Sold

Sold
Lamaran #2



"Ibu?" pekik Kinan tertahan. Raut bingung semakin jelas di wajahnya.


"Kalian sudah datang? mari, silahkan duduk" sambut Setiawan berdiri menyongsong para tamu nya.


Bu Salma hanya membelai pipi Kinan, saat melewati nya dan mengikuti langkah Setiawan untuk kembali duduk. Masih bingung, Kinan menurut saat tangannya di tarik Piter untuk bergabung dengan yang lain.


Kalau di sini ada ibu, Bintang dan Bee, sikap papa juga sangat welcome sama Piter..terus ada yang datang mau ngelamar, itu artinya..


Kinan tidak dapat menyembunyikan rona wajahnya. Menunduk adalah cara yang tepat untuk menutupi kegugupannya.


"Jadi kami kesini untuk melamar Kinan, untuk anak ku, Piter" ucap Bu Salma memulai tradisi.


Acara ramalan itu berjalan semestinya. Kinan masih saja belum bisa menenangkan debar jantungnya. Bahagia pasti, bahkan sangat bahagia.


"Aku serahkan keputusannya pada Kinan, karena yang akan menjalaninya adalah dia sendiri, tapi sepertinya Kinan tidak akan menerima pinangan ini, dia sudah tidak ingin bersama Piter lagi, bukan begitu, Kinan?" ujar Setiawan sembari mengulum senyum. Begitu pun keluarga Danendra, merasa geli dengan godaan Setiawan pada putrinya.


"Mau..mau pa..siapa bilang ga mau"


Sontak semua yang ada di ruangan itu tertawa, puas melihat reaksi malu-malu Kinan.


Rampung membahasa masalah pernikahan, acara di lanjutkan dengan makan malam bersama, sembari di selipkan obrolan ringan.


Diam-diam Piter memberi kode pada Kinan untuk mengikuti nya ke luar, duduk di ayunan yang ada di samping rumah.


"Kau bahagia?" tanya Piter menyelipkan rambut ke belakang telinga Kinan. Malu-malu wanita itu mengangguk.


"Di jawab dong. Masa ngangguk aja"


"Iya, aku bahagia" ucap nya menutup wajah dengan kedua telapak tangan nya.


"Kamu kenapa begitu menggemaskan sih" ucap Piter menarik wanita yang sudah melekat di hatinya itu. Mencium puncak kepala Kinan penuh sayang.


***


Seminggu kedepannya, Kinan dipingit, sama sekali tidak boleh keluar, apa lagi bertemu Piter. Tapi bagi Piter, itu seperti memenjarakan hak nya untuk bertemu Kinan. Maka pada hari enam, saat hatinya sudah tidak bisa membendung rasa rindunya lagi, Piter datang mengendap-endap, memanjat balkon kamar Kinan.


Kinan yang tengah asik memasang masker di wajahnya terkejut saat mendengar ketukan di jendela nya. Kinan memperjelas pendengarnya lagi, suara itu hilang. Baru akan merebahkan kembali tubuh nya, ketukan itu terdengar lagi. Kali ini semakin kencang. Takut-takut Kinan mendekati kaca kamarnya, lalu menyibak tirai jendela muncul lah Seraut wajah pria yang bergelantungan penuh perjuangan.


"Piter, kamu lagi ngapain si situ?" teriaknya tertahan.


"Buka dulu dong Nan, keburu aku jatuh Ini"


Dengan sekali melompat, Piter sudah sampai di atas lantai kamar Kinan. Sekilas dia menoleh ke bawah, cukup tinggi juga jarak yang dia tempuh.


"Kamu ngapain manjat? gimana kalau kamu jatuh?" ucap Kinan penuh khawatir.


"Paling mati, Nan..au.." Piter memegang dada nya tempat Kinan baru saja memukulnya.


"Sakit, Nan.."


"Iya deh, sorry. Udah dong jangan cemberut, nanti cantik nya hilang" bisik nya sembari ikut duduk di samping Kinan.


"Makanya, jangan ngomong gitu. Aku takut banget kehilangan kamu" kalimat itu terdengar begitu berat untuk di ucapkan Kinan, tebakan Piter benar, gadis itu menangis.


Piter menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak terasa gatal. Bagaimana mungkin gadis itu bisa mengeluarkan air mata dengan lelucon yang di ucapkan dirinya?


Oh..Tuhan, mungkin ini hukuman baginya, selama ini tidak memperdulikan perasaan wanita dan kebetulan semua wanita yang di kencaninya bukan lah wanita yang cengeng. Kini dia harus di hadapkan pada gadis cengeng, plin-plan, tapi dia cintai.


Sejujurnya Piter tidak suka wanita yang lemah, mudah menangis. Tapi entah mengapa, dia tidak bisa melepas Kinan yang jauh dari sosok wanita idamannya.


"Udah dong, jangan nangis lagi, aku kan cuma becanda"


"Kamu jangan ngomong gitu lagi. Aku takut"


Melihat wajah penuh air mata yang kini mendongak melihatnya, Piter bukan nya jijik seperti yang dulu dia bayangkan setiap melihat wanita yang suka menangis, kali ini justru ingin mendekap dan menghibur gadis itu, menjadi pusat kegembiraan buat Kinan.


"Selama nya aku akan ada bersama mu" ucap Piter mencium puncak kepala Kinan yang memeluk nya erat.


"Kamu kenapa kesini, kita kan lagi di pingit" Kinan masih betah berada dalam pelukan Piter. Berulang kali Kinan menggambar bentuk hati di dada Piter dengan telunjuknya.


"Aku kangen, ingin ketemu sama mu" tangan Piter masih terus membelai punggung Kinan. Bukan ini sebenarnya yang dia rencanakan tadi. Niatnya adalah bertemu dengan Kinan, melepas rasa rindu, dan jika beruntung bisa mempercepat malam pertama yang walau bukan pertama lagi.


Tapi kalau sudah mewek begini, Piter pun tidak sampai hati untuk menggoda dan menyalakan api asmara diantara mereka.


******* Piter semakin berat, semakin lama menyentuh tubuh Kinan, semakin bermain liar pikirannya. Tidak perduli kalau nanti Kinan akan melemparkannya ke bawah balkon atau Setiawan menggorok lehernya nanti.


"Nan.." Piter mengangkat dagu wanita itu, lalu secepat kilat menyatukan bibir mereka. Kinan yang terkejut tidak di beri aba-aba sempat mendorong tubuh Piter, tapi tenaga pria itu lebih kuat, lebih cepat menahan hingga Kinan pasrah, larut dalam buaian bibir Piter yang terus bermain di mulutnya


Tok..tok..tok..


"Nan, kau sudah tidur?"


Kedua pasangan yang sedang dilanda badai gairah itu tersentak. Menghentikan aksi yang yang sebentar lagi menuju puncak.


"Nan, papa mau ngomong sebentar sama mu, papa masuk ya"


"Eh? sebentar pa, aku lagi ganti baju" Kinan bangkit dari pangkuan Piter, wajah tampak panik dan gelisah menatap pintu dan kembali ke wajah Piter.


"Gimana dong, papa mau masuk nih"


"Kamu tenang, aku sembunyi di bawah tempat tidur, kamu buka pintu. Jangan, biar papa kamu ga curiga" tanpa menunggu jawaban Kinan, Piter sudah merangkak masuk ke bawah ranjang.


Padahal Kinan tadi nya ingin menolak ide Piter untuk sembunyi di sana, dia ingin Piter pulang, karena kalau sampai ketahuan, Kinan takut papa nya akan membatalkan rencana pernikahan mereka karena merasa tidak di hargai.


"Pa-pa, a-da apa?" Kinan tampak gugup. Jantung nya serasa mau berhenti. Piter yang mendengarnya justru tersenyum di sana. Tidak pernah terpikir sekalipun kalau dia akan berada di posisinya saat ini, hanya karena takut ketahuan oleh calon mertuanya. Selama ini mengajak wanita untuk tidur dengan nya segampang menjentikkan jari.


"Seru juga nyolong gini, ada sensasi nya" ujarnya dalam hati.