Sold

Sold
Sakit



Dengan lunglai Bee pulang ke rumah. Mengunci diri rapat-rapat di dalam, hingga acara tangis-tangis an nya tidak terganggu.


"Aku mohon Bee, menikah lah dengannya. Aku akan menunggu mu berpisah dari nya. Hanya setahun kan?" suara Elang memelas untuk memohon pada Bee.


"Kamu benar-benar gila Lang. Dia tak hanya meminta ku menikahinya, tapi juga untuk memberikan nya keturunan, ahli waris baginya!" tangis Bee terus terdengar. Semakin di teruskan percakapan ini, semakin sakit menghimpit dada nya.


Elang diam sesaat, memikirkan sesuatu. " Terima saja, berikan apa yang dia minta. Setelah habis masa nya, kamu bisa ajukan gugatan cerai, dan kita bisa bersama. Saat itu aku pasti bisa memberikan apa pun yang kamu butuhkan Bee. Aku mohon, berjanjilah untuk membantu ku Bee.."


Bee menutup matanya. Semua isi percakapan nya dengan Elang tadi terus berputar di pikirannya. Tiba-tiba tawa nya terdengar, bercampur dengan tangisan yang menyayat.


Tragis banget hidup gue, pertama gue di jual oleh papa, lepas dari perjodohan gila itu, sekarang justru pacar gue nge jual gue sama orang yang sama..gue ini manusia punya hati, bukan barang yang bisa kalian jual beli..!


Nyatanya hati nya tak sekuat itu. Dia akan melakukan permintaan Elang, dengan satu harapan, suatu hari Elang akan menjemputnya bila sudah tiba saat nya. Bukan kah begitu lah cinta? derita nya tiada akhir?!


Cahaya temaram dari dalam rumah sebelah itu, menandakan tuan rumah masih belum tidur. Lagian, siapa yang akan tidur jam segini, sebagian orang bahkan belum makan malam.


Saat hendak membuka pintu pagar rumahnya, Lala sudah berlari menuju arah rumah Bintang, tapi karena dia melihat Bee berdiri di depan pintu gerbang, Lala datang menghampiri.


"Mau kemana Bee?" tanya nya polos. Sedangkan yang ditanya melihat ke arah tangan Lala yang membawa satu termos stainless ukuran sedang.


"Apa itu?" tanya nya balik.


"Oh..ini, wedang jahe merah. Aku buat untuk kak Bintang. Dia lagi sakit" terangnya masih menatap Bee. Lala memang gadis polos, yang tak pandai membaca riak wajah orang.


"Dia..memang nya dia kenapa La?"


"Kasihan dia Bee. Tadi malam aku lama bertandang ke rumah nya. Awalnya ngobrol santai. Tiba-tiba dia minum banyak, hingga dua botol penuh. Lalu mabuk dan muntah-muntah. Kasihan banget pokoknya. Kayak nya dia lagi patah hati atau sakit hati gitu sama pacarnya" terang Lala panjang lebar.


"Kenapa gitu? sok tahu kamu La, dia itu di Jakarta sana terkenal playboy, banyak gadis yang di kencani nya, mana ada dalam sejarahnya dia bakal patah hati" sambar Bee mengerucut kan bibirnya.


"Tapi benar loh Bee, soalnya dia ngoceh-ngoceh tuh. Gini katanya.."


Sebesar itu lo cinta sama si brengsek itu, sampai lo rela ngelakuin apa aja buat dia? Harus nya lo lihat, yang cinta sama lo bukan dia tapi gue. Pria baik-baik mana yang meminta kekasihnya untuk meminjam uang sama laki-laki lain?


"Gitu Bee. Aku tebak nih ya, cewek nya itu ga suka sama dia, suka nya sama cowok lain, yah.. cinta bertepuk sebelah tangan lah" lanjut Lala.


Wajah Bee pucat pasi. Ternyata sikap tenang Bintang malam itu, karena dia sudah tahu, uang yang akan dia pinjam itu untuk siapa!


Dan guratan kesedihan itu..


"La..aku ada perlu sama Bintang, boleh aku yang bawa itu?" tanya Bee menunjuk termos yang di tenteng Lala.


"Tapi kan Bee, aku pengen dia tahu aku udah berusaha perhatian sama dia, aku siap menggantikan gadis bodoh yang sudah menyia-nyiakan pria sebaik itu" ucap Lala memeluk termos nya. Enggan memberikan pada Bee.


"Please La, ini penting banget. Kamu ga usah takut, aku akan bilang ini dari kamu" ucap Bee memohon. Lala akhirnya setuju, menyerahkan termos itu, dan pulang ke rumah.


Tok..tok..tok..


Tak lama, pria bertubuh besar membukakan pintu untuk Bee.


"Maaf, nona mau apa?"


"Aku mau ketemu Bintang.." jawabnya pelan.


"Tuan Bintang sedang tidak enak badan. Lagi istirahat, kembali lah besok" ucap Herman. Dia tahu, gadis itu penyebab keadaan tuan nya hingga seperti sekarang. Sepenjang malam hingga pagi dini hari, Bintang minum tiada hentinya, seolah berharap minuman itu bisa mengurangi rasa sakit hati nya.


"Aku mohon, izin kan aku masuk. Atau coba katakan padanya, ada aku menunggu di sini, ingin bertemu, ini penting" ucap Bee memohon. Setelah sekian detik berpikir, akhirnya Herman naik ke atas untuk melapor.


Sebenarnya tujuan utama Bee datang malam itu, bukan hanya ingin menyampaikan bahwa dia menerima tawaran Bintang, yah..awal nya itu, tapi setelah mendengar Bintang jatuh sakit, ada perasaan khawatir di hatinya, mendorong nya ingin segera bertemu.


Tak lama Herman muncul. "Bos bilang anda bisa menemui beliau di atas, di kamarnya. Tuan masih pusing untuk turun. Tapi kalau tidak terlalu penting, anda bisa datang besok saja"


"Ga..aku akan ke kamarnya.."


Degub jantung yang terus bertalu-talu mengiringi langkah nya mengikuti Herman yang menunjukkan kamar Bintang. "Silahkan nona" ucap pria itu menunjuk pintu kamar Bintang.


Perlahan, Bee memutar knop pintu, membuka pintu itu dan masuk ke dalam. Bentuk kamar yang berbentuk L, membuat Bee harus masuk lebih ke dalam.


Pria itu telentang di tempat tidur, menutup matanya, dengan tubuh yang tertutup selimut.


Ehem..


Bee berusaha membuat sinyal agar Bintang tahu keberadaannya.


"Hai.." sapa Bee setelah Bintang membuka mata dan berusaha untuk bersandar di head bed.


"Hai.." ucapnya masih tersenyum. Sorot mata itu masih sama menatap nya penuh kelembutan. Tak ada amarah yang ditujukan padanya, masih tetap hangat seperti pertama kali mereka bertemu.


"Sini.." ucap nya serak, menepuk sisi tempat tidur di sampingnya agar Bee mendekat. Gadis itu menurut mendekat padanya. Lalu duduk setelah meletakkan termos yang dia bawa.


"Ini dari Lala. Tadi dia mau kemari, tapi aku meminta untuk mewakilinya" ucap Bee sedikit malu.


"Aku senang kamu datang Bee"ucap nya tersenyum.


"Aku tadi nya ingin membahas persyaratan itu dengan mu. Tapi mungkin lain kali aja".


"Ga papa, aku sudah baikan" sela Bintang membenarkan duduk nya.


"Kamu udah tahu, aku minjam uang itu untuk Elang?" tanya nya dengan suara pelan. Bintang mengangguk. Tapi terus menatap Bee. Betapa besar rasa yang dia simpan untuk gadis itu. Hingga apa pun kesalahan yang dia lakukan, pasti dapat Bintang maaf kan.