri tidak tahu jawabannya. Hanya ada dua hal yang pasti, jika pria dan wanita melakukan hal itu, kemungkinan besar akan hamil. Tapi ada juga yang tidak hamil. Jadi Bee memutuskan untuk menenangkan Kinan dengan kemungkinan kedua.


"Bisa aja kamu ga hamil, Nan. Banyak kan yang melakukan hal itu berulang, tapi ga langsung hamil" Kenapa kalimat Bee terkesan unfaedah ya? tetap saja, hamil ga hamil, Kinan sudah kehilangan mahkotanya. Dan itu perkara besar.


"Mudah-mudahan ya Bee. Jangan sampai aku hamil. Kamu sendiri udah pernah begituan ga?"


Berat sekali buat Bee menelan saliva mendengar pertanyaan Kinan. Tapi dia tidak mau jadi wanita munafik. Kinan sudah menceritakan masalah nya sejauh ini, bagiamana mungkin dia pura-pura polos?


"U-udah Nan"


"Serius? sama siapa?" desak Kinan penasaran. Merasa punya teman yang se penderitaan dengan nya.


"Sama..sama bapak anak aku lah Nan"


"Apa? kamu udah punya anak? seriusan?" Bee hanya bisa mengangguk penuh keyakinan. Dia tidak akan mau lagi menyembunyikan status anak nya. Saga bukan anak haram yang tidak boleh di ketahui publik.


"Pergi. Kita udah pisah"


"Oh..aku turut sedih ya Bee" ucap Kinan merangkul pundak Bee. Seolah masalahnya lebih ringan satu tingkat di atas masalahnya.


"Ga papa Nan. Itu hanya cerita lalu" ucap nya tersenyum. Benar, jika memang tidak ada lagi kejelasan dari Bintang, dia akan menutup lembar kisah mereka.


Kedua nya pun saling menguatkan atas permasalahan masing-masing dan berjanji akan selalu ada untuk satu sama lain. Bee juga senang bisa menjadi teman Kinan walau dia sedikit lebih manja.


***


Waktu berlalu, satu setengah bulan berlalu sejak pembatalan pertunangan Bintang dengan Kinan, tapi pria itu seperti menghilang di telan bumi. Tidak datang menemuinya.


Dari infotainment, baru-baru ini Bintang di kabar kan terlihat jalan bersama Stella di Paris. Photo yang di tunjukkan hanya mereka berdua yang seolah menerangkan kalau kepergian mereka bukan lah perjalanan bisnis seperti dulu.


Bee sudah tidak perduli. Cukup dirinya fokus pada kuliah dan karirnya agar kelak bisa memberikan semua kebutuhan Saga.


Walau masih memendam perasaan pada Bintang, tapi kehadiran Kita yang sesekali datang ke rumah nya untuk bertemu dengan nya atau bermain dengan Saga membuat Bee terhibur.


Berulang kali pria itu menawarkan hatinya, tapi Bee tetap tidak bisa menerima Kia.


"Maaf Kya, kalau gue menerima lo hanya untuk mengisi kekosongan hidup gue, itu ga akan adil. Lo tahu sendiri pemilik hati gue. Lo pantas dapat yang lebih baik dari gue" ucap Bee malam itu, saat Kia kembali menawarkan dirinya untuk menjadi pendamping Bee.


Keseriusan Kia tidak perlu di ragukan lagi. Tanpa di bilang pun Bee bisa menilai sendiri kalau Kia juga sayang pada Saga. Mereka bahkan sangat dekat seperti layaknya anak dan ayah.


"Tapi gue tetap masih mengharapkan lo Bee. Sampai kapan pun gue bakal nunggu lo. Berharap lo dan Saga mau masuk dan jadi bagian hidup gue" sahut nya dalam kegamangan.


Melihat wajah Bee yang tertekan, Kia tidak mau memaksa gadis itu. Karena cinta nya tanpa syarat, maka biarlah waktu yang menjawab apa mereka punya takdir bersama.


"Udah, ga usah di pikirkan. Betewe, gimana kabar teman lo anak orang kaya itu?"


Bee tampak berpikir sejenak, menebak sosok yang di maksud Kia.


"Kinan maksud lo?"


"Eh..iya dia" ucap Kia canggung.


"Baik. Mudah-mudahan selalu baik" ucap nya berharap Kinan selalu baik keadaannya.


"Tumben lo nanya. Lo perhatian banget sama dia?" goda Bee asal.


Dan wajah Kia hanya berpaling tanpa menjawab Mengalihkan pembicaraan dengan bermain dengan Saga.


Dosen killer yang juga berprofesi sebagai dokter itu sedang menerangkan pelajaran di depan kelas, saat bunyi ponsel Bee memecah keheningan kelas.


Buru-buru Bee meraba mencari ponsel itu, dan menolak panggilan yang ternyata dari Kinan. Tak lama dering itu berbunyi lagi.


"Kamu keluar, angkat dulu telpon kamu. Jangan berisik di kelas saya" ucap sang dosen yang akhirnya membuat Bee memilih untuk keluar.


"Ya Nan?"


"Bee..aku hamil.."


*Hayo..main tebak-tebakan. Siapa yang hamilin Kinan? yang bisa jawab dengan benar, Eike bagi pulsa 50k😅😅


Jawab di kolom komen. Batas nya hari ini aja yes. Yang pertama kali jawab benar yang Eike pilih. Maaf, bulan tua, Eike belum gajian jadi cuma satu orang aja😁😁😅*