Sold

Sold
Rahasia yang tidak ingin dirahasiakan



Melalui bantuan Kinan, Elang pun bisa mendapat pekerjaan. Walau hanya sekedar teknisi kantor. Mau gimana lagi, Elang hanya lulusan SMA, dan beruntung nya dia paham akan sistem komputer dan instalasi.


'Bee, hari ini aku mulai kerja, terimakasih banyak atas bantuan mu'


Sekilas pesan dari Elang mampu mengukir senyum di wajah Bee. Semoga kamu betah Lang, dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi..


Ketukan di pintu oleh perawat nya membuat Bee terhenyak, dan segera memasukkan ponselnya ke laci. "Bu, ada paket"


Tidak perlu melihat nama si pengirim di kartu, karena Bee sudah bisa menebak siapa orang nya. Bunga itu indah dan wangi. Dia menciumi kelopak mawar itu dan tak lupa membaca ucapan pada kartu.


untuk tuan putri yang paling cantik, l love you


Bee hanya tersenyum. Belum lepas senyum dari wajahnya, ponselnya berdering, dan nama yang sejak tadi bermain dalam khayal nya muncul di layar.


"Kau menyukainya?"


"Suka..sangat suka..tapi aku lebih menyukaimu"


"Kalau gitu, aku datang ke situ sekarang ya?"


"Jangan ngadi-ngadi deh kak. Ini tuh masih pagi!"


Kadang Bee tidak mengerti, suaminya sepertinya tidak pernah ada bosan nya mendekapnya. Jangan kan di ranjang, duduk sebelahan pun, Bintang pasti selalu menarik Bee untuk di peluknya.


"Pulang jam berapa nanti? kita kencan yok" suara maskulin di seberang selalu mampu membuat bulu kuduknya berinding. Kalau dia saja sebagai istri bisa sangat memuja semua yang ada di tubuh Bintang, apa lagi wanita lain. Membayangkan ada seorang wanita yang coba mendekati suaminya membuat Bee tanpa sadar menggebrak meja kerjanya.


Beruntung di ruangan itu hanya ada dirinya. "Ok sayang..kali ini aku yang pilih film nya" ucap nya bersemangat.


"Bukannya tiap nonton memang kamu Bee yang pilih?"


"Eh..iya.. hehehehe" obrolan itu nyatanya hampir satu jam. Kadang kalau di pikir lucu juga ya, mereka masih saja mengobrol di telpon, padahal di rumah juga ketemu. Bee hanya berharap semoga rumah tangga nya selalu bahagia, dan dalam hati mereka selalu ada cinta.


***


"Ko, lo udah kirim draft terbaru hasil evaluasi investasi dari perusahan Piter ke PT Kinanti?" ujar Bintang tanpa menoleh sedikitpun pada Riko yang berdiri di depannya, menunggu berkas yang tengah di tandatangani Bintang.


"Rencana nya habis ini bos"


Bintang menyerahkan berkas itu pada Riko. "Gue lihat lo jadi lebih lambat belakangan ininya? bukannya lo seharusnya ngirim tuh berkas kemarin?"


"Lupa bos"


Baru akan kembali menyemprot, Riko sudah menyela. "Saya pamit bos"


Perputaran jarum jam terasa sangat lama. Bintang sudah melirik untuk kesekian kali. Dia seperti buruh yang sudah tidak sabaran untuk pulang. Padahal perusahaan ini miliknya bisa kapan pun pergi sesuka hatinya. Yang menjadi masalah, istrinya akan kesal dan ngomel jika dia tiba sekarang di klinik.


Lagi-lagi dia menyadari, bahwa cinta bisa mengubah hal yang rasa nya tidak mungkin. Dulu dia begitu arogan, tidak seorang pun yang bisa mengatur nya. Tapi sejak gadis bernama Bellaetrix Elaina masuk dalam hidupnya, apa pun yang membuat wanita itu senang akan dia lakukan.


Teng!


Jarum jam sudah menunjuk angka lima. Waktunya dia pulang. Tapi baru saja berdiri dari kursinya, Riko masuk membawa berkas yang sudah di tandatangani Kinanti selaku wakil CEO.


"Ini bos"


"Emang b*ngsat lo nya, di situ gue mau pulang, di situ juga lo ngasih laporan" geram Bintang yang kembali duduk.


"Bonus lo, gue potong 25% gara-gara bacot lo terlalu maju!" ancam Bintang sembari memeriksa berkas di depannya.


"Jangan dong bos" ucap nya memelas. Tapi itu hanya di lakukan sebatas di bibir, tidak ada penyesalan karena memang Bintang juga hanya sebatas bibir saja mengancamnya.


"Oh iya bos, tadi waktu saya ke sana, coba tebak saya ketemu sama siapa?"


Tak ingin masuk dalam arus permainan Riko yang tidak penting, Bintang memilih untuk diam. Mungkin karena lama bekerja dengan Bintang, dan memang kesetiaan Riko pada Bintang tidak perlu di ragukan lagi, membuat cara bicara pria itu seakan dengan teman dekatnya.


"Bos.." ulang nya lagi meminta perhatian Bintang yang seolah menganggap nya tidak ada.


"Aku tida berminta main tebak-tebakan. Jangan merusak mood ku!"


"Ok, kalau begitu. Padahal saya yakin kalau bos akan tertarik kalau tahu siapa yang saya lihat bekerja di sana"


"Ok fine! katakan" salaknya kesal. Belakangan ini menurutnya Riko seperti wanita, terlalu banyak bicara. Menatap Riko dengan melipat tangan di dada.


"Elang bos, mantan nyonya bos"


Bola mata Bintang membulat. Dari semua nama yang mungkin di ucapkan Riko, nama itu jauh dari dugaan Bintang. Bagaimana bisa pria itu bekerja di sana? Apa cuma kebetulan atau memang ada alasan lain?


"Kenapa dia bisa ada di situ?"


"Udah saya duga, pasti bos tanya begitu. Tenang bos udah saya cari info" katanya sekretaris nona Kinan, itu atas rekomendasi teman nya, siapa lagi kalau bukan nyonya bos"


Melihat perubahan raut wajah bos nya membuat Riko diam. Salak mata Bintang membuat nya gentar.


Janji pukul 5, tapi yang di tunggu masih belum tampak. Bee sudah siap, menanti kedatangan sang kekasih dengan perasaan rindu. Tapi anehnya, Bintang yang tidak pernah terlambat, kali ini malah belum muncul. Bee mencoba menghubungi tapi Bintang tidak mengangkat telponnya. Baru setelah pukul enam sore Bintang muncul, menunggu di mobil.


Dari perawat nya, Bee di beritahu Bintang sudah tiba. Bee merasa ada yang aneh, biasanya pria itu akan muncul di ruangannya dengan senyum manis nya.


"Tumben lama kak?" ucap nya setalah masuk ke dalam mobil, menyalim punggung tangan Bintang. Bukan menjawab, Bintang malah memasang seatbelt pada Bee yang memang selalu dia lupakan.


"Kak.."


"Iya sayang, maaf. Tadi di kantor ada pekerjaan yang nanggung"


Walau menikmati film yang sedang mereka tonton, Bee bisa menyadari kalau suaminya sama sekali tidak menikmatinya. Bahkan biasanya kalau pun Bintang bosan dia akan menggoda Bee, menciumi tangan dan membisikkan kata cinta.


"Kita makan?" tanya Bintang saat mereka melewati pintu keluar bioskop.


"Kita pulang aja ya kak" sahut Bee. Dia tahu Bintang sedang tidak mood untuk kencan mereka kali ini. Bee menduga kalau Bintang lagi ada masalah dengan pekerjaannya


Bintang sudah merebahkan tubuhnya. Pikirannya kacau. Suara gemericik air masih terdengar dari kamar mandi. Istrinya baru saja masuk setelah dirinya selesai.


Bunyi ponsel Bee di nakas membuat Bintang menoleh. Ada pesan dari Kinan. Bintang ingin sekali membacanya, tapi dia tidak ingin nanti Bee marah karena hal itu.


Tapi kalau manusia sudah di runding cemburu dan rasa ingin tahu, maka tidak akan berpikir dengan benar. Bintang meraih nya, membuka isi chat.


Deg!


Debar jantungnya berdegup kencang, saat melihat salah satu nama yang mengirim Bee pesan. Dengan gemetar, di klik nya pesan itu.