
Bee berusaha menelisik perubahan di wajah Bintang. Masih datar. Dia belum melihat tanda amarah di wajah pria itu. Dia masih diam, memasang wajah serius menunggu kelanjutan kalimat Bee.
"Aku juga bukan tanpa alasan ke sana. Aku tahu kakak pasti ga suka kalau aku pergi menemuinya, tapi aku pergi karena Elang lagi sakit kak. Dia butuh obat, dan minta tolong aku untuk mengantarkan ke rumah nya. Hanya itu" ucap nya pelan. Sedari tadi memilin jari, guna menghilangkan kegugupannya.
Tidak mendapat tanggapan atas ucapannya, Bee menatap tajam ke arah mata Bintang, tapi pria itu serasa tidak bernyawa, datar dan dingin.
"Kak..ngomong dong" Bee meletakkan tangannya di atas tangan Bintang, menggengam jemari pria itu, seakan dirinya sedang berada di atas seutas tali, dipaksa berjalan dan hanya dengan menggengam tangan itu dia akan selamat.
"Kamu mau dengar aku ngomong apa?"
"Ya apa aja. Aku tahu salah. Harus nya aku minta izin sama kakak kalau mau pergi" ucap nya menunduk. Matanya mulai berair, niscaya lima menit lagi kalau Bintang tidak menenangkan nya, dia akan menangis.
"Aku kecewa karena kau menemuinya, terlebih tanpa seizin ku. Aku kecewa karena kau sudah berbohong padaku, mencari alasan menutupi pertemuan kalian dengan membawa nama Kinan"
Tes..!
Jatuh juga di pipinya. Apa yang paling menyakitkan saat diri berbuat salah pada orang lain, tapi yang bersangkutan tidak marah, justru mengatakan kata kecewa nya dengan nada lembut. Sudut hati Bee perih, karena sudah berbuat curang pada Bintang. Suaminya bahkan tidak marah padanya!
"Kenapa nangis?" tanya Bintang menarik dagu Bee, agar mendongak menatapnya.
"Aku..aku..menyesal sudah bohongin kakak. Tapi aku melakukannya karena aku kasihan sama dia kak, bukan ada maksud lain. Sedikit pun aku sudah tidak punya perasaan apapun padanya. Hanya kasihan.. dia sakit, tapi ga ada yang ngurus"
Dengan lembut Bintang menghapus jejak air mata di pipi Bee. Mencium sekilas bibir mungil itu dan menarik Bee ke dalam pelukannya. Tangis Bee kembali pecah. Kali ini sampai sesunggukan.
"Sudah jangan nangis. Air mata mu terlalu berharga. Aku ga mau lihat wajah cantik mu ini menjadi kusut karena menangisi hal yang tidak penting. Terimakasih sudah mau jujur padaku. Aku menunggu kejujuran mu sejak beberapa hari lalu tahu kau sedang menyembunyikan sesuatu dari ku" Telapak tangan Bintang begitu lembut membelai punggung Bee, menenangkan gadis itu.
"Aku minta maaf kak" Isak nya sampai tubuhnya terguncang.
"Aku maafin. Dengar.." Bintang melerai pelukannya.
"Kedepannya, apa pun yang terjadi atau apa pun yang ingin kau lakukan, bicarakan padaku. Cintaku sangat besar hingga pasti mampu memaafkan mu, tapi dalam hubungan suami istri, kita perlu saling menghargai perasaan pasangan kita, agar dalam rumah tangga itu tetap tercipta kenyamanan" ucap Bintang menatap Bee. Perlahan gadis itu mengangguk.
"Jujur, aku memang tidak menyukai pria itu, terlebih atas apa yang sudah dia perbuat padamu. Tapi karena kau meyakinkan diriku, bahwa pria yang sekarang kau cintai adalah aku, maka aku akan percaya, memaafkan hal ini. Tapi aku mohon Bee, jangan pernah bertemu dengan pria mana pun tanpa seizin ku.
"Aku begitu lemah terhadap cintamu, hingga rasanya akan mati jika kau di rebut orang lain dari sisi ku"
Semua ucapan Bintang itu terdengar seperti lantunan melodi cinta, Bee sudah tidak kuat menerima cinta pria itu lebih banyak lagi. Bukan, suami nya bukan manusia biasa, tapi malaikat. Untuk meluapkan rasa terimakasih dan besar nya kesungguhan cintanya pada Bintang, Bee menangkup wajah Bintang, dan seketika itu juga menyatukan bibir mereka, lama dan dalam. Ciuman penuh perasaan berubah menjadi lum*tan penuh bara asmara.
Bee ingin membuktikan lewat ciuman nya itu, bahwa hanya ada Bintang dalam hatinya. ******* memburu itu di iring rintik hujan di luar sana. Mungkin udara di luar bagi orang yang masih berjuang sampai ke rumah nya masing-masing terasa dingin, tapi tidak bagi kedua insan yang tengah memacu hasrat. Malam itu menjadi sempurna dengan c*mbuan penuh cinta.
Semua yang terjadi, pembelajaran bagi Bee kedepannya. Ada hal yang tidak bisa di putuskan nya sendiri sekarang, setelah punya suami mendengar pendapat dari pasangan adalah hal yang penting.
"Terimakasih sudah di antar, jadi enak nih" seru Bee mengulum senyum.
"Enak apa?"
"Enak dianterin suami. Makasih kakak" ulang nya lagi.
"Bee.." wajah Bintang berubah serius.
"Mmm?"
"Aku kok ga pernah dengar kamu manggil sayang sama aku?"
"Sayang.. sayang ku.." ucap nya di depan bibir Bintang, hingga nafas mereka beradu. Senyum yang mengembang di bibir pria itu lah yang di harapkan Bee.
"Duh..suami aku ganteng banget sih.." ucap nya yang di balas Bintang dengan sebuah l*matan mesra.
"Udah, aku turun ya yang.." ucap Bee sembari membuka seatbelt.
"Kamu manggil apa tadi?"
"Sayang.." ulang Bee membulatkan mata tanda bingung.
"Terdengar lebih indah dari suara mesin ATM yang lagi ngeluarin duit" ucap Bintang garing, toh mampu membuat Bee tertawa.
Senyum masih terus saja menghiasi bibir Bee saat berjalan ke jurusannya. Namun di masih di parkiran, dirinya sudah di hadang seseorang yang tidak ingin dia temui lagi.
"Lang.."
"Hai Bee.." sejak Bee menemani Elang berobat terakhir kali, bari ini lah Bee melihat Elang dengan senyum yang dulu.
"Kamu di sini?"
"Iya..mau ketemu kamu sebentar. Boleh kan?"
Bee ingin menjawab, namun beberapa mahasiswa stambuk nya lewat dan menyapa dirinya.
"Kita ngobrol di sana aja" tunjuk Bee pada meja kosong di dekat taman. Elang mengikuti langkah Bee dengan gembira.
"Makasih ya Bee kamu mau ketemu aku lagi"
"Kamu udah baikan?" balas Bee bertanya.
"Sudah. Dan itu berkat kamu"
"Maaf Lang, aku cuma punya waktu lima belas menit, aku harus masuk. Kamu mau ngomongin apa?"
"Aku mau bilang makasih sama kamu. Udah banyak bantuan dari mu selama ini"
"Lang, udah ga usah di bahas. Aku ikhlas nolongin. Aku juga mau bilang sesuatu sama kamu. Kedepannya, aku ga bisa bertemu dengan mu lagi. Aku harus menjaga perasaan suamiku. Jadi ini adalah pertemuan kita yang terakhir" ucap Bee tegas. Dia tidak ingin kembali melakukan hal salah yang menyakitkan hati Bintang lagi.
"Tapi kenapa Bee? apa pria itu memarahi mu karena bertemu dengan ku?"
"Namanya Bintang, dan dia suamiku. Aku sangat mencintai nya dan aku tidak ingin suamiku kecewa jika aku menemui mu lagi. Bagiku, kepercayaan dan cinta Bintang lebih dari segalanya"
"Tapi Bee, kita.."
"Kita ga ada lag. Yang ada hanya aku dan kamu sebagai teman biasa. Aku harap kamu paham, aku kemarin menolong mu karena kasihan pada keadaanmu, lagi pula kita satu kampung dan juga teman masa kecil, wajar jika saling tolong di perantauan"
"Hanya itu?" tanya Elang memastikan.
"Ya, hanya itu!"