
Setelah ujian akhir selesai, Bee hanya tinggal di rumah menunggu pengumuman kelulusan. Bintang masih tetap mendatangkan tutor ke rumah untuk membantunya mempersiapkan ujian masuk universitas.
Tak ada yang berubah walau Bee hamil. Dia masih sering telponan dengan Elang yang sedang road show ke beberapa kota di Indonesia mempromosikan album mereka. Mungkin hanya satu hal yang berubah, Bee dan Bintang tak pernah kontak fisik lagi.
Bee hanya akan mencari Bintang kalau ada perlunya. Kadang gadis itu minta di elus-elus pinggang nya saat merasa panas atau untuk membalur minyak. Pernah Bee meminta Mira untuk melakukan nya, tapi yang ada Bee tetap tak bisa tidur. Baru lah setelah tangan Bintang yang menyentuh nya, tidak sampai lima menit gadis itu sudah terlelap.
Walau hati Bintang sakit setiap kali Bee melakukan panggilan video call dengan Elang, tapi nyatanya pria itu tidak berani untuk melarangnya. Dia tidak ingin Bee sedih yang akan mempengaruhi hormon nya dan pasti akan berdampak pada perkembangan kehamilannya.
"Jadi kamu sekarang sedang hamil?" tanya Elang saat mereka melakukan panggilan video call.
Bee hanya mengangguk. Sementara Bintang yang ingin mengantarkan susu hamil untuk Bee membeku di balik pintu kamar.
"Aku harap anak itu laki-laki, agar kamu bisa segera bercerai dengan nya Bee. Aku sudah tidak ingin kamu bersama nya terlalu lama" suara Elang begitu keras hingga semua jelas di dengar Bintang. Emosi pria itu seketika naik. Dikepal tangan nya sebagai bukti penahanan amarah.
"Iya Lang, aku juga berharap begitu" jawab Bee semakin menambah luka di hati Bintang.
"Ingat, kamu ga boleh satu tempat tidur lagi dengan dia. Kamu kan udah hamil, jaga diri jangan ada kontak fisik lagi" seru Elang tegas.
"Iya.." sahut Bee lemas.
Tak tahan mendengar lebih banyak, Bintang masuk yang membuat Bee sedikit terkejut.
"Ini..jangan lupa di minum Bee" ucap nya lembut dan berlalu pergi. Hanya seorang Bintang yang tahu bagaimana rasanya tersenyum saat hati begitu teriris sakit.
Bee menatap kepergian pria itu. Hatinya juga merasa sedih melihat raut wajah Bintang. Dia tak menduga pria itu akan masuk saat melihat dirinya sedang video call dengan Elang.
"Apa itu si pria dingin ?" tanya Elang dari seberang sana.
Bee hanya mengangguk lemah. Entah kenapa dia juga ikut sedih setiap Bintang menatap nya dengan tatapan terluka seperti tadi.
"Mau apa dia masuk ke kamarmu?" salak Elang
"Dia hanya mengantar susu hamil" Bee semakin sedih mengingat bagaimana perhatiannya Bintang padanya. Mengurus nya dengan telaten.
"Itu hanya karena kamu mengandung anak nya"
"Udah dulu ya Lang. Selamat malam" ucap Bee menatap Elang.
"Ok deh, miss you"
"Aku juga" balas Bee datar.
Bee mengambil gelas dan menghabiskan susu hamil yang di buat Bintang. Ingin rasanya mencari pria itu, tapi dia batalkan. Memilih untuk tidur.
Di seberang kamarnya, Bintang menghabiskan kesendirian nya dengan minuman hingga subuh. Terus berfikir apa akhir dari hubungan nya dengan Bee nanti.
Walau sekian lama bersama, nyatanya tak bisa meluluhkan hati gadis itu. Dalam hatinya masih ada Elang yang bertahta. Lalu bagaimana nanti nasib anaknya? apa akan menjadi anak tanpa ibu? mungkin dia sanggup, walau akan hidup seperti zombie, tapi bagaimana dengan anak nya?
***
"Iya Bee, ini mau nyampe. Bentar ya" sambungan telpon sudah di tutup Bee sepihak. Mondar mandir di teras di teman Mira. Sudah dua gelas jus apel dia habiskan. Selama hamil tante Di sering mengirimi nya makanan dan olahan buah segar.
Hari ini jadwal Bee check-up. Dia sudah tidak sabar ingin mengetahui perkembangan anak nya. Semakin hari rasa sayang Bee semakin besar pada bayinya. Walau kurang suka makan sayur, tapi karena tante Di bilang sayur bagus untuk bayi, terlebih mengkonsumsi daun katuk bisa memperbanyak ASI nya nanti, Bee melahap sayur yang kurang diminati orang itu.
"Sabar Nya. Kata ibu saya orang hamil itu ga boleh emosian, marah atau pun maki orang" ucap Mira menenangkan majikannya yang sedari tadi mondar-mandir.
"Maaf sayang, macet banget" sahut Bintang setengah berlari mendekati Bee.
"Basi..satu jam lalu kamu bilang mau datang, Hufffh..." Bee menarik nafas. Tidak jadi marah dan memaki Bintang. Ingat akan omongan Mira tadi, Bee hanya berlalu menuju mobil. Masuk ke dalam dan membanting pintu mobil dengan sekerasnya.
"Tolong ambilkan sweater nyonya di kamar, Mir" pinta Bintang yang segera di laksana Mira.
Bee belakangan ini memang mudah berubah mood nya. Dan hal itu memang wajar untuk ibu hamil terlebih saat ini kehamilan Bee sudah mulai besar. Ada kalanya gadis itu merasa minder saat Bintang melihat nya. Tubuh nya kini menggendut.
Padahal Bintang menatap nya dengan penuh rasa cinta. Tak masalah baginya jika tubuh Bee semakin berisi. Dia tetap cantik, bahkan di beberapa bagian tubuhnya terbentuk secara sempurna.
Bintang mencintai Bee apa ada nya. Hanya saja rasa percaya gadis itu yang merasa tak sempurna untuk di lihat Bintang, hingga kadang membuat sikap cuek dan suka berkata hal menyakitkan pada Bintang, agar pria itu meninggalkannya.
Belum lagi harus di sibukkan dengan tugas kuliah. Bee di terima di kampus biru. Itu Semua berkat kerja keras nya, belajar siang malam akhirnya tidak sia-sia. Bayi nya juga sangat tenang, seolah ikut menyemangati bunda nya yang sedang berjuang.
"Baik lah..kita lihat dedek bayinya ya" ucap dokter Leann lembut. Mulai me-maju-mundurkan alatnya untuk melihat posisi janin Bee.
"Ok..baik ya.." seru masih sibuk memperhatikan monitor.
"Mana bayi nya dokter?" tanya Bintang yang bingung karena tidak ada wujud bayi, hanya gambar yang tampak hitam.
"Ini pak. Ini kepalanya, tangan" terang dokter Leann.
"Mana dok? kok saya lihat malah kayak gumpalan hitam?"
"Iya ini pak. Sebentar ya, saya pancing dulu biar bayi nya mau menghadap kita. Biar nampak wajah nya" ujar sang dokter menjawab pertanyaan Bintang yang rewel.
Tak lama, gumpalan yang di sebut Bintang tadi bergerak. Kali ini sudah menampilkan bentuk wajah yang jelas.
"Iya..iya dokter..saya lihat" tampang Bintang konyol, tertawa hingga genangan bening muncul di pelupuk matanya. Terharu melihat langsung wajah anak nya
Ini sudah ke empat kalinya Bintang menemani Bee untuk periksa.
"Bagaimana dengan jenis kelaminnya dok?" tanya Bintang antusias. Baginya tak masalah laki-laki atau perempuan. Semua sama baginya. Pastinya akan dia cintai sepenuh hati.
"Posisi debay nya ga mau nunjukin nih. Kayaknya mau buat surprise sama mama papa nya deh. Ga papa ya Pak Bu, yang penting debay nya sehat" ucap dokter itu menyudahi USG setelah terlebih dulu mem-print hasil USG dan menyerahkan nya pada Bee.
"Ok. Bayi nya sehat. Berat sama usia kandungan juga sesuai. Ibu nya juga sehat. Usia kandungan sudah dua puluh dua minggu" terang sang dokter.
Bintang mencium puncak kepala Bee setelah mendengar ucapan sang dokter. Sebentar lagi dirinya akan menjadi ayah, menyempurnakan hidupnya.