
Jalanan malam hari masih tampak ramai, Bintang mengamati Saga sudah tidur di bangku belakang, begitu pun Bee yang tampak memejamkan mata. Kedua pengisi hatinya itu tampak kelelahan setelah melalui hari yang berat ini. Syuting pun selesai hari ini juga atas tuntutan Bintang.
Siapa yang berani menentang keinginannya. Bahkan sang sutradara yang kesal melihat sikap bossy nya hanya diam. "Ini harus di selesaikan hari ini juga, atau tidak ada lagi syuting dengan istri dan anak saya"
Ultimate itu jelas. Siapa orang-orang di sana yang tidak mengenal Bintang? dari pada memiliki karir naas, lebih baik mengikuti maunya. Begitu pun si duda keren hanya dia menahan kedongkolan.
Kalau bukan karena mengingat si kembar, mungkin Bintang sudah membawa Bee dan Saga ke hotel agar mereka bisa beristirahat dengan nyaman, alih-alih ke rumah dan bertemu Hana. Harapan Bintang sebenarnya sangat sederhana. Dia ingin Hana memilih untuk pergi dari pada dipermalukan nantinya oleh mereka.
"Sayang, bangun udah sampai di rumah" Bintang mengelus pipi Bee. Gadis itu menggeliat sebentar, lalu tidur lagi. Bintang diam sesaat. Teringat masa dulu, setiap menjemput gadis nya entah dari mana, pasti akan tertidur seperti ini, lalu Bintang akan dengan senang hati menggendong nya masuk ke dalam.
Kalau harus melakukan nya saat ini, kasihan Saga yang juga tertidur pulas di belakang. Bintang memutuskan untuk menggendong Saga dulu, baru setelahnya menjemput Bee lagi. Langkah Bintang masih akan sampai di bibir pintu, saat Mira datang menyongsong.
"Biar saya bawa tuan muda ke kamar nya tuan" pinta Mira yang langsung diserahkan Bintang. Di belakang Mira juga ada Hana, yang sempat membuat mata Bintang melotot. Bagaimana tidak, gadis itu memakai gaun tidur tipis yang menerawang lekuk tubuhnya.
"Kamu sudah pulang? kenapa larut sekali?" ucap nya begitu lembut seolah dialah nyoya rumah yang menunggu suaminya pulang.
Harusnya pertanyaan itu tidak perlu di lempar Hana pada Bintang jika tidak mau mendapatkan sakit hati. Bintang tidak menjawab, justru berbalik menuju mobil nya. "Sayang, bangun yok, udah sampai" ulang nya mengelus pipi si dewi tidur.
Kebiasaan Bee kalau sudah tidur pasti akan susah untuk di bangunkan membuat Bintang memilih untuk menggendongnya saja.
Ibu dari ketiga anaknya itu toh masih langsing hingga Bintang masih sanggup menggendong nya berapa kali pun naik turun tangga. Saat melewati Hana, Bintang sempat menangkap raut wajah tidak suka gadis itu, tapi perduli apa? Bintang bahkan tidak Sudi menganggapnya ada.
Penuh harapan, Hana berdiri di depan pintu kamar Bintang. Dia yakin pria itu akan keluar. Dia harus mengajaknya bicara, memperjelas semuanya pada pria itu. Hana tentu kebakaran jenggot saat mereka pulang, keduanya tampak bersama dan malah makin mesra, terbukti saat Bintang memilih menggendong dari pada membangunkan Bee.
"Oh, akhirnya kamu keluar" serang nya melipat tangan di dada. Bintang hanya melirik sekilas sebelum melanjutkan langkah nya menuruni tangga. Dia harus membuatkan Bee segelas susu hangat.
"Berhenti, aku bilang berhenti tang"
"Kau siapa? apa hak mu meminta ku berhenti. Ini rumah ku, dan kau hanya seorang pengasuh! jangan lupa tempat mu berada!"
"Dasar lelaki bodoh. Apa lagi yang kau harapkan dari istri semacam dia? kau hanya akan mendapat kesengsaraan. Lepaskan dia Bintang, bercerai lah dengan nya demi anak-anak, aku yang akan menjaga anak-anak mu"
Tamparan keras yang baru saja mendarat di pipi Hana yang begitu keras membuat Hana terhempas satu langkah ke belakang.
"Jaga ucapan mu. Sampai kapan pun, kau tidak akan bisa mendapat kan suami dan anak-anak ku" salak Bee bergemuruh.
Ketika Bintang keluar, Bee sudah terbangun tapi enggan membuka matanya, namun suara di balik pintu tidak terkunci yang terdengar sayup-sayup membuatnya membuka mata dan menajamkan pendengarannya. Semakin lama suara itu semakin menghilang yang tentu saja menimbulkan rasa penasaran.
Perlahan Bee menurunkan kakinya, berjalan ke arah pintu guna memastikan suara itu ada wujud pemiliknya bukan sekedar halusinasinya. Kosong. Tapi saat kembali ingin masuk ke kamar, kembali suara menggema. Kali ini asalnya dari bawah, lantai dua. Bee memutuskan untuk memeriksa. Bermodal penerangan seadanya Bee berjalan mencari sumber suara.
Hana masih dengan arogansinya, berteriak pada Bintang tanpa menyadari kehadiran Bee di belakangnya. Bee diam, mendengar apa saja yang mau Hana katakan. Namun saat wanita itu meminta Bintang menceraikan nya, emosinya tersulut.
Kini mata hati Bee terbuka. Selama ini orang yang dianggap sahabat justru duri dalam daging.
"Aku salah menilai mu selama ini. Kau masuk ke rumah ini dengan dalil sayang pada anak-anak ku, ternyata suami ku yang kau incar?!" maki Bee tidak perduli lagi kalau tetangga akan mendengar, tapi bisa di pastikan tidak akan ada yang mendengar karena bangunan yang begitu besar dan kokoh ini.
"Salah mu. Kau tidak tahu bersyukur, sudah memiliki suami yang sempurna serta anak-anak yang tampan dan cantik-cantik, tapi kau malah memilih pekerjaan mu. Salahkah aku jika merasa simpati melihat keadaan mereka?"
Sudut hati Bee meringis mendengar ucapan Hana. Tidak semua yang dikatakan Hana salah. Justru saat ini dia tertampar oleh ucapan Hana. Mungkin kah dia sudah salah dengan memilih bekerja di samping sebagai ibu rumah tangga? bagaimana wanita karir yang lain, yang bekerja sekaligus punya keluarga?
Bagaimana negara ini akan maju jika pikiran sempit itu masih di pelihara? Dia bekerja, tapi tidak melupakan tanggung jawabnya. Dia sangat menyayangi suami dan anak-anak nya.
"Kenapa kau diam? apa yang akau katakan Ken ke hati mu? sadar lah, yang Bintang butuhkan adalah istri yang selalu ada untuk nya dan anak-anak" Hana terus menyiram bensin ke luka Bee. Dia harus mengakui kalau memang dia sangat sibuk belakangan ini.
"Cukup, kau tidak perlu menghakimi istri ku. Bagaimana keluarga kami, kau tidak punya hak untuk ikut campur. Dengar Hana, aku tidak akan bisa mencintai wanita lain selain wanita ini" Bintang merangkul pundak Bee yang masih terdiam menunduk.
"Jadi aku mohon, pergi lah, tinggalkan kami dengan kebahagiaan kami. Aku menerima Bee apa adanya. Jika dia mau bekerja, maka dia bisa melakukannya. Begitu pun sebaliknya. Kau hanya orang luar, tidak berhak ikut campur dan menggurui istri ku"
Hana terdiam. Semua yang di ucapkan Bintang lebih dari cukup untuk menyadarkannya. "Jadi aku tidak punya kesempatan untuk bersama mu?" buliran bening jatuh di pipi Hana.
"Pergi lah Hana. Tempat mu bukan di sini. Cari lah kebahagiaan mu, karena kau pun berhak bahagia, hanya saja bukan di sini tempatnya"