Sold

Sold
Harapan terkabul



Sudah sepuluh menit Kinan di kamar mandi. Memuntahkan semua isi perutnya. Ini sudah kali ketiga dan Piter dengan setia memijit tengkuk nya pelan.


"Masih mual hun? ke rumah sakit aja ya? udah empat hari ini kamu kayak begitu" saran piter memegangi rambut Kinan agar tidak terkena muntahannya.


"Mungkin masuk angin hun. Aku pengen di urut. Bi Mar busa urut ga ya?" Kinan melap kembali bibir nya dengan tisu yang di berikan Piter. Beruntung hari ini Minggu, jadi Piter hisa menemani Kinan yang kurang enak badan.


"Aku aja yang pijit"


"Please deh hun, yang ada kamu bukan mijit buat ngeluarin angin, tapi mijit buat ngeluarin yang lain" sanggah Kinan mengikuti langkah Piter yang memapahnya kembali ke kursi. Sudah empat hari pula nafsu makan Kinan menurun. Bisa seharian Kinan tidak memasukkan apa pun ke mulut nya, hanya meringkuk lemas di tempat tidur. Paling kalau Piter pulang sorenya, Kinan akan minta di buatkan air lemon hangat dengan madu yang sangat dia gulai belakangan ini.


Tapi hingga dua hari kedepannya tetap tidak ada perubahan, Piter dengan tegas memaksa Kinan untuk ke rumah sakit.


Saat Kinan cek tensi dan tekanan darah oleh perawat di rumah sakit, Kinan yang awalnya ingin periksa pada dokter umum di saran kan untuk ganti dokter saja, dan ternyata Kinan di saran kan untuk ke dokter kandungan.


Di sini lah keduanya, duduk di hadapan dokter setelah Kinan selesai USG, termangu kaku mendengar penuturan dokter, Leann.


"Loh kok reaksinya bengong begitu. Ga gembira bapak dan ibu mau punya bayi? ini anak pertama lagi" ucap dokter sewaktu membaca riwayat kesehatan Kinan di data pasien.


Sumpah demi apa pun, keduanya pasti ingin tertawa, menjerit, dan menari bila perlu jika itu cukup untuk menggambarkan suka cita mereka. Tapi berita itu sungguh membuat tubuh kedua nya membeku.


"Pak, Bu.." sapa sang dokter mulai panik lihat reaksi keduanya yang membatu.


"I-ya dok.." akhirnya Piter bisa buka suara.


"Selamat ya, buat kehamilan ibu"


"Hun, kita..kita mau punya anak" ucap nya menggoyang pundak Kinan yang akhirnya kembali pada kenyataan. Saat itu bulir bening jatuh di pipinya. Perlahan tangan nya terulur ke perut, meraba mencoba merasakan adanya kehidupan di dalam sana.


"Benar dokter, aku hamil?" ucap nya dengan genangan air mata. Luapan bahagia yang ada di hati sebenarnya meminta untuk berteriak mengucap syukur, tapi tetap dia tahan. Dia tidak ingin mengganggu kenyamanan pasien lain di rumah sakit itu.


***


"Hey, kenapa diam?" tangan Piter menyentuh telapak tangan Kinan yang ada di atas pahanya. Menyentak kesadaran wanita itu untuk kembali padanya. Buru-buru Kinan melepas pegangan tangan Piter.


"Loh kok?" protes Piter melirik sekilas ke arah wajah Kinan, tentu saja tidak terima kalau Kinan menepis tangannya.


"Nyetir yang benar hun. Aku ga mau kalau bayi kita kenapa-napa lagi" ucap Kinan memegangi perutnya. Mengalami keguguran pada kehamilan pertama adalah pukulan terbesar untuknya, jadi wajar jika serang pada kehamilan keduanya Kinan lebih protektif.


Tiba di rumah, Kinan langsung menghubungi Setiawan dan juga Bu Salma. Berulang kali ibu mertuanya mengucap kata Alhamdulillah karena sudah Tuhan sudah menjawab doa mereka, begitu pun dengan tuan Setiawan yang menasehatinya agar jaga kondisi dan kesehatan nya.


Bahkan mulai besok Setiawan sudah tidak memperbolehkan Kinan untuk masuk kantor.


"Kamu di rumah, jaga kesehatan mu dan juga bayi mu. Nanti kalau sudah lahiran, kalau kamu mau kembali bekerja, itu terserah kamu" ucap Setiawan tegas. Kinan tidak keberatan. Apa pun akan di turuti demi kebaikan bayi yang ada dalam kandungannya.


Berita kebahagiaan itu pun sampai ke rumah Bintang. Piter lah yang menelpon Bee untuk pertama kalinya. Alhasil satu jam lebih Bee dan Kinan saling berbagi cerita.


"Aku udah ga sabar buat nunggu Minggu kita ngumpul di rumah ibu" ucap Bee yang menjawab telepon Kinan dengan meringkuk dalam pelukan Bintang di sofa ruang keluarga.


"Aku juga. Bawa Saga dan si kembar. Duh..Bee aku mau nangis deh kalau ingat ada bayi dalam perut ini" ucap Kinan kembali emosional. Di raba nya kembali perutnya. Piter yang melihat itu pun gemas, melepas tangan Kinan lalu digantikan oleh bibir Piter yang menciumi perut rata Kinan.


"Kamu jaga kesehatan Nan. Jangan terlalu kecapean. Oh iya, tensi juga di jaga. Jangan terlalu senang hingga menimbulkan rasa khawatir ya" terang Bee yang sedikit banyak berbagi pengetahuannya.


"Iya. Aku juga mau tanya banyak soal kehamilan sama kamu. Sampai jumpa di rumah ibu, Bee"


"Ok..bye"


Selesai menutup telepon, Bee melihat Bintang dan memberi pria itu sebuah senyuman sebelum mencium pipi pria itu.


"Kok cuma pipi? bibir juga dong"


Permintaan sang Raja pun di kabulkan. Saat penyatuan bibir itu begitu nikmat baru menyapa, keduanya justru tersentak saat menyadari Hana sudah berdiri di dekat mereka. Spontan Bee mendorong dada Bintang. Lampu temaram di ruangan itu yang hanya mendapat pencahayaan dari televisi membuat mereka tidak menyadari kehadiran Hana.


"Mmm...ya Han?" tanya Bee kikuk di perhatikan seperti itu. Wajah Hana tentu saja menampilkan rasa tidak suka nya.


Belum menjawab, Hana memilih duduk di sofa single di dekat Bee. Bintang yang tidak perduli sudah kepergok mencium istrinya, justru santai tidak perduli. Dia malah menarik Bee dalam pelukannya. Kaki Bee yang naik ke atas sofa menjadi pegangan tangan Bintang.


Semua itu tidak luput dari tatapan tidak suka Hana. "Oh..ga, aku hanya ga bisa tidur. Jadi aku pengen ngobrol sama kamu. Aku cari ke kamar, kamu tidak ada. Aku tadi dengar kamu nelpon jadi aku kemari" terang nya melirik Bintang sekilas. Tapi pria itu masih asik melihat acara tv, tanpa melepas dekapannya pada Bee.


"Iya. Itu tadi ipar ku. Memberitahukan kabar gembira. Dia lagi hamil, dan Minggu ibu minta kami ke rumah nya"


"Ibu?"


"I-Iya..ibu mertua ku" jelas Bee


"Jadi kalian Minggu mau ke rumah mama nya Bintang?"


Bee mengangguk cepat. Namun mimik wajah Hana yang tadi redup kini tampak ceria. "Aku boleh ikut?"


Tatapan tajam Bintang adalah reaksi pertama yang di terima Hana. Tapi gadis itu seolah tidak perduli, justru memilih untuk menatap Bee penuh harap. "Mmm..gimana ya Han?" Bee menoleh pada Bintang untuk minta pendapat.


"Ga bisa. Itu hanya untuk keluarga, kami tidak biasa membawa orang lain ikut serta" ucap Bintang tajam. Semakin aneh lihat tingkah Hana.


Gadis itu sudah mulai menunjukkan sifat aslinya, selalu menekankan keinginan nya yang buat Bintang muak.