Sold

Sold
Adu debat



Semua orang yang mendengar perkataan Kia yang tampak begitu menyayangi Bee sontak berseru riuh. Terlebih para gadis, sangat bersemangat bersuara seolah mereka lah yang sedang di buai oleh Kia. Melted!


Tapi tidak dengan Bintang. Dia tahu Kia sedang mencoba membakarnya dengan api cemburu, dan tampak nya itu berhasil. Kepalan tangan di bawah meja menjadi pertanda, Bintang sudah mati-matian menahan emosinya.


Bayangan nya saat ini, dia sudah memberi bogem mentah dua kali pada wajah Kia, agar tingkah Arjuna nya itu jauh-jauh dari Bee.


"Jadi lo seyakin itu? bukan nya gadis ini sudah punya tunangan dan akan segera menikah? bahkan beritanya sudah menyebar hingga seantero jagad raya dengan tidak malu mengumbar ciuman menjijikkan mereka?"


Satu kosong. Kia tersenyum. Bintang berhasil tersulut, hingga tanpa sadar membuka jati dirinya yang ternyata mengamati perkembangan berita Bee.


"Oh..itu, Bee sudah putus dengan pria brengsek itu, yang tega ingin menyakiti nya" Kia menyentuh tangan Bee, menggengam nya. Kali ini apa yang dia katakan bukan bagian dari serangannya pada Bintang. Karena nyatanya hingga kini, Kia masih menyimpan amarah pada Elang, karena sudah membuat Bee menderita.


"Menyakiti bagaimana?" Bintang justru semakin larut. Tidak perduli tanggapan Kinan yang dengan wajah nya yang bingung menuntut penjelasan. Bagiamana bisa Bintang begitu tahu banyak tentang Bee?


"Sudah lah. Lo ga perlu tahu, yang penting, Bee sudah pisah dari kadal itu, dan sudah aman bersama gue"


Bergantian tatapan Bintang pada Bee dan Kia. Bertanya-tanya sudah sejauh mana hubungan mereka. Kenapa dia tidak tahu kalau Bee sudah selesai dengan si brengsek Elang.


Tak punya alasan untuk mendebat, Bintang diam, menyeruput teh hangat nya. Pikiran nya kacau. Hal menyakitkan apa yang di lakukan Elang hingga membuat mereka berpisah?


Berbagai pertanyaan muncul dalam pikiran Bintang. Dia harus bicara pada Bee. Dan dasar Riko brengsek, bukan nya dia menugaskan pria itu untuk mengirim bodyguard menjaga Bee dari jauh? mengikuti kemanapun gadis itu pergi?


Kembali percakapan terjadi diantara mereka. Kinan meredam rasa ingin tahunya dan memutuskan akan bertanya saja pada Bintang nanti.


"Aku baru tahu kamu pernah pacaran sama Elang Derago" ujar Kinan mengambil daging dari grill pan.


"Oh..iya mbak" Kenapa rasanya Bee tidak nyaman dengan keadaan saat ini. Di lirik nya Bintang, sejak perdebatan kecil nya dengan Kia tadi, pria itu memilih diam, sambil mengotak-atik ponselnya. Tiba-tiba mendongak hingga tatapan nya dengan Bee bertemu, tanpa sempat Bee membuang muka.


"Lo bilang mau nikahin dia, memang nya lo ga tahu, kalau dia sampai nikah sama elo, dia akan kehilangan seseorang yang paling berarti dalam hidupnya?" Baik Kinan atau yang lainnya terperanjat akan ucapan Bintang.


Tidak ada yang menyangka, pembahasan mengenai Bee dan Kia masih berlanjut, setelah jeda dan mereka membahas hal lain. Maka disitulah Kinan semakin curiga.


"Loh tang, kok dibahas lagi? biarin aja lah. Toh mereka saling sayang, Kia juga tampak begitu mencintai Bella"


"Bukan..bukan gitu. Maksud gue, wanita ini kan sedang kontrak dengan kita, kalau dia nikah, aku takut akan mengubah perhatian masyarakat hingga malas untuk membeli produk kita. Di kontrak juga dilarangkan nikah?" Bintang beralibi.


"Kehilangan seseorang? maksud Lo?" tantang Kia. Dia sudah bisa baca siasat licik Bintang. Pria itu ingin menekan Bee dengan memakai Saga, anak mereka.


"Tanya aja langsung sama orang nya" Ucap Bintang. sebaris senyum kemenangan melengkung di bibirnya.


"Gue yakin, hanya seorang pengecut yang suka mengancam seorang wanita dengan kelemahan yang dia punya. Dan satu lagi, namanya Bellaetrix Elaina, jadi lo ga perlu pakai kata ganti Dia, gadis itu, wanita itu!" Kia merasa jijik melihat kepengecutan Bintang. Seakan menghindar dari kenyataan bahwa dia dan Bee punya masa lalu.


"Lo benar. Hanya pecundang yang mengambil kesempatan dari seorang wanita rapuh. Dan lo nona Bellaetrix Elaina, apa tidak ada yang menunggu anda di rumah? sudah berapa lama anda di luar?" hardik Bintang kali ini tanpa di tutup-tutupi lagi, menatap pada netra mata Bee.


"Lo tenang aja, ga perlu mengingat Bee. Sikap lo yang seperti ini, bisa menimbulkan spekulasi sama orang yang mendengar" ejek Kai mem- skak mat Bintang.


Kinan dan yang lain terperangah melihat perdebatan keduanya. Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa kedua nya seolah mempunyai dendam lama, padahal ini adalah pertemuan pertama mereka?


Bintang semakin marah. Kilat matanya sudah menandakan amarah yang sudah tidak terbendung. Dan menurut nya sudah tiba saat nya melayangkan satu pukulan di wajah pengacara muda itu.


Ada gunanya Bee selama ini hidup dengan Bintang, jadi dia tahu sedikit banyak nya, tabiat Bintang. Dan dia menebak, sebentar lagi, pria itu akan mendatangkan keributan.


"Em..Kya, kita pulang sekarang aja ya. Tante Di nungguin di rumah, tapi gue ke toilet bentar" Bee sudah melangkah tanpa menunggu jawaban Kia. Kedua pria yang duduk saling berhadapan itu, sama- sama menyerang dengan tatapan mata yang ganas.


Bintang sudah tidak tahan. Rasa nya ingin membalikkan meja dan menyeret pria itu untuk di hajar. Tapi akalnya mengambil alih saat melihat punggung Bee yang semakin menjauh menuju toilet.


"Nan, gue ke toilet dulu, mau nyuci muka"


Dengan langkah lebar Bintang berjalan menuju toilet. Dia bahkan sudah tidak perduli lagi, dengan apa yang kini di pikirkan Kinan tentangnya.


Tubuh kekar nya bersandar di tembok, tepat di balik pintu toilet wanita. Menunggu Bee keluar dari salah satu bilik toilet. Ada 4 pintu di sana, dan semua nya tertutup, tidak mungkin satu persatu dia ketuk.


Pintu pertama terbuka, dan wanita itu kaget mendapati ada pria dalam ruangan itu." Hei, kamu lagi apa? ini toilet wanita, toilet pria di sebelah" hardik wanita paruh baya, menatapnya dengan keterkejutan.


"Maaf nyonya, saya lagi nunggu istri saya, takut dia jatuh, lagi hamil soal nya"


Wanita itu tidak perduli alasan Bintang. Dengan dengusan kesal dia melewati pria itu dan berjalan keluar. Bersyukur pintu kedua terbuka, dan sosok Bee muncul. Gerakan cepat, Bintang menarik tangan Bee masuk kembali ke dalam bilik dan mengunci pintunya.


"Kamu..mau apa narik aku masuk lagi?" Bee menghempas tangan nya. Sumpah, saat ini dia tidak ingin bicara dengan pria itu. Tidak ingin ada di dekatnya, selain karena dia membenci tingkah pria itu hari ini, tapi juga demi kesehatannya. Semakin lama dia ada di dekat pria itu, semakin sesak nafas nya. Lihat saja, bahkan jantung nya sudah berdegub kencang.


"Aku mau bicara"


"Ga ada yang perlu kita bicarakan. Lepas" Bee mencoba lewat untuk meraih knop pintu, tapi di halangi oleh pria itu.


"Siapa pria itu?" Pertanyaan yang menjelaskan keadaan pria itu saat ini. Terbakar cemburu.


"Bukan urusan mu..jangan urusi hidupku. Kau terlihat bahagia dengan mbak Kinan.." Bee mendorong tubuh Bintang, dan secepat mungkin keluar dari ruangan itu.