Sold

Sold
Saling balas



Tidak ada manusia yang sempurna, karena sejatinya kesempurnaan hanya milik Tuhan. Tapi kata sempurna berulang kali di ucapkan MUA yang mendandani Bee malam ini.


"Kau sangat sempurna la Bella. Dan cowok macho itu juga tampan" ujar Dona genit sembari sesekali melirik Kia. Dona yang nama aslinya Dodi itu pun mengoles tipis lipstick merah sebagai sentuhan akhirnya.


Acara launching itu kembali di adakan fi ballroom hotel mewah L'hotel de Lune milik Bintang.


Tiba di parkiran hotel, duga Kia sudah menggandeng lengan Bee dan berjalan beriringan bersama gadis itu. "Kalau orang lain lihat, kita ini udah kayak pacaran ya Bee, tapi nyatanya lo masih gantungin gue" bisik Kia di dekat kuping Bee yang membuat Bee tersenyum. Lampu blitz beberapa kali menerpa wajah mereka, juga teriakan para fans yang memanggil nama Bee.


"Gue baru tahu kalau lo gantung baju" jawab Bee ikut berbisik hingga Kia memasang wajah masam yang kembali berhasil membuat Bee tergelak.


Dia begitu beruntung memiliki Kia Yang's setia di sisinya ketika dia rapuh. Dia memang tidak menceritakan apa pun perihal perpisahan dirinya dan Bintang, tapi Kia cukup paham tanpa harus bertanya.


Seminggu setelah Bee mengucap kan kata keramat itu pada Bintang, kedua nya tidak pernah bertemu lagi, hingga malam ini. Seandainya Bee bisa memilih untuk tidak datang..


Dari pintu masuk Bee sudah bisa melihat panggung mewah yang begitu indah untuk penampilan artis yang akan tampil malam ini.


"Ayo, kita duduk di sana aja" Kia sudah menarik tangan Bee, menuju salah satu meja bulat yang bertuliskan nama nya.


Tepat saat akan duduk, Zen dan Hera muncul yang ternyata di tempat kan satu meja dengan mereka, begitu pun dengan Seba yang membawa satu brondong yang digosipkan adalah pacarnya.


Terjadi percakapan seputar produk mereka yang berhasil mengalihkan perhatian Bee pada sosok yang kini tengah menatap nya dari tempat nya yang jauh di sana.


Rahang nya mengeras melihat penampilan Bee yang begitu memukau. Bintang bahkan tidak memperhatikan rangkaian acara, karena habis orang yang bicara di depan, yang tidak lain adalah tuan Andri Setiawan, maka akan tiba gilirannya.


Rasanya acar itu begitu membosankan karena hati dan pikiran hanya tertuju pada gadis itu, dan jua Kia yang membisik sesuatu hingga membuat Bee tertawa, menambah cantik wajahnya.


Di bawah meja, kepalan tinju Bintang sudah dia kepal sejak tadi, dan ingin segera menyapu wajah Kia. Tapi dia sadar, dia tidak punya hak lagi. Kepergian sejak malam itu, membuat hati Bintang mengeras. Dia tidak akan pernah memaafkan gadis itu untuk penghianatan nya.


Acara formal, usai, berlanjut dengan jamuan makan malam untuk beberapa kalangan, termasuk para model dan segenap kru yang terlibat.


Bee tampak menikmati suasana karena sibuk menanggapi sapaan dari banyak orang yang menatap puja padanya, terlebih kaum hawa. Beberapa diantaranya juga meminta photo padanya.


Semua itu tidak lepas dari pengamatan Bintang. Berulang kali otak nya tidak sejalan dengan hatinya. Kalau pikirannya meminta dia untuk tidak memperdulikan Bee, lain halnya dengan hatinya yang terus mengikuti kemana pun Bee melangkah.


"Bagaimana tuan Danendra?" panggilan dari Sutiyoso yang sedari tadi mengajaknya ngobrol tidak dia tanggapi. Sedikitpun tidak masuk kedalam pikirannya.


"Iya?" ulang Bintang merasa tidak enak.


Kinan sudah berjalan ke arah Bee dan yang lainnya. Menyapa sekaligus mengucapkan terimakasih untuk kerja keras mereka. Sambutan masyarakat sangat positif dan permintaan akan produksi gaun mereka meroket.


Ikhlas, kata itu terus dia dentangkan dalam hatinya. Pintu untuk bersatu dengan Bintang sudah tertutup rapat, dan sebaiknya dia pun mulai bergegas untuk melanjutkan hidupnya.


"Bee, kamu terlihat sangat menawan, cantik sekali. Kadang aku iri dengan tubuh indah mu" ucap Kinan jujur. Dia sangat mengagumi Bee dan menilai Bee adalah wanita yang sangat baik, ramah dan pasti nya menyenangkan dijadikan teman. Tapi hal itu tentu saja selama Kinan tidak tahu yang sebenarnya.


"Makasih mbak. Tapi mbak Kinan juga ga kalah cantik" kedua lalu terlibat obrolan seru. Kayaknya mereka memang nyambung satu sama lain.


"Kapan-kapan kita jalan bareng yok. Kamu asik deh orang nya" ucap Kinan menyentuh tangan Bee. Tidak enak menolak, tanpa sadar Bee mengangguk.


Obrolan mereka terhenti kala satu lagi romantis, di putar. Lantunan syahdu itu membuat MC acara yang juga mengetahui kedekatan Bintang dan Kinan, meminta kedua nya untuk turun berdansa bersama pasangan lain.


Wajah Kinan bersemu merah, menatap ke arah Bintang, seolah menunggu kedatangan pria itu menjemput nya. Bintang memang melihat ke arah nya, tapi bola mata nya menatap tajam ke wanita di samping Kinan.


Dewa api dalam diri Bintang menyala. Ingin membakar Bee saat itu juga. Bintang berjalan, dan dengan senyum licik nya di mengulurkan tangan pada Kinan tepat di hadapan Bee.


"Sudi kira nya, wanita tercantik di ruangan ini berdansa dengan ku"


Kinan terkikik melihat gaya Bintang yang menawarkan diri. Dengan wajah penuh senyum, Kinan menerima uluran tangan Bintang dan ikut bersama nya.


Sekuat apa pun Bee mengalihkan pandangannya untuk tidak melihat kedua nya berdansa, menikmati alunan musik, tapi Bee tidak bisa. Sudut hatinya begitu sakit. Air mata sudah merebak bersiap untuk turun yang sekuat tenaga dia tahan.


Lantunan lagu itu berhenti, Bintang membawa Kinan ke pinggir, kembali ke tempat nya tadi bersama Bee. Tapi lantunan lagu ke dua mulai, dan beberapa pasangan sudah mulai kembali berdansa di tengah ruangan.


Bee menunduk, tidak ingin melihat wajah puas Bintang yang berhasil memporak-porandakan hatinya. Saat seperti ini justru Kia tidak ada bersama nya. Pria itu meminta izin untuk menjawab telepon dari kolega nya.


Harapan Bee, seseorang datang menyelamatkan nya. Membawanya pergi dari dekat Bintang dan Kinan kini. Harapan nya terkabul, seorang pria bule, Mark Levi, pengusaha muda datang ke arah mereka, tanpa memandang ke arah Bintang dan Kinan, mengulurkan tangannya pada Bee.


"Mau kah anda berdansa dengan ku?"


Bee sama sekali tidak mengenal nya, tapi kehadiran pria itu tentu jalan satu-satunya yang bisa menyelamatkan dirinya dari Bintang.


"Tentu saja" ucap nya memberikan senyum terbaik nya yang sempat Bintang tangkap.


Di temani segelas anggur, Bintang menatap gerakan kedua pasangan itu. Tampak sesekali Bee tertawa oleh sesuatu yang di ucap kan Mark.


"Dasar murahan. Begitu mudah bergembira dengan pria mana pun. Terkutuk lah kau Bee!" batin nya mengerang.