
Suara berisik di luar kamar membuat Bee terjaga dari tidurnya. Di lirik jam, pukul tiga pagi. Melihat sisi ranjang yang masih kosong, tanpa melihat pun keluar dia tahu siapa yang berjalan di tangga menuju kamar nya.
Dihempasnya selimut penutup tubuhnya, turun dari ranjang dan bergegas ke luar. Bintang sudah sampai di puncak tangga saat pandangan mereka bertemu. Pak Jarwo yang tubuhnya lebih kecil dari Bintang terlihat susah payah memapah tuan muda nya.
"Itu..itu istri gue..lepasin pak, biar dia yang bantu" racu nya melepas tangan pak Jarwo. Bee masih menatap lurus, diam di tempatnya hingga Bintang menghampiri.
"Sayang...sayang..ku.." ucap sembari berjalan linglung. Bee tidak ingin dia jatuh hingga menangkap Bintang dan menemaninya ke kamar. Pria itu sudah mulai tidak sadar kan diri saat Bee menghempaskan nya ke ranjang.
Apa yang membuat pria itu sampai mabuk masih terus berputar dalam pikiran Bee. Dia sudah menyiapkan makan malam, menunggu pulang, tapi hingga jam 12, suaminya itu tidak kunjung datang. Bee juga sudah mencoba menghubungi, tapi ponselnya di matikan.
Tak sampai di situ, untuk mengurangi rasa khawatirnya, Bee menghubungi Riko yang mengatakan tidak tahu akan keberadaan Bintang, karena sejak pukul tiga sore sudah meninggalkan kantor.
"Kamu kenapa kak? aku sedih lihat kamu begini" cicitnya masih memandangi wajah Bintang yang malam ini temaram. Seolah mendengar, Bintang terduduk dan menarik pinggang Bee, meletakkan wajah nya di atas perut buncit Bee.
"Anak papa..kapan kamu keluar? papa mau ketemu. Papa yakin kamu akan jadi anak perempuan yang cantik kayak mama mu. Cepat keluar nak, bilang sama mama, jangan jahat sama papa. Jangan tinggalin papa..." ucap nya masih memejamkan mata, menciumi setiap jengkal permukaan perut Bee.
"Ga ada yang mau ninggalin papa. Mama, bang Saga, sama dedek yang ada dalam perut, sayang sama papa" bisik Bee mencium puncak kepala Bintang. Meremas rambut pria itu. Sedetik kemudian, yang terdengar hanya bunyi nafas Bintang yang naik turun. Pria itu sudah jatuh dalam mimpinya, terasa berat menimpa tubuh Bee.
Susah payah Bee membaringkan bayi besar itu, mengganti pakaiannya dan menyelimuti. Ditatap nya wajah yang begitu dia rindukan. Dia begitu rindu candaan Bintang, dia rindu bermanja-manja dengan pria itu. Tangan Bee terulur mengelus pipi Bintang dan mengecup.
"Apa pun yang kau risaukan kak, percayalah aku selalu ada untuk mu, mencintai mu"
***
Rasa pusing yang menghantam kepala Bintang membuat nya uring-uringan. Pagi tadi dia bangun, tidak mendapati Bee di kamar. Pakaian dan segala keperluan nya sudah di siapkan, tapi karena Bee lebih dulu pergi kerja dia jadi kesal. Jarum jam memang sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat dua puluh menit.
Tidak ada satu pun yang membangun kan nya. Kata para pelayan itu instruksi dari nyonya mereka.
Bintang memang memutuskan untuk tidak ke kantor hari ini, bermain dengan Saga sepanjang hari. Sudah lama dia tidak meluangkan waktu untuk anak nya itu.
Berbagai kegiatan mereka lakukan, mulai dari berenang, makan, main bola, tidur siang kembali makan dan membeli semua jajanan di swalayan dekat rumah mereka.
"Papa, udah sole, jemput mama yok" ucap Saga yang menjadikan tubuh papa nya sebagai kuda-kudaan. Bintang melirik jam dinding, masih pukul empat sore.
"Bentar lagi ya boy, mama juga pasti lagi sibuk" ucap Bintang masih memejamkan mata. Rasa ngantuk masih menguasainya.
"Papa kenapa sih diam-diam an sama mama?"
Berjanji setelah mandi sore, mereka akan menjemput mamanya, Saga bersemangat masuk dalam bak mandi. Biasanya Mira yang akan memandikan Saga, tapi kali ini, Bintang mengambil alih semua urusan yang berhubungan dengan Saga sejak pagi tadi.
"Saga suka nya adik perempuan apa laki-laki?" tanya Bintang diselingi menyabuni tubuh Saga.
"Aga mau dedek cewek yang cantik kayak mama"
"Memangnya mama Saga itu cantik?"
"Cantik dong pa" ucap Saga tegas, menjauhkan tangan papa nya dari tubuhnya agar Bintang melihat keseriusan perkataan nya.
Jalanan cukup senggang, hingga mereka bisa tiba di depan klinik lebih cepat dari perkiraan. Mobil Bee masih terparkir di sana, yang artinya wanita itu masih belum pulang. Fokus Bintang tersita oleh mobil yang sangat familiar dalam ingatannya. Wajah nya berubah pias. Tubuh nya menegang menahan emosi.
"Ayo pa, kita masuk" rengek Saga tidak sabar.
"Bentar nak. Kita tunggu mama di sini aja ya, nanti ganggu kerjaan mama" pinta Bintang mencoba mengulur waktu. Dia ingin mencoba menenangkan hati dan meredakan amarahnya.
"Ga mau. Aga mau ketemu mama" keras kepala Saga yang terus merengek minta masuk, hingga Bintang mengalah. Lagian biar semua jelas. Dia ingin memergoki perbuatan istri. Habis sudah kesabarannya. Jika nanti di sana dia melihat hal yang menyakitkan, maka dia harus siap, walau hati nya pasti tidak terima.
Dengan langkah pelan, Bintang memasuki klinik. Bintang tidak perlu bertanya di mana ruangan Bee pada perawat, karena dia pasti sudah tahu.
Masih berdiri di depan pintu, terdengar suara tawa yang dia kenali milik istrinya, dan ditimpali oleh suara pria yang sudah berhasil menghancurkan ketenangan Bintang.
Entah apa yang mereka bahas, tapi Bintang bisa lihat topik pembicaraan mereka sangat menarik, Bee berulang terbahak atas apa yang di lontarkan pria itu.
"Mama.." Saga menghambur ke dalam memeluk Bee. Sempat Bintang tangkap kalau kehadiran mereka yang tiba-tiba membuat Bee terkejut dan ketakutan.
"Sa-ga datang nak..kak Bintang" suara tercekat Bee menyapa Bintang yang berdiri diambang pintu. Berdiri dengan melipat tangan di dada. Tatapannya mengunci mata Bee hingga wanita itu lemas tak berdaya.
"Kak..masuk sini. Masih ingat Kia?" ucap Bee tampak salah tingkah. Dia bisa menebak, pikiran suaminya sudah berkelana kemana-mana dengan tafsiran nya sendiri.
"Hai.." sapa Kia dengan tampang cuek dan sok cool nya. Sejak dulu Kia memang tidak menganggap Bintang sama sekali. Tepatnya Kia membenci pria itu karena dulu sudah membuat hidup Bee menderita.
"Kau belum pulang? ini sudah pukul lima lewat" ucapnya pada Bee, tidak sudi membalas sapaan Kia yang bahkan tidak ingin dia lihat.