
"Bintang.."suara lembut Kinan menyadarkan pria itu.
"Maafkan aku Kinan"
"Apa dalam hati mu tidak ada cinta sedikitpun untuk ku?" Kinan menghapus air matanya yang terjun bebas.
"Maaf..hati ku terlalu sempit untuk mencintai orang lain sementara semua nya sudah di kuasai wanita itu"
"Lalau kenapa kamu tidak bersama nya? kenapa kalian berpisah kalau kamu mencintainya?"
"Sayang nya dia tidak mencintaiku" pernyataan itu terasa menyakitkan bagi yang mendengar, apa lagi bagi Bintang yang merasakan. Dan Kinan bersimpati akan keadaan Bintang.
"Kenapa tidak mencoba membujuknya?" entah terbuat dari apa hati Kinan, harus nya dia marah mendapati kenyataan ini, justru sebaliknya, dia malah duduk di samping Bintang ikut bersedih mendengar kisah sedih tak berujung itu.
"Dia tidak mau. Bahkan dia minta aku menceraikannya"
Bola mata Kinan membulat sempurna. Menceraikannya? berarti Bintang sudah pernah menikah? hal paling penting tentang calon suaminya yang tidak dia tahu. Lalu siapa wanita itu? dia banyak mendengar pria itu dekat dengan banyak wanita, para model dan artis. Hanya Stella yang lebih lama berpasangan dengan Bintang. Apa gadis itu?
"Lalu kenapa kamu mau menikah dengan ku, tang? kita tidak akan bahagia jika menjalani kehidupan rumah tangga tanpa ada nya cinta"
"Dalam hidup ku, hanya ada dua wanita yang paling aku hargai dan cintai. Hanya ucapan kedua wanita itu lah yang aku dengar. Dan menikah dengan mu, adalah permintaan dari mereka berdua" ucap nya tanpa rasa bersalah. Minuman sudah mempengaruhi pikirannya.
Air mata Kinan semakin merembes tak terbendung. Sakit hati dan kecewa yang kini dia rasakan. Dia seolah jadi korban di sini. Tapi untuk membenci Bintang pun dia tidak sanggup. Hatinya tidak mengizinkan hal itu, karena ternyata hidup pria itu lebih mengenaskan dari nya.
Hal positif yang dia dapat adalah, Bintang jujur di saat-saat terakhir sebelum pertunangan mereka dilangsungkan.
Lama berpikir, Kinan memutuskan untuk pergi dari sana. Meninggalkan Bintang dengan kegalauan nya, semetara dirinya memperbaiki kepingan hatinya yang hancur kini.
Tidak sedikit pun minuman beralkohol di dalam bar tadi dia sentuh, tapi aneh nya kepala nya begitu pusing. Perlahan Kinan keluar dari bar itu. Berjalan sendirian menyusuri jalanan. Hingga matanya menangkap satu tempat menyerupai minuman.
"Mungkin segelas minuman itu bisa membuat ku relax" batin nya melangkah masuk ke dalam bangunan dua lantai itu. Tampak lampu berkelap-kelip di kegelapan malam dalam ruangan itu.
Suasana hiruk pikuk di penuhi anak muda. Kinan duduk di meja bartender, menatap kosong pada muda mudi yang asik berjoget di bawah lampu warna-warni yang menambah kehebohan suasana malam itu.
Sang bartender menawarkan Vodka atau tequila pada Kinan yang dengan mantap di pilih Vodka.
Satu gelas, dada nya terasa mulai hangat. Aliran darahnya menghangat seiring air mata yang terus membanjiri wajahnya. Dua jam di sana, menghabiskan bergelas gelas vodka membuat nya kini mabuk hingga susah untuk berdiri. Tapi dia masih ingat untuk pulang. Selesai meletakkan beberapa lembar uang merah di bawah gelasnya, Kinan membelah kerumunan untuk bisa keluar. Udara terlalu sesak di dalam sini.
Tapi tepat saat di tengah ruangan, dua orang pemuda menariknya, memaksa nya untuk ikut berdansa bersama mereka.
"Lepaskan..lepaskan aku.." salak nya memeluk tas tangan di dada. Tapi bukan melepaskan Kinan, kedua nya kini malah semakin mendekat. Membelenggu wanita itu diantara tubuh mereka. Kinan tak berdaya. Kepalanya pusing, dan bau rokok bercampur minuman dari tubuh kedua pria itu membuat nya pusing mual dan ingin muntah.
"Ayo cantik, kita bersenang-senang" tarik pria bertato.
"Lepas.. tolong lepaskan aku.."
"Ada apa bung? kami tidak butuh bantuan. Cari mangsa mu sendiri"
"Justru itu. Dia mangsa gue. Dia pacar gue, lepaskan" hardik pria itu.
"Jangan ngarang. Sejak wanita ini masuk, kita udah perhatikan. Dia sendirian, jadi ga mungkin lo pacarnya" sambar si tato.
"Terserah kalian percaya apa ga, tapi.."
"Kamu? kamu di sini? kamu ngikutin aku ya? aku ga mau melihat mu. Kau sudah mematahkan hatiku. Kamu jahat. Kenapa saat kita akan tunangan kamu malah mengatakan hal itu padaku?" celoteh Kinan menunjuk nunjuk dada pria itu. Sontak kedua pria yang mengganggu Kinan menatap si pria berjaket kulit itu penuh pertanyaan.
Pria itu menatap kedua nya, seolah mengatakan apa gue bilang, cewek ini pacar gue!
Kedua pria itu tidak ingin mencari masalah mengganggu milik orang lain, lalu berlalu pergi meninggalkan Kinan yang baru saja di selamat kan oleh seorang pria yang samar dia lihat.
"Pulang..mau pulang.." celoteh nya tidak jelas. Pria itu akhirnya membawa Kinan keluar dan sampai di depan pintu Kinan memuntahkan semua isi perutnya, dan di bantu si pria berjaket dengan menepuk-nepuk pundaknya pelan.
"Mau diantar kemana?" tanya si pria jaket, tapi Kinan sudah jatuh dalam lautan mimpinya. Bingung harus membawa gadis yang tidak di kenal nya itu harus kemana, sang pria berjaket memutuskan membawa gadis itu ke hotel, biar bisa beristirahat, lalu setelahnya dia akan pulang setelah membayar tagihan kamarnya.
Hotel terdekat yang juga hotel bintang lima menjadi pilihan nya. Setelah memesan kamar VIP, pria itu memapah Kian yang berjalan terseok dengan tangan di punggung sang pria.
"Hufffh..kamu istirahat lah" ucap nya membaringkan tubuh Kinan, namu belum sempat beranjak, jaketnya di tarik Kinan, hingga pria itu menunduk menghadap Kinan yang sudah terduduk, dan tak lama Kinan membagi isi perutnya tepat di dada pria itu.
Bau anyir menyeruak di antara mereka. Pria itu bahkan harus memejamkan mata dan menahan nafas. Dihempaskan nya tubuh Kinan kembali ke tempat tidur, mengambil tisu dari atas meja dan melap mulut Kinan sebelum dirinya beranjak ke kamar mandi.
Mau tidak mau pria itu terpaksa membersihkan tubuh nya dengan melepas jaket dan koas nya. Lalu keluar menatap Kinan yang sudah berdiri tepat di depan nya, tiba-tiba melingkarkan tangan di leher si pria.
Kinan yang masih di bawah pengaruh minuman, kembali berkicau di bawah sadarnya.
"Kenapa kamu ga suka sama aku? kenapa ga ada yang mencintai aku tulus?" tanya nya seolah pria itu adalah Bintang.
Si pria hanya menatap heran penuh tanya, tidak mengerti apa yang telah di alami gadis itu hingga tampak terguncang.
"Apa aku tidak cantik?" tanya nya mendongakkan wajah dengan tetap merangkul leher si pria.
"Cantik" sahut si pria
"Apa aku tidak menarik?"
"Sangat menarik"
"Kalau begitu ayo" belum sempat menjawab, Kinan sudah menutup bibir pria itu dengan bibirnya penuh damba.