Sold

Sold
Pengecut



Satu hal yang harus Bintang lakukan saat ini adalah pergi ke rumah keluarga Setiawan Walau di pikirannya belum tahu pasti apa yang harus dia katakan nantinya. Dia juga tidak akan berani menghadapi Bee.


Hanya dia yang tahu, bahwa kelemahan nya saat ini adalah air mata gadis itu. Jadi dari pada mereka berdebat nantinya, ada baiknya Bintang menyelesaikan masalah dengan Kinan lebih dulu.


Begitu memasuki halaman rumah mewah nan megah milik keluarga Setiawan, Bintang di sambut wajah sumringah Kinan yang setengah berlari menyambut kedatangannya.


"Aku udah lama nunggu kamu. Aku kira ga jadi datang" ucap nya melingkarkan tangan di lengan Bintang, dan menyandarkan kepalanya.


Lidah Bintang keluh. Tidak ada yang bisa dia jawab. Otak nya sedang sibuk bekerja untuk menghadapi tuan Andri Setiawan.


Kedatangan nya hanya karena keterpaksaan. Bahkan Bintang sempat pura-pura mati, agar ibu tidak menyuruhnya datang ke sini, tapi itu hanya sampai di rencananya saja. Nyatanya, raungan Bu Salma yang memaksa nya untuk menemui orang tua Kinan berhasil membawa langkah nya kemari.


"Duduk dulu, aku panggilkan papa" ucap Kinan, menepuk pundak Bintang pelan. Bintang setiap sisi ruangan. Banyak barang-barang antik yang menjadi penghias ruang tamu itu.


Ehem..suara pria enam puluhan itu berhasil menyita perhatian Bintang. Tidak ada rasa gugup, hanya saja rasa tidak nyaman membuat nya sedikit berkeringat di dahi.


"Selamat malam tuan Setiawan" sapa Bintang mengulurkan tangan.


"Panggil om saja, atau papa, biar lebih akrab" jawab pria itu sembari tersenyum menerima uluran tangan Bintang.


Glek. Berat sekali rasa nya Bintang menelan saliva nya. Papa? ini sudah terlalu jauh. Dia datang ke sini untuk menjelaskan bahwa dirinya tidak punya hubungan apa-apa dengan Kinan. Hanya sekedar teman yang saling raba dan hisap..nah kan..Bintang memang masuk kategori buaya tidak nolak bangkai.


"Aku panggil om aja. Maaf om, aku datang malam-malam begini, mengganggu waktu istirahat om"


"Santai saja. Bukan kah kedepannya kita juga harus sering ngobrol? kita keluarga bukan?"


Glek. Semakin berat. Rasanya yang barusan dia telan bukan air liurnya, tapi duri yang menusuk tenggorokan nya.


"Maaf om..aku kemari mau menjelaskan perihal.."


"Diminum teh nya tang.." kalimat Bintang terhenti oleh kedatangan Kinan dengan nampan di tangan. Gadis itu bahkan mengganti pakaiannya dengan gaun indah. Kinan memnag cantik dan menggoda, tapi sayangnya bukan dia pemilik hati Bintang.


Kata-kata yang sudah dia rangkai dan akan dia ucapkan, hilang begitu saja. Kembali dalam hati dia memaki kebodohannya.


Ga bisa, gue ga bisa diam aja. Ngomong Bintang, goblok banget sih lo!


"Om, maksud kedatangan aku kemari untuk men.."


"Kita makan malam aja dulu ya, biar ngobrol nya lebih enak"


Niat nya kembali tertunda. Makan malam pun berjalan dengan obrolan lain. Bisnis, saham dan masa kecil Kinan.


Bintang memang br*ngsek, sebut saja begitu. Tapi tatapan Andri yang begitu hangat membuat dirinya tidak tega untuk merusak suasana hati pria itu.


Ketidaktegaan nya membuat diri nya urung untuk menjelaskan niat nya menolak rencana perjodohan dirinya dan Kinan.


"Makasih ya udah datang jumpai papa" ucap nya berjalan di sisi Bintang menuju mobil dengan tangannya tak pernah lepas menggengam lengan Bintang.


"Mama kamu di mana, Nan?" Bintang baru sadar sedari tadi tidak melihat sosok ibu di rumahnya.


"Aku pulang dulu" Bintang membuka pintu mobil dan masuk ke mobil menghindari Kinan yang bersiap untuk mencium nya.


***


Besok nya, Bintang datang ke rumah untuk menemui Bee. Memintanya untuk sedikit bersabar. Dia akan menjelaskan pada ibu. Bee cukup percaya padanya, bahwa gadis yang akan dia nikahi adalah dirinya.


Tapi ternyata Bee tidak di rumah. Mira bilang Bee pergi sejak siang tadi. Baru lah Bintang ingat, ada jadwal pemotretan terakhir hari ini. Serta syuting untuk iklan produk mereka.


Mobil hitam yang membawa Bintang ke sana melaju dengan cepat. Kurang dari 35 menit, dia sudah sampai di sana. Orang pertama yang dia temui di ambang pintu ruangan itu adalah Kinan.


"Tang..kamu di sini? kangen" dengan manja Kinan masuk ke dalam pelukan Bintang. Pria itu tak bisa berbuat apa, mata nya saling tatap dengan Bee yang melihat mereka dari tempatnya yang sedang melakukan pemotretan.


Dia seolah terpidana mati, yang sudah tidak punya kesempatan untuk hidup. Tatapan mata gadis itu menggambarkan luka yang kini tengah dia rasakan di hati.


Sekuat tenaga, Bee menahan air matanya. Dia tidak ingin semua orang mendadak heboh kalau dia menangis.


"Apa sudah selesai?" tanya Bintang berusaha melepaskan tubuh Kinan.


"Kenapa? udah ga sabar mau ngajak aku jalan? bentar lagi juga kelar" ucapnya malah merangkul lengan Bintang dan membawa pria itu untuk duduk menatap aksi Bee dan kedua rekan nya dalam pembuatan Video.


"Bee cantik ya..tapi hari ini dia murung. Ga tahu kenapa" celetuk Kinan menatap jauh ke depan. Susah payah Bintang menelan ludah, menghirup nafas yang seolah dadanya di hantam besi 100 kilo.


"Apa ada masalah dengan Kia?" lanjut Kinan bermonolog.


"Apa hasil kerja nya terpengaruh hari ini?" masih dengan menatap ke objek yang sama, Bintang melempar pertanyaan pada Kinan.


"Oh.. tidak, Bee model profesional. Dia bisa menyelesaikan. Dan launching produk kita Minggu depan pasti sukses" ucap Kinan mengalihkan tatapan nya pada wajah Bintang. Sebaris senyum muncul di bibirnya. Hati nya memuncah, begitu gembira memiliki pria itu yang akan jadi suaminya nanti.


Segala rentetan kegiatan sudah selesai. Kembali Kinan mengajak mereka untuk makan bersama, tapi dengan cepat Bee menolak.


"Ayo dong Bee" desak Zen untuk kelima kalinya.


"Sorry, kali ini aku ga bisa" tolak Bee sopan. Wajah nya tampak begitu muram, dan Bintang, pria kadal itu tahu, dirinya lah penyebab nya.


"Aku antar pulang" celetuk Bintang yang tiba-tiba membuat semua orang menatap ke arah pria itu. Tapi Bintang tidak perduli. Kalau demi membuat wajah gadis itu tersenyum kembali, dia akan buka suara, mengatakan bahwa gadis itu adalah miliknya, cintanya.


"Terimakasih tuan Bintang. Tapi Kia akan datang sebentar lagi menjemput ku"


Wajah Bintang berubah merah. Dia marah jika Bee harus dekat dengan pria itu lagi.


Panjang umur, orang yang sedari tadi di tunggu tiba. "Maaf aku lama Bee..ayo kita pergi"


Bintang hanya bisa memandangi punggung Bee yang menjauh, tanpa bisa menarik tangan nya. Se-pengecut itu dia.


Tapi tidak semua salah nya. Dia mau maju. Bahkan sangat ingin semua orang di dunia ini tahu, bahwa dia dan Bee bersama, mereka kekasih, bahkan pernah menikah. Tapi Bee pasti tidak setuju akan niatnya. Dia lah yang akan di teror dan juga jadi bahan gosip akun-akun lambe.


Belum lagi masalah ibu, dia sebagai anak tidak ingin menyakiti hati ibu nya. Tapi dia juga tidak akan membuang cintanya. Sampai kapan pun dia tidak akan menikah dengan Kinan!