Sold

Sold
Skorsing



Kulit kepala Bee terasa tertarik oleh jambakan kuat Jesi. Semua anak yang tepat di kelas itu mencoba melerai, namun keduanya kini saling Jambak.


"Hei..sudah apa-apaan sih kalian ini? kayak anak kecil..lepaskan..kalian jangan nonton aja, lerai mereka" ucap Nando ketua kelas.


Dengan beberapa bantuan anak, mereka berdua bisa di lerai, masih sama-sama di pegang oleh siswa yang lainnya, tapi keduanya tetap saling maki.


Hari ini, pada jam pelajaran kedua, semua guru mengadakan rapat dadakan, hingga kelas jadi riuh.


"Sini Lo, gue hajar Lo sampe mampus. Ga tahu Lo gue siapa?" teriak Jesi.


"Gue ga takut. Lepasin, biar gue sobek mulut nenek lampir itu" Bee terus meronta-ronta ingin di lepaskan.


"Dasar pec*n, l*nte, lo iri kan gue jadian sama Bintang, sementara lo di lirik juga ga. Dasar model murahan, main sama om-om yang suka booking lo" umpatan Jesi semakin tak terkontrol. Amarah Bee mendidih, dengan sekuat tenaga dia melepaskan diri, berlari menyosor kearah Jesi dan..


Plaaaak..."Lo jangan sembarangan kalau ngomong. Sekolahin mulut Lo biar ga penuh sampah busuk!"


Tak mau kalah, Jesi kembali menjambak Bee, mencakar lengan Bee yang bisa di raih sebelum kembali di pisahkan oleh teman-teman mereka.


Salah satu siswa kelas itu pergi memanggil guru bimbingan konseling yang terkenal ampun-ampun an killer nya.


"Berhenti! kalian pikir ini arena tinju? atau pasar tempat kalian ribut? kalian berdua ikut ke ruang BK, yang lain masuk, jangan ribut. Ketua kelas, kamu catat siswa yang keluar atau pun buka suara bikin gaduh di kelas!" salak Bu Siahaan.


Saat berjalan ke ruang BK pun, keduanya masih sempat-sempatnya untuk saling maki di koridor sekolah. "Masih ribut kalian ini? ga malu dengan kelas lain? kalian itu kelas tiga, senior, harus nya memberi contoh!"


Bu Siahaan sudah masuk ke ruangannya, di ikuti kedua siswa yang tampilannya kini sangat aut-autan. Rambut Bee bahkan setengah berdiri bak singa baru bangun tidur.


"Kalian duduk di sana" Bu Siahaan menunjuk bangku di pojok ruangan, sementara guru itu sibuk menghubungi nomor yang kedua nya sudah tau siapa.


Cukup lama mereka duduk diam di sana, walau bibir diam, tapi keduanya tetap perang lewat tatapan. Kalau tatapan bisa membunuh, maka kedua nya pasti sudah mati.


"Sebenarnya kalian ini punya masalah apa sih? kenapa harus ribut sampai adu jotos? udah merasa jago kalian?" hardik Bu Siahaan.


"Bella Bu yang duluan"


"Apa lo kata? hei..lo yang jambak gue duluan ya!" protes Bee.


"Tapi lo yang duluan nyolot ke gue. Lihat nih bu, pipi saya merah di tampar sama dia" Jesi emang jago akting. Lihat saja, sekarang dia sudah mulai menangis merasa menjadi korban tunggal.


"Kamu keterlaluan Bella, kamu itu cewek, kok punya kelakuan bar-bar kayak gitu?" salak bu Siahaan.


"Dia udah fitnah saya bu, dia ngatain saya yang ga benar"


"Emang berita nya gitu. Lo itu ada main sama om-om"


"Kamu memang kurang ajar ya, tidak menghargai saya di sini. Kamu kira kamu sudah hebat kalau sudah jadi model dan juara kelas? kamu kira kamu itu siapa hah? saya juga curiga kalau kamu itu memang gadis ga benar!" seru bu Siahaan.


"Ibu kenapa jadi ngomong begitu. Ibu udah fitnah saya. Seharusnya ibu sebagai guru tidak memojokkan saya dengan argumen ibu yang belum tentu benar!" balas Bee kesal.


"Kamu ngebentak saya ya..kamu siapa? hah?"


Plaaak! Bee menatap tajam ke arah bu Siahaan sambil memegangi pipinya yang terasa berdenyut dan panas. Guru killer itu menamparnya dan membuat Jesi tersenyum penuh kemenangan. Suasana hening.


Setengah jam berlalu, hingga ruangan bu Siahaan di ketuk oleh dua orang wanita. Tanpa melihat pun, Bee tahu tante Di adalah salah satunya.


"Mami..." teriak Jesi menghampiri arah pintu tempat kedua tamu itu berdiri


"Sayang..kenapa rambut kamu sampai aut-autan begini?" seru ibu nya Jesi panik.


Tante Di mendekati Bee yang masih duduk di tempatnya. Melihat wajah dan penampilan Bee yang juga tak kalah mengerikannya dengan lawannya. Perlahan wanita itu menggenggam tangan Bee. Dia tahu, arti diam nya Bee.


Mimik wajah serta sorot mata terluka itu, meyakinkan tante Di, ada sesuatu yang membuat gadis itu terpukul.


"Baik lah ibu-ibu. Saya memanggil orang tua dari kedua murid kami, karena seperti yang anda sekalian lihat, mereka berdua berkelahi" ucap bu Siahaan.


"Kamu..kamu apain anak saya? lihat rambut indah nya jadi rusak karena kamu" hardik ibu nya Jesi.


"Keponakan saya tidak mungkin menyerang anak ibu, kalau dia tidak di ganggu. Dan lagi, tolong lihat, ponakan saya juga kusut begini" potong tante Di tak terima Bee dipersalahkan sepihak.


"Tapi emang dia mi yang salah, dia ga terima kalau aku dekat sama Bintang Danendra, dia cemburu ga bisa kayak aku dekat sama Bintang. Malah dia nampar aku" ucap Jesi merengek. Bee melirik ke ke arah Jesi dengan tatapan penuh jijik.


"Dasar gadis bar-bar, tidak terdidik. Ga tahu malu, begini kamu diajarin orang tua mu? memang nya kenapa kalau anak saya pacaran sama Bintang? saya kasih tahu ya, model terkenal seperti anak saya ini, pantas nya memang dengan Bintang, dan asal kamu tahu, pria itu sudah melamar anak saya dan mereka anak segera menikah!" umbar sang ibu penuh nafsu.


Tante Di dapat merasakan genggaman tangan Bee mengencang tanda amarah, tapi sebenarnya tante Di yang lebih marah.


Anak dan ibu itu tidak malu mengaku-ngaku mantu nya sebagai pacar anak gadis nya. Ingin rasanya tante Di menampar kedua nya agar bisa sadar, dan melempar photo pernikahan ponakan nya dengan Bintang, tapi itu tidak mungkin di lakukan.


"Saya bisa menuntut anda, jaga ucapan anda" bentak tante Di menatap pada wanita gemuk itu.


"Sudah, ibu-ibu, saya meminta anda berdua kemari, agar membantu untuk mendidik dan menasehati mereka di rumah. Sebagai hukuman nya, kedua anak ini akan saya skors. Tiga hari untuk Jesi dan seminggu untuk Bella" ujar bu Siahaan.


"Kenapa timpang bu?" protes Bee.


"Karena kamu sudah menampar Jesi" pelototan bu Siahaan tidak menggentarkan Bee.


"Tapi dia duluan. Dan lagi tangan saya juga di cakar sampe luka begini bu. Dan ibu juga sudah nampar saya!" kali ini Bee histeris. Tak perduli jika predikat sebagai murid teladan tidak banyak tingkah yang selama ini dia sandang tercoreng. Toh bukan dia yang milih.