Sold

Sold
Sabotase



Malam itu Kinan habiskan dengan berteman air mata. Hanya satu pesan yang di sampaikan Piter, bahwa dirinya tidak bisa pulang. Hati nya semakin hancur. Ternyata dia bukan apa-apa di banding kekasih suaminya.


Hati istri mana yang tidak sakit, hancur berkeping tak kala dengan mata kepala sendiri melihat suaminya bersama wanita lain?


Lelah menangis, Kinan mencuci wajah nya. Tidak ada jalan lain untuk menenangkan hatinya selain berdoa. Bercerita banyak hal pada sang pencipta, yang mampu membolak-balik kan hati manusia sesuai keinginanNya.


Terbukti setelah itu, dia lebih tenang. Dapat berpikir jernih. "Bunda tidak akan menangis lagi. Jika pria itu tidak menginginkan kita, maka Bunda akan berjuang untuk mu, untuk kita. Hanya kamu nak yang bunda punya" Kinan terus mengelus perutnya yang masih rata. Bayi nya sudah 14 Minggu, tapi perasaan Kinan sudah menganggap anak nya bisa mendengar setiap perkataannya.


"Maafin bunda nak, mungkin bunda tidak akan bisa memaafkan papa mu. Jangan marah sama bunda ya.." tetesan air mata kembali turun.


Dua hari berselang, Piter merasakan sikap dingin Kinan padanya. Berulang kali Piter mengambil hati semenjak hari itu, tapi Kinan justru menjaga jarak. Bicara hanya seperlunya.


"Kau marah padaku?" tanya nya malam itu.


Kinan menutup buku yang dia baca, lalu meletakkan di meja samping tempat tidur. "Ga. Kenapa aku harus marah?" jawabnya dingin.


"Aku kan sudah minta maaf, kemarin aku benar-benar banyak kerjaan, tapi aku janji, mulai saat ini waktu ku hanya untuk mu dan untuk anak kita" ucap nya menyentuh tangan Kinan.


"Aku ngantuk. Aku tidur duluan" Kinan sudah membalikkan tubuhnya memunggungi suami kardusnya itu.


Piter hanya bisa pasrah. Menatap punggung Kinan. Hari itu dia memang merasa bersalah karena sudah menelantarkan Kinan, tapi itu harga yang harus dia tebus, agar Kirei mau berpisah dengan nya. Kirei ingin ditemani seharian penuh.


Ternyata gadis itu ular. Setelah puas meminta waktu Piter, Kirei minta di temani malam itu. Tidak ada yang terjadi. Bukan peluk cium tapi justru pertengkaran. Semua benda yang bisa di pecah kan sudah habis di banting Kirei. Bahkan saat Piter bersikeras meminta perpisahan dan akan pulang, wanita itu mengambil pecahan gelas dan mengancam akan menyayat nadinya.


Sebejat-bejatnya Piter, pria itu tidak mungkin meninggalkan Kirei dengan ketidakwarasan nya kan? Piter mengalah, memilih untuk tinggal hingga Kirei tertidur.


Sabtu pagi, selesai menyiapkan makan siang, Kinan bermaksud untuk melepas penat nya dengan seharian melakukan perawatan tubuh di salon. Piter menawarkan diri untuk mengantar, tapi Kinan dengan tegas menolak.


Salon terkenal itu memiliki pelanggan dari kalangan selebriti. Pengunjungnya sangat ramai. Jika ingin merasakan pelayanan di sana, sehari sebelum nya harus sudah membooking list dulu, dan beruntungnya pemilik nya kenal baik dengan Kinan.


"Gue kira lo ga mau datang lagi ke salon gue" ucap waria cantik itu menyambut Kinan.


"Cuma salon lo yang cocok sama gue. Kan Lo juga yang make up in gue pas nikah" Kinan menyesali lidahnya yang mengungkit soal pernikahannya.


"Iya, tiga bulan lo nikah, ga pernah lo main ke sindang " cerocos Nelly membawa Kinan masuk ke ruangan khusus.


"Bentar, gue panggil anggota gue yang pro buat megang lo" Nelly keluar di susul seorang gadis yang tengah memakai masker di wajahnya di tuntun oleh salah satu karyawan salon guna mencuci rambutnya.


Kinan hanya melihat sekilas dan kembali ke ponselnya.


"Nih, lo layani nyonya Kinan Danendra dengan baik" ujar Nelly pada salah satunya karyawan nya sebelum pergi.


Gadis muda itu meminta nya untuk mengganti pakaian, agar bisa di lulur, dan Kinan menurut. Tapi ketika hendak beranjak, telpon nya berbunyi.


"Halo?"


"Kamu dimana?" tanya suara pria di seberang sana.


"Aku di salon. Ada apa Ter?" panggilan itu berubah menjadi video call. Kinan ingin sekali tidak memperdulikannya tapi Nelly datang, dengan usil menggeser tombol hijau.


"Istri gue lo urus dengan baik ya. Awas sampai lecet"


"Siap Piter Danendra, gue bakal buat istri lo tambah cantik lagi, biar entar malam lo ketagihan nge-genjot" tawa kedua orang berjenis kelamin sama itu terdengar.


Wanita yang sedari tadi menguping itu mengepalkan tangannya. Amarah menguasai nalarnya. Di lirik nya Kinan yang masih duduk di samping Nelly yang tengah menjawab telpon itu.


"Gue ke kemar mandi dulu, ganti baju" bisik nya pada Nelly yang masih asik bercanda dengan Piter. Tapi langkah wanita si pencuri dengar itu sudah lebih dulu mendahului Kinan, hanya selang beberapa detik, gadis itu keluar lagi, dan Kinan masuk.


Dengan santai wanita bermasker itu kembali duduk dan wajah nya siap untuk di bersihkan. Tak lama, semua orang dalam ruangan itu mendadak heboh mendengar jeritan dari kamar mandi.


"Aduh, kenapa itu si Lina?" ucap Nelly pada salah satu anggotanya yang tengah membersihkan wajah si wanita masker.


"Udah dulu ya ganteng, gue mau lihat anak buah gue dulu. Kemari dong lo jemput istri lo"


Baru menutup telpon, dua orang karyawan salon sudah menggotong Kinan dari kamar mandi, mendudukkan gadis itu di sofa. Wajah nya pucat seolah tidak bernyawa lagi. Yang membuat jeritan Nelly terdengar adalah karena melihat darah segar yang mengalir dari milik Kinan merembes di paha hingga betis gadis itu.


"Ya ampun Kinan. Lo kenapa? kok bisa begini? kenapa dia?" racu Nelly panik.


"Jatuh di kamar mandi kak. Banyak sabun pencuci tangan tumpah di lantai" terang karyawan yang menolong Kinan.


"Kok bisa? mana petugas kebersihan hari ini?" salak Nelly.


"Saya kak, tapi tadi udah saya bersihkan. Ga tahu kenapa ada sabun di lantai"


"Sudah Nell, cepat panggil ambulans" ujar salah satu pelanggan Nelly.


Setengah jam kemudian, Piter sudah sampai di rumah sakit. Wajah nya panik saat mendapat telpon dari Nelly. Awalnya dia kira itu adalah Kinan yang minta jemput, karena menggunakan nomor gadis itu.


"Cepetan ke rumah sakit dekat salon gue, bini lo jatuh" hanya itu yang dia dengar sebelum melaju dengan kencang ke rumah sakit.


Sudah setengah jam dokter di dalam memeriksa keadaan Kinan. Piter mondar mandir tidak tenang.


"Gimana Kinan?" tanya Bee yang baru tiba dengan suaminya. Begitu mendapatkan kabar dari Piter, keduanya langsung meluncur ke sini.


"Belum ada kabar kakak ipar. Dokter masih memeriksa"


Usai kalimat itu di ucapkan Piter, dokter keluar menemui mereka. "Dengan keluarga pasien?" ketiga nya serentak mengangguk.


"Saya mau bicara dengan suaminya, bisa?" tanya sang dokter lagi.


"Sa-saya suaminya dok"


Tidak hanya Piter, Bee dengan setengah memaksa ikut bersama Piter keruang dokter yang tentu saja di ikuti oleh Bintang juga


"Gimana istri saya dok?"


"Maaf pak, kita harus segera melakukan kuret, istri anda mengalami keguguran"