
"Gimana sekolah nya? udah mau ujian semester kan?" kalimat pembuka dari Bintang, setelah sepuluh menit saling diam.
Bee yang memilih duduk di depan Bintang seolah cuek memainkan ponsel nya, padahal jantung nya udah mau loncat.
"Ini juga udah mau kelar ujian semester, mau libur malah.." sahut nya berlagak cuek.
Duh..kenapa dia mandangin gue sih? nervous kan gue. Mana nih cowok makin cakep lagi. Kok bisa ya ada cowok kayak dia? cakep nya pake banget.. aduh..gue ngelantur lagi. Sadar Bee..cakep an juga Elang..
"Liburan nanti kemana?" Bintang masih mengunci tatapannya pada gadis itu.
"Ke Pekanbaru, kangen sama pacar.." ucap nya seolah menekankan kata pacar..
Bee bego, kenapa seolah gue jadi mau buat dia cemburu? duh..kok gue bersikap bego terus sih di depan dia? otak gue mentok, beku ga bisa mikir..
Setelah ucapannya itu, Bintang memilih dia. Begitu pun Bee. Hingga saat Bintang melirik jam di pergelangan tangannya, Sudah pukul delapan malam. Rasa sakit yang kembali menyusup di hatinya, membuatnya memutuskan untuk pamit.
"Udah pukul delapan, aku pamit pulang dulu ya?"
"Oh..ya udah silahkan..ga enak juga kan nahan di sini, sementara ada yang nungguin di sana, secara ini malam Minggu, pulang gih.." ucap nya meracu, ga sadar akan apa yang sudah dia ucapkan, yang malah menunjukkan dia kesal karena Bintang mau pulang.
"Ga kok, malah aku mikir kamu yang ke ganggu aku di sini" sela Bintang.
"Ga usah cari alasan..kayak gue ga tahu aja lu jalan sama model yang mana-mana. Udah pergi sana. Gue juga ga ngarep lu mau tinggal lebih lama di sini" sungut nya menghentakkan kaki. Kini berani terang-terangan menatap pria itu.
"Salah lagi.." batin Bintang. Namun satu hal yang dia sadari, gadis itu kesal jika di pergi saat ini juga.
"Temani aku makan bakso yuk.." celetuk Bintang setelah beberapa menit saling diam lagi.
"Gue ga lapar" jawab Bee ketus.
"Gue yang lapar, temani gue Please.." sambil tersenyum memohon dengan wajah menggemaskan.
"Mau ya.."
Berjalan beriringan tanpa bicara, menyusuri jalanan di sekitar perumahan tempat tinggal Bee. Di sana ada warung bakso pinggul jalan yang rasa nya juara banget. Selalu rame
"Lu ga papa kan, makan di pinggir jalan?" tanya Bee seolah menilai pria itu.
"Dimana aja aku ok, asal sama kamu"bisik nya di dekat telinga Bee.
Serrrrr...darah Bee berdesir, bulu kuduk nya meremang. Senjata utaman nya ya nunduk diam.
Banyak nya pengunjung, membuat Bintang punya topik untuk mengajak Bee..ngobrol. Dan ternyata setelah melebur, mereka nyambung, terdengar suara tawa Bee yang saling susul dengan Bintang.
Setiap tertawa lepas, Bintang akan menatap wajah cantik gadis itu. Begitu terpesona. Begitu pun dengan Bee. Lama menyadari pria itu tak seburuk pikirannya.
Dia lumayan.. menyenangkan. Di jalan pulang pun, mereka masih saling bercerita, cerita lucu dari berbagai topik. Sinar rembulan menyinari tiap langkah mereka. Sesekali jari mereka tanpa sadar saling bersentuhan. Entah sejak kapan, Bintang sudah mengaitkan jari nya, dan tebak..Bee tidak menarik tangannya. Malah tersenyum dan menunduk. Berjalan di bawah sinar bulan, saling berpegangan tangan, melewati rumah-rumah tetangga, gang hingga sampai di depan rumah tante Di.
"Makasih ya udah temani aku makan bakso" ucap Bintang masih menggenggam tangan itu.
"Sama-sama. Makasih juga udah di traktir" balas nya pelan. Bintang mengulurkan tangannya, membelai rambut Bee, lalu mengelus pipi lembut itu.
"Masuk lah..istirahat. Jangan sampai masuk angin"
Malam itu rasa nya beda. Dia seolah jatuh cinta tanpa di sadari. Senyum-senyum sendiri. Hingga dua Minggu kedepannya, Bee tak lagi merisaukan Elang yang masih hilang dari peredaran.
***
"Udah siap? ga ada lagi yang ketinggalan?" tanya tante Di memastikan.
"I'm ready to go, tan.." sahut Bee bersemangat.
Hari ini dengan penerbangan pagi, dia akan berangkat ke Pekanbaru. Semalam papa nya juga sudah di kabari, dan akan menjemputnya di bandara.
"Kamu lelah nak?" tanya papa melihat putri nya yang hanya diam, menatap keluar jendela mobil.
"Ga pa..hanya saja tanah kelahiran ku ini kenapa terasa asing ya..padahal baru enam bulan lalu dari sini.
"Pa, aku mau turun di rumah Caca, boleh ya? aku mau kasih kejutan buat mereka" pinta Bee.
Caca sedang mengecat kuku nya, saat Bee memberi nya kejutan.
"Kapan kamu nyampai Bee?" tanya Caca gembira melihat kehadiran Bee.
"Baru aja. Ini langsung dari bandara"
"Duh..seneng banget kamu udah pulang.." Caca menari tubuh Bee untuk bisa dia peluk.
"Ca, temani aku nyari Elang yuk" karena itu lah tujuan awal Bee. Ingin mencari pria itu, memastikan status hubungan mereka.
"Duh cantik, ngapain sih lagi ngurus pria kain lap macam dia, rugi. Udah nyari yang lain aja" Caca jengah, melihat Bee yang selalu saja mengharapkan Elang. Jelas-jelas pria br*ngsek itu ga bisa menghargai dirinya.
"Ga bisa Ca..aku masih sayang sama Elang"
"Pasti bisa. Kalau aku bilang nih ya, kamu itu bukan cinta, bukan sayang, hanya saja terobsesi pada Elang, karena sedari kecil udah suka sama dia. Rasa suka sewaktu kecil itu pasti beda dengan sekarang. Dengar ka. aku Bee, kami semua sayang sama kamu, dia ga pantas buat kami, lupain dia.." pinta Caca.
Sesaat Bee berpikir. Apa benar apa yang di ucapkan Caca?itu bukan cinta, hanya obsesi masa kecil?
Hampir dua hari di Pekanbaru, Elang masih tak datang menemui nya. Bee yakin sekali kalau Elang tahu dia sudah pulang.
Hari ketiga, saat Bee dan teman-temannya, ngumpul di cafe biasa tempat lapak mereka, Elang datang bersama tiga orang teman nge band nya.
Tak mungkin menghindar, nyatanya mata sudah bertemu mata. "Hai Bee..kamu di sini?" tanya Elang basa basi.
"Udah tiga hari, pacar apaan kamu?" sewot Caca mendelik.
"Bee.." belum selesai bicara, Eki, basis band nya menarik Elang, bicara sesaat. Elang tampak lama berfikir, lalu sesekali melirik Bee, lalu menatap wajah Eki, mendengar dengan seksama ucapan Eki.
Tak lama Eki dan kedua teman yang lain pergi meninggalkan cafe. Elang datang ikut bergabung bersama d'MBG.
"Kita jalam Bee, ada yang mau aku omongin ke kamu" seru Elang menatap Bee yang masih tetap tak buka suara.
Dorongan untuk bersama Elang masih besar, nyatanya dia mengikuti juga apa yang di minta pria itu.