
Sentuhan di pundak Kinan menarik nya kembali ke alam nyata. "Papa" cicitnya menatap pria yang kini duduk di sampingnya.
"Kenapa bengong?" Setiawan menyandarkan punggung nya di sofa, mengangkat satu kakinya dan menjadikan kaki yang satu sebagai tumpuan.
"Pa.." Kinan menatap lekat wajah yang sudah banyak kerutan itu. Apa yang akan di sampaikan nya mungkin tidak akan di sukai pria pertama yang dia cintai itu.
"Katakan. Papa mengenal mu, jika seperti ini pasti ada yang sedang mengganggu pikiran mu"
Hufffh.. terdengar Kinan membuang nafas berat dan panjang. Bingung harus memulai dari mana. Tapi kembali memorinya membawa pada pembicaraan nya bersama Piter kemarin.
"Aku tidak akan melepaskan mu, Nan. Aku menginginkan mu di sisiku" bisik Piter membelai wajah Kinan dengan lembut. Ruangan kerja Kinan mendadak panas, padahal pendingin udara berfungsi dengan baik.
Tubuh Kinan tidak bisa menghindar lagi. Dikungkung oleh tubuh Piter hingga tubuh sintalnya bersandar ke pintu keluar.
Awal cerita, Piter yang sudah membujuk Kinan untuk membatalkan perceraian itu tidak berhasil, Kinan tetap memegang pendiriannya untuk bercerai. Dia tidak bisa mundur lagi, terlebih papa nya pasti tidak akan setuju.
Cukup lah dua kali dia mengobrak-abrik hati papa nya, mempermalukan pria itu. Pertama kali membuat papa nya bersedih, adalah mengenai kehamilan nya, lalu ke dua keinginannya untuk bercerai, setelah papa nya setuju, tidak mungkin Kinan menjilat ludah nya sendiri.
"Aku tidak akan menandatangani surat cerai sialan itu!" umpat Piter geram melihat Kinan yang tetap bungkam walau sudah hampir tiga jam dia membujuk gadis itu.
Tidak adanya sambutan dari Kinan, Piter memutuskan untuk pulang dulu, terlebih karena dia harus bertemu klien baru nya sore ini.
"Aku pulang dulu" ucap nya berdiri. Jarak keduanya bagai satu sama lain takut terkena penyakit menular dari yang lainnya. Jauh!
Melihat Piter melangkah menuju pintu keluar, Kinan bangkit dan berjalan mengikuti langkah Piter, berencana untuk mengantar tamu tidak diundang nya itu hingga batas pintu, tapi yang terjadi, setelah Kinan dalam jangkauannya, Piter menarik tubuh Kinan dan menyandarkannya ke pintu, mengunci dengan himpitan tubuh kekarnya.
"Kembali lah padaku. Aku pasti akan membuatmu bahagia, Nan. Aku ingin bersama mu" naik turun jemari nya membelai pipi mulus Kinan. Sentuhan pria besar itu tentu membawa efek yang luar biasa pada tubuh gadis itu. Kinan bahkan menutup mata, menikmati sensasi nya. Bahkan tanpa sadar dirinya menggigit bibir bawahnya! Oh.. Kinan kau sungguh lemah!
Piter tersenyum melihat kehebatannya membuai gadis itu. Ini yang dia harapkan, membawa gadis itu ke pusaran g*irah hingga. Perlahan Piter memberi efek kejut pada gadis itu, mendekatkan bibirnya dan mulai menjelajahi lekukan manis bibir Kinan. Awalnya hanya menggoda, memberi kecupan tipis, tapi justru Piter lah kini yang tidak bisa menahan h*srat nya.
Keduanya melebur menjadi satu, menikmati ciuman itu dengan dentingan jarum jam yang berputar. Tangan Piter bahkan sudah menapaki setiap jengkal tubuh Kinan hingga rasanya tubuh gadis itu terbakar. Piter menggila dan Kinan terperangkap.
Entah sejak kapan mulanya, kini Piter sudah turun ke leher Kinan, mengecup, mengisap dan meninggalkan jejak kepemilikan di sana. Kinan hanya bisa meremas ujung blazer nya menahan sesuatu di bawah sana yang terasa sudah keluar. Dia basah dan menginginkan lebih.
Melihat mangsa sudah terbuai, Piter sudah akan berinisiatif menggendong tubuh yang menjadi istri nya itu kembali ke sofa di ruang tengah ruangan itu, tapi ketukan di pintu membuat Kinan kembali di tarik ke dunia nyata, dunia tipu-tipu!
"Ya Vin?" suara Kinan bergetar. Kinan tampak gugup terlebih saat mata Kevin, asistennya yang di tugas kan papa nya untuk membantu sekaligus menjaga Kinan menatapnya sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Aku perlu tanda tangan mu, dan kita bisa pulang setelahnya" ucap nya kini melihat ke arah Piter dengan tatapan tidak senang.
Si tengil Piter justru tidak perduli. Dia pengacara hebat, sekali lihat saja, dia tahu kevin bukan sekedar asisten biasa Kinan. "Sayang, aku pulang dulu. Hei, asisten antar istri ku ini sampai rumah dengan selamat" ucap nya menepuk pundak Kevin dua kali lalu berlalu pergi.
"Malah bengong" tegur Setiawan menarik Kinan kesekian kali ke alam sadar.
"Pa, kalau..kalau aku ga jadi cerai dengan Piter, gimana?" ucap nya takut-takut.
Sial memang, mudah saja bagi Piter untuk membolak-balik kan hati nya. Ketegaran hati nya untuk bercerai nyatanya bisa oleng hanya karena bujuk rayu dan di tutup dengan ciuman panas.
"Maksud kamu apa, Nan?" Setiawan menyerongkan duduk nya, menghadap Kinan dengan guratan kebingungan di dahinya.
"Maksud aku.. gimana kalau aku batalkan gugatan cerai ku"
"Ga bisa! papa ga setuju! Kamu harus tetap bercerai dengan si br*ngsek itu!" hardik nya keras.
"Bukan nya papa awalnya tidak menyetujui perceraian ini?" sungut Kinan merajuk.
"Benar. Awalnya memang iya. Tapi karena papa lihat kamu bersungguh-sungguh ingin bercerai, dan papa lihat juga si biawak itu tidak ada itikad baiknya untuk membahagiakan mu, maka papa pikir lebih baik kalian pisah. Papa sudah punya calon untuk mu!" ucap Setiawan tegas. Menutup kalimatnya dengan melempar buku yang sedari tadi ada di tangannya ke atas meja.
"Papa, apa-apaan sih. Cerai aja belum, udah mau jodohin aku lagi. Ngaco" Kinan sudah beranjak pergi. Dia tidak ingin berlama-lama di sana, papa nya pasti akan merayunya untuk menerima perjodohan gila itu!
"Dasar Piter brengsek, ini semua salah mu. Kenapa sih harus ada kamu dalam kisah hidupku!" rutuk Kinan menghentakkan kakinya sebelum naik ke tempat tidur.
Apa lagi yang bisa dia lakukan. Papa nya sudah menutup pintu maaf bagi Piter, dan Kinan tidak akan melawan keinginan papa nya kal ini. Ini adalah perjanjian nya dengan Setiawan saat dirinya minta diizinkan untuk bercerai dengan Piter.
Kalau saja ada yang bertanya apa yang dia inginkan, tentu saja dia menginginkan pria biawak itu untuk menjadi suaminya, buka ln pilihan papanya.
"Ini semua karena ciuman sialan itu!" maki nya bermonolog. Kalau saja dia bisa menolak pesona Piter, dan tidak menerima ciuman itu hati nya tidak akan seberat ini untuk melangkah. Tapi kini, dia benar-benar tidak ingin berpisah dengan pria sialannya itu.
Di tatapnya layar ponselnya, di sana ada photo dirinya dan Piter saat menikah dulu. "Kau, guna-gunain aku ya? kenapa ciuman kamu senikmat itu sih?"