Sold

Sold
Trauma



Sisa kain yang menjadi penutup tubuh nya yang terakhir segera Yosep turunkan, tepat saat pintu rumah di buka paksa oleh seseorang dengan kemarahan yang sangat luar biasa melihat keadaan di ruangan itu. Tanpa ampun pria itu menendang Yosep sekuat tenaga hingga terjungkal ke belakang.


"Sayang, bangun, kamu ga papa kan?" ucap Bintang panik. Mengancing kembali celana jeans milik Bee dan juga kemejanya.


"Riko, photo semua ruangan ini juga pakaian si brengsek itu, dan juga dirinya yang hanya memakai dalaman" salak Bintang. Setelah membenahi pakaian istrinya, Bintang maju menghajar Yosep, memukul dengan membabi buta, bahkan pria itu sudah pingsan tapi Bintang tetap saja tidak perduli, tetap menghajar Yosep. Beruntung Riko segera menarik bosnya, melerai perkelahian itu. Satpam komplek dan dua orang tetangga yang mendengar keributan itu masuk menyaksikan semuanya.


"Lepaskan gue ko, gue bunuh dia. Berani di nyentuh kulit Bee, gue habisi lo b*ngsat!" makinya meronta minta di lepas Riko. Tapi atas perintah Riko, satpam dan dua tetangga Yosep membawa Yosep ke rumah sakit.


"Ayo bos, kita tolong nyonya bos dulu"


Segera Bintang menggendong Bee memasukkannya ke dalam mobil. Sepanjang jalan Bintang mendekap Bee. Berdoa agar Bee baik-baik saja. "Sayang, maafin aku. Harus nya aku tiba lebih cepat lagi" racu nya di telinga Bee yang masih tidak sadar kan diri.


Oleh dokter, Bee dinyatakan tidak apa-apa. pil obat tidur itu lah yang menyebabkan Bee tidak sadar. Bintang dengan setia menggenggam tangan Bee duduk di samping nya.


"Segara buat laporan ke kantor polisi. Pria gila itu harus segera di jebloskan ke penjara" ucap nya dengan penuh penekanan pada Riko.


Satu jam kemudian, Bee sadar. Saat matanya menangkap ruangan yang sangat asing, Bee mengkerut kan kening. Dia sendiri, di tempat tidur yang sama sekali tidak tahu keberadaan saat ini. Namun dari seprei dan juga peralatan medis yang ada di sekeliling nya, baru lah sadar dia ada di rumah sakit. Tapi untuk apa? dia sama sekali tidak sakit.


Perlahan dia menarik benang memorinya, mengingat kejadian terakhir yang bisa dia ingat. Dia datang ke rumah dosen nya, bahkan dia ingat Yosep sedang memeriksa skripsi dan dia menunggu sembari minum minuman yang di suguhkan Yosep. Hanya sampai situ ingatan itu terpugar.


Di pijitnya kening nya yang terasa sakit. Baru akan menurunkan kaki, pintu kamar terbuka. "Kau sudah bangun sayang?" Bintang mempercepat langkahnya. Dia harus pergi meninggalkan Bee sebentar karena harus memberikan laporan pada polisi yang di minta Riko untuk datang menangkap Yosep yang juga tengah dalam perawatan. Wajah nya babak belur diamuk Bintang.


Salah satu petugas yang tidak mengetahui bahwa Bintang lah yang melapor, justru ingin menuntut Bintang karena sudah melukai Yosep, dengan main hakim sendiri. Tapi seorang Bintang Danendra tidak akan takut, terlebih jika menyangkut Bee, neraka sekalipun akan di terjang.


Bintang yang merasa terpancing amarahnya oleh ucapan petugas itu bahkan ingin mengajak nya duel. Namun segera Riko melerai dan meminta petugas membawa Yosep. Tapi petugas yang melawan Bintang masih tetap ngotot ingin membawa Bintang sekalian ke kantor polisi.


Beruntung Piter yang mendapat kabar dari ibu mengenai keadaan yang menimpa Bee segera datang ke rumah sakit, dan sempat mendengar perseteruan abang nya dengan petugas itu.


"Saya pengacara nya. Anda bisa sampaikan apa pun pada saya" potong Piter berdiri di samping Bintang.


"Anda bukan nya Piter Danendra?" ucap si petugas arogan. Piter hanya mengangguk lalu menaikkan satu alisnya.


Merasa lawan nya kali ini terlalu berat, nyali si petugas ciut. Awalnya dia ingin mengolah masalah ini, agar bisa mendapat uang masuk. Tapi kalau harus berhadapan dengan Piter Danendra, sama saja dengan mengikat tali ke lehernya.


"Bintan Danendra" ucap Piter mewakili abang nya yang sudah meninggal kan mereka dan kembali ke kamar untuk melihat Bee.


"Jadi, yang tadi tuan Bintang Danendra?" ucap nya dengan suara tercekat. Nampak nya dia sudah salah milih korban.


Bintang menghampiri Bee, menahan gadis itu untuk tidak turun dari ranjang. "Aku kok bisa di sini kak? aku kan ga sakit"


Penuh sayang, Bintang mencium puncak kepala Bee dan membawanya ke dalam pelukannya. Pelukan hangat yang semakin erat. Bintang begitu takut saat melihat keadaan Bee dengan pakaian yang sudah hampir terbuka.


"Jawab kak, aku kenapa? terakhir yang aku ingat aku ada di rumah pak Yosep, dan skripsi ku? mana skripsi ku kak?" tanya nya panik. Dia bisa mati kalau sampai skripsi aslinya yang berisi tanda tangan dosen penguji lainnya hilang.


"Tenang sayang. Itu di atas meja. Aman" ucap Bintang mengelus punggung Bee. Tampak nya Bintang masih enggan melepas pelukan nya.


"Kalau gitu, apa pak Yosep udah tanda tangan?"


Bintang mengangguk. Riko sudah memerintahkan pria itu untuk tanda tangan pengesahan di skripsi Bee. Tapi Bintang sempat berpikir akan membuat laporan ke kampus. Menemui para dosen di fakultas kedokteran, bila perlu dia akan menghadap rektor agar Yosep di beri sanksi dan meminta penangguhan agar di ganti dengan dosen lain.


Bintang tidak ingin, setiap melihat skripsinya yang tertera nama Yosep sebagai dosen penguji, Bee menjadi trauma.


"Kak, jawab aku. Ada apa ini? kenapa aku sampai di sini?"


Desakan Bee tidak bisa diredam. Bintang tidak punya pilihan lain selain menceritakan semuanya. Tebakan Bintang benar. Gadis itu menangis sesunggukan sembari mempererat pelukannya pada leher Bintang.


Bisa dirasakan pria itu, Bee masih ketakutan atas apa yang menimpanya. Kalau Bintang tidak datang tepat waktu entah apa yang akan terjadi pada dirinya.


Ternyata apa yang di ceritakan Bintang tersimpan dalam memori Bee. Walau tidak mengingat sampai mana Yosep mengerjainya, Bee seolah bisa membayangkan apa yang sudah di lakukan Yosep saat dirinya mulai tidak sadar kan diri. Malam nya setelah kedua nya terlelap, Bee tersentak dalam tidurnya. Meracu hingga mengeluarkan cairan bening di sudut matanya.


"Jangan, lepaskan saya pak, jangan.." suara mengigau Bee membuat Bintang terbangun. Di tepuk-tepuk nya pipi Bee pelan. "Sayang, bangun. Hei..Bee bangun sayang"


Bee semakin larut dalam mimpinya, terpaksa Bintang mengguncang tubuh Bee hingga wanita itu membuka matanya. "Kakak..." pelukannya ketakutan.


"Ssshht..sudah sayang. Jangan takut, itu hanya mimpi. Ada aku di sini bersama mu" ucap nya menciumi kepala kening dan telinga Bee berulang-ulang hingga istrinya bisa sedikit tenang.