Sold

Sold
Was-was



Bukan tanpa alasan Kiki mengajak Bee untuk menjauh dari sana. Ada yang harus dia sampaikan pada Bee tanpa di dengar Bintang.


"Kita mau kemana sih Ki? jauh amat sampai keluar ballroom?"


"Gue mau ngomong sesuatu yang mengganggu pikiran gue"


"Apa?" tanya Bee penasaran.


"Si Hana itu siapa sih?"


"Teman gue, tadi kan gue udah bilang"


"Iya, teman gimana Maemunah? gue tahu lo di sini ga punya teman sedekat itu sampe datang kondangan bertiga, di lihat orang udah kayak istri kedua Bintang tau ga?"


"Apaan sih lo?" Bee ga suka ucapan Kiki. Bagaimana pun dia tidak suka orang lain memandang Hana sebelah mata. Walau pun dia adalah pengasuh anak nya tapi Hana bukan pelayan, atau pun baby sitter. Dia hanya wanita baik yang di mintai tolong oleh Bee untuk menjaga anak-anaknya sampai dia menemukan pengasuh anak-anak yang mau di pekerjakan.


"Gue serius. Lo jangan terlalu naif ya. Gue tahu lo memang selalu berpikiran positif sama orang. Saat nya lo buka mata. Lo ingat kan sama Elang, itu juga karena lo terlalu gampang di bodohi" ujar Kiki geram melihat kenaifan Bee dalam berpikir.


"Maksud lo apa sih Ki? gue ga paham"


"Masih ga paham juga lo? si Hana pengen ngambil suami lo!"


Suara Kiki begitu jelas di dengar Bee tapi kenapa rasa nya sulit untuk memahami maksud Kiki. Jujur Bee tidak paham. Entah sebenarnya tidak paham, atau justru dia tidak mau mencoba memahaminya.


"Pikiran lo kejauhan. Hana itu wanita terhormat, dan lagi dia itu putri bangsawan. Gue yang serumah dengan nya. Gue yang tahu sikap dia, dan asal lo tahu, dia baik banget. Dia bahkan ga mau nerima duit yang gue kasih karena memang dia sayang anak-anak. Dan asal lo tahu, dia ga ada tuh gelagat buat ngedekatin kak Bintang. Kalau ada ga mungkin dia udah berbulan sama kita, gue ga nangkap satu pun?" terang Bee panjang lebar berharap Kiki bisa menghapus pra duga nya.


"Dasar lo ya, ga ngerti lagi gue. Lo bilang udah berbulan tinggal bareng lo tapi ga nemu gelagat dia yang coba dekati Bintang? Gue perhatiin lo bertiga di pelaminan pas nyalam abang gue, si Hana coba menyentuh tangan Bintang, tapi buru-buru di tepis nya. Lo bilang gada niat dia sama lakik lo?"


"Lo salah liat. Atau pun kalau iya, mungkin aja ada sesuatu yang mau di sampaikan Hana pada Bintang"


"Serah deh ya kalau lo ga percaya, yang penting gue udah kasih tahu. Ayo balik, keburu wanita itu nyulik suami lo" Kiki sudah menarik tangan Bee untuk kembali ke meja mereka. Masih memasuki ruang ballroom, langkah Kiki terhenti yang otomatis membuat Bee menubruk tubuh sahabatnya itu karena sejak tadi jalan menunduk. Sedikit banyaknya, apa yang di katakan Kiki merasuki pikiran nya.


"Noh lihat si putri bangsawan lo, lagi ngajak lakik lo ngomong, bahkan udah berani pegang-pegang lengan suami lo" ucap Kiki menahan geram. Dia saja yang ngefans berat sama Bintang Danendra tidak berani menyentuh walau hanya sekedar jas pria itu.


Tatapan Bee fokus pada keduanya di sana. Hana memang terlihat bicara sesuatu pada Bintang, yang dari mimik wajah Bintang, pria itu sama sekali tidak berminat. Bahkan wajah Bintang tampak tidak suka atas apa yang di sampaikan Hana.


Tapi lagi-lagi Bee tidak melihat ada hal aneh yang menjurus perselingkuhan diantara mereka. Sekali lagi itu hanya pikiran Kiki.


"Udah ki, gue ga mau dengar lagi" Bee sudah melangkah meninggalkan Kiki dan berjalan ke arah suaminya.


"Bee.." ucap Bintang terbata saat istrinya sudah berada di sampingnya. Kedatangan Bee memang dari arah sisi kiri hingga Bintang tidak mengetahuinya sampai Bee berdiri di tempatnya.


"Maaf lama kak" ucap Bee duduk di kursi yang tadi sempat di duduki Hana saat berbicara dengan Bintang. Entah apa yang sedetail itu mereka bicarakan hingga Hana perlu pindah tempat duduk lebih dekat di samping Bintang.


"Tapi kita belum makan?" ucap nya sembari melirik kearah Kiki yang sudah pergi dari meja tanpa mengatakan apa pun padanya.


"Kiki kenapa?" tanya Hana bersuara.


"Oh, dia mungkin ada perlu dengan keluarga nya" jawab Bee asal, tapi untung nya Kiki memang menuju pelaminan tempat mama dan papa nya juga ikut duduk di sana, di sebelah singgasana Kia.


"Han, kamu juga belum makan kan? makan aja dulu, habis itu kita pulang" ujar Bee melihat Hana lalu beralih pada suaminya untuk meminta nya untuk lebih bersabar.


"Aku ga lapar, kita pulang aja. Bintang juga udah ga betah" sahut Hana menatap Bintang tapi yang di perhatikan justru buang muka sambil mendengus kasar.


"Ayo yang" bisik Bintang membelai tangan Bee yang sedang memegang ponselnya. Bintang bisa melihat istrinya sedang mengirim pesan pada Kiki, untuk pamit pulang.


"Ya udah kita pulang"


Dalam mobil, entah apa yang terjadi semua diam, tidak seperti saat mau berangkat tadi. Semua memilih untuk diam. Bee sejak tadi juga melemparkan pandangannya ke arah luar jendela. Hana yang di belakang menunduk, walau sesekali melirik Bee dan juga melirik Bintang dari kaca spion yang sedang fokus menyetir.


Tiba di rumah Bee masih enggan bersuara. Tempat pertama yang dia kunjungi adalah kamar Saga, anak itu sudah nyenyak tidur. Lalu ke kamar si kembar, saat masuk ke dalam, melihat box bayi, keduanya juga sedang tidur dengan wajah sangat menggemaskan. Baru saja Bee akan berputar, beranjak keluar dari sana, Siena terbangun hingga Bee balik badan dan menggendong putrinya. Bocah tujuh bulan itu sudah pandai menarik perhatian untuk minta di gendong.


"Ssssst..nanti dedek Siera bangun. Kakak mau keluar?" ucap Bee dengan suara rendah. Siena seolah mengerti ucapan mama nya mengulurkan tangan menunjuk pintu.


Hati Bee kembali gembira, mendengar celoteh putrinya. Dia masih berusaha menepis pikiran buruk nya yang bersumber dari Kiki. Menekan kuat perasaan khawatir nya.


Diambang pintu kamarnya, Bee bertemu dengan Hana. Saling melempar senyum seperti biasa. "Siera bangun?" Hana mentoel pipi gembul Siena.


"Ini Siena, Han" ucap nya lembut. Terbesit tanya di hati nya, sekian lama menjaga anak nya, kenapa Hana belum bisa membedakan si kembar. Terlebih, Siena memiliki lesung pipi, akan sangat jelas saat dia tersenyum.


"Oh.. iya Siena ya. Sini Bee, aku urus. Kamu ganti baju aja dulu" Sesaat Bee ingin menyerahkan anak nya, tapi kata hati entah mengapa tidak ingin.


"Biar sama aku aja. Ada kak Bintang yang bisa pegangin Siena saat aku mandi nanti"


"Jangan Bee. Biar aku aja yang urus. Jangan ganggu Bintang dengan masalah sepele begini. Dia udah lelah dari pesta tadi. Sebagai istri masak kamu tidak paham, Bintang butuh istirahat. Siena sama aku aja ya"


Kembali Bee terhempas pada satu pemikiran. Sebenarnya omongan Hana sudah biasa dia dengar selama ini. Sudah sering Hana melarangnya kalau Bee ingin menyerahkan anak-anak nya di urus Bintang. Dan setiap itu pula, Bee selalu berpikir hal itu karena Hana perhatian pada Bintang yang sudah lelah bekerja setiap hari. Tapi ini? Bintang hanya menghadiri pesta selama dua jam, sejak pagi pun Bintang tidak kerja karena ini hari Sabtu.


"Ga papa Han, biar aku urus" Bee tidak lagi menunggu jawaban Hana yang ingin tetap membantah, dia melangkah membawa anak nya ke kamar.


*Hai.. terimakasih untuk dia dan support nya. setiap baca komen takut kalau ada yang bully otor lagi. sabar ye, Bee pasti tahu. Cuma Hana agak cantik mainnya, jadi harus di lawan cantik juga.


Ini ada saran novel, kuy kepoin