Sold

Sold
Pria menyebalkan



Entah apa yang di pikirkan pria itu, keluar dengan rambut basah dan sedikit menjuntai ke depan, menjatuhkan setetes air dari ujung rambutnya. Sedangkan hanya ada handuk putih yang melilit sempurna di pinggangnya.


Bisa di bayangkan bagaimana merana nya Bee. Dada nya bergemuruh, wajah panas bak terpanggang di suguhi pemandangan yang sangat menggoda iman.


Di usia nya yang hampir 30, Bintang memiliki tubuh sempurna yang bahkan malaikat pun mungkin akan tergoda untuk menjamah perut kotak-kotak itu.


Sadar atau tidak, Bintang sudah mengikis iman Bee. Menjebol tembok pertahanan yang dia bangun sedari pria itu muncul di balik pintu. Dan ya Tuhan..siapa saja tolong..lilitan handuk itu bahkan terlalu turun, Bee bisa melihat jauh ke bawah pusar Bintang.


Ehem.."Cepetan pakai baju" ujar Bee susah payah. Nafas nya tercekat oleh apa yang dia saksikan.


"Mana baju nya?" Bintang masih berdiri di tengah ruangan, bukan tepat nya di hadapan Bee, melakukan pose yang membuat Bee berulang kali harus mengibas-ibaskan tangannya di leher.


Demi kenyamanan nya, Bee tidak mendebat. Bergegas menuju lemari untuk mengambil pakaian Bintang. Harus nya dia bisa meminta pria itu untuk mengambil sendiri pakaiannya. Toh dia bukan istrinya lagi. Tapi pasti nya akan berbuntut panjang dengan berbagai percakapan tarik ulur.


Dan si biang kerok melihat gerakan Bee, sudut bibirnya ketarik membentuk satu buah senyum simpul. Walau sudah bercerai, pakaian Bintang masih di simpan dan di tata rapi di lemari yang sama dengan pakaian hari-hari Bee.


"Nih.."


Tangan terbuka Bintang menerima pakaiannya, namun tidak beranjak dari sana.


"Apa lagi? cepetan pake kak" salak Bee tidak sabar. Apa dia tidak tahu dengan berdiri lama di sana dengan hanya sepotong handuk bisa membuat Bee kejang-kejang?


"Padahal kan enakan gini, adem" sahut Bintang ingin membatalkan niat nya berganti baju. Tapi pelototan ibu negera membuat Bintang membatalkan niat nya dan segera mengibaskan celananya untuk dia pakai.


"Aaaaa.."


Bintang menghentikan niat nya membuka lilitan handuk di tubuhnya. " Ada apa?"


"Kakak ngapain? kenapa buka nya di sini? sana pake baju di kamar mandi"


"Emang kenapa kalau di sini? kamu juga udah pernah lihat, pernah pegang, bahkan pernah mencet-mencet juga kan, kamu bilang gemas sama bakso nya?"


Astaga..si pria mesum dengan santai nya mengatakan masa-masa yang lalu yang dulu pernah mereka lakukan. Wajah Bee sudah tidak bisa di kondisikan. Merah bak kepiting rebus. Malu di ingat kan pada masa itu. Pria yang sangat menyebalkan.


"Kakak..cepat masuk kamar mandi" seru nya membalik badan. Langkah Bee kemudian menjauh, ke dekat meja. Mengambil air lalu meminum nya satu gelas penuh. Panas. Dia benar-benar butuh udara segar.


Dering telepon nya mengalihkan pikiran dari bakso..eh..bukan..ah..ga tahu. Pikirannya kacau.


Bergegas dia angkat telepon yang ternyata dari Kia. "Ha-halo Kya, ada apa?"


"Lo kenapa? kok suara lo gugup gitu? lo sakit?gue kesana ya?" terdengar nada panik dari seberang.


"Eh..ga Kya gue ga.."


"Bee, Boxer aku yang merah kok ga ada? masa aku ga pake dalaman?" sontak Bee menoleh pada Bintang yang entah sudah sejak kapan berdiri di sana.


"Apa?" bisik Bee agar tidak terdengar Kya.


Saat Bintang keluar dari kamar mandi, dia melihat Bee sedang bicara di telpon. Dan saat nama Kia terucap dari mulut Bee, ide gila nya muncul. Awalnya Bintang memang ingin meminta Boxer lain, karena dalaman yang di siapkan Bee tadi jatuh ke lantai kamar mandi dan basah.


"Kak Bintang.. apa-apaan sih?" seru Bee tanpa sadar.


"K*lor aku Bee, mana? aku udah kedinginan ini mau pake baju. Masa telanjang terus?" nada suara nya tetap bertahan di nada tinggi. Kya bisa mendengar dengan jelas semua perdebatan mereka.


"Itu juga kamu pake baju dulu, terbuka semua nanti masuk angin loh" susul Bintang merasa puas.


Padahal Bee jelas-jelas memakai daster tidurnya, ya memang model tali satu membuat pundaknya terekspos sempurna.Tetap aja, omongan Bintang membuat orang yang mendengar seolah Bee tidak pake baju yang pantas.


Mati lo. Lo kira bisa ngambil Bee dari gue? dia tetap milik gue!


"Bee, Bintang di sana?" keheningan dari tempat Kia berakhir. Pria itu tidak tahan kalau tidak bertanya. Baru beberapa jam lalu saat di mobil Bee bilang tidak ingin berurusan dengan pria b*ngke itu, tapi nyatanya?


"Kya, udah dulu ya. Besok gue telpon. Bye"


Sambungan sudah di putus. Bee meremas erat ponselnya membayang itu adalah leher Bintang, si pria gila!


Hufffh.. Dengan kasar Bee menghempaskan bokong nya duduk di tepi tempat tidur. Kesal. Marah, itu yang dia rasakan pada pria itu atas tingkah tengilnya. Bee tahu Bintang melakukan hal itu karena dia tahu, Bee tengah bicara dengan Kia.


"Mana dong Bee daleman nya?" ucap Bintang lembut. Takut melihat ekspresi ingin membunuh di wajah mantan istrinya.


"Yang tadi aku kasih mana?"


"Jatoh Bee, basah. Noh, aku gantung di kamar mandi"


Malas berdebat, Bee beranjak ke lemari Exel yang terbuat dari kayu jati, yang berjejer rapi di samping lemari besar berlapis kaca.


Tanpa bicara, Bee hanya mengulurkan ke hadapan Bintang. Tak lupa Bintang memberi sebuah senyuman manis untuk Bee yang di cemooh gadis itu.


Tak lama Bintang keluar lalu dengan santai nya beranjak naik ke tempat tidur, bermain dengan Saga yang sedari tadi sudah menunggu nya.


"Ga pulang? udah malam nih. Udah jam 9 kak" ucap Bee melipat tangan di dada. Sedari tadi memperhatikan kedua nya asik bermain hingga suara tawa Saga menggema di dalam kamar.


Setiap yang Bee lakukan selalu bisa membuat Bintang panas dingin. Contoh nya saja, hal simpel dengan melipat tangan di dada, membuat Bintang membayangkan dua bukit indah yang menyembul di diantara tangan itu.


"Ga ah. Mau tidur di sini aja" celetuk nya mengalihkan perhatian nya kembali pada Saga.


"Ga bisa gitu dong kak. Masa kita tidur satu atap, kita udah cerai" wajah Bee tampak cemberut, semakin kesal. Semakin lama Bee semakin gelisah di dekat pria itu.


"Emang kita ngapain? emang kamu ngajakin aku iya-iya?"


"Ih, serius aku kak. Ga enak sama tetangga kalau sampai tahu. Dosa" Bee melangkah mundur, saat serigala menggoda itu sudah berjalan ke arahnya.


"Biar ga dosa, kita nikah lagi aja yok"