Sold

Sold
Beda pendapat



Siapa pun di ruang makan itu tahu, kalau anak sulung keluarga Danendra sedang perang dingin dengan istrinya. Selama makan malam itu berlangsung, hanya keduanya yang tak banyak bicara.


Bintang sedang sibuk memotong-motong steik yang ada di hadapannya menjadi potongan kecil siap santap, lalu setelah selesai tanpa berkata apa-apa, mengangkat piringnya dan menukar dengan milik Bee yang duduk di samping nya.


Mulut boleh tidak berbicara satu sapa lain, tapi hati sudah tahu milik siapa. Cinta pasti selalu menang dalam setiap perkara. Besar nya rasa cinta Bintang pada Bee siapa pun tidak akan pernah meragukan nya.


Kali ini perbedaan pendapat diantara mereka terjadi, membutuhkan waktu untuk meredakan amarah dan rasa kesal masing-masing.


Pun seusai makan, saat semua duduk berkumpul di ruang keluarga, berbincang santai dengan kudapan yang sudah di pesan ibu dari salah satu toko roti dan cake terkenal keduanya tetap diam tidak saling sapa.


"Mama papa mu kenapa Ga?" bisik Piter mencondongkan tubuhnya ke arah bocah yang sejak tadi tidak berhenti mengunyah permen coklat warna-warni yang di tiap butir nya bertuliskan huruf M.


Hal itu lah yang selalu membuat Saga betah di rumah neneknya. Penuh jajanan kesukaannya yang tentu saja kalau di rumah nya tidak akan seleluasa ini untuk mendapatkan semuanya.


"Lagi belantam om" sahut nya cuek. Fokus nya sudah terkunci pada coklatnya yang ada di hadapannya.


"Belantam kenapa?" kembali Piter berbisik. Diliriknya sekilas Bee yang tengah berbicara dengan Kinan, dan abang tersayang nya yang lagi dapat wejangan dari sang ibu. Piter bisa menebak, nasihat ibu memang tidak ada habisnya, habis ini pasti gilirannya.


"Biasa lah om. Papa mau beli mainan buat aga, tapi mama ga bolehin, libut deh" jawab nya yang ikut-ikutan bersuara pelan, takut kalau Bee sampai dengar.


Saga memang anak yang keras kepala. Perhatian, kasih sayang dan banyaknya cinta yang dia terima dari orang-orang sekitar membuatnya jadi pribadi yang suka seenaknya, manja dan semua yang dia ingin kan harus di penuhi. Tidak seorang pun bisa mendebat keinginannya. Tangis dan ngambek sert mogok ga mau makan menjadi andalannya setiap permintaannya yang tidak di kabulkan.


Kadang Bee sampai kewalahan. Tapi keras kepala nya akan kalah dengan air mata Bee. Pernah suatu hari, Saga ngotot minta di belikan mainan helikopter yang harganya lumayan mahal karena di lengkapi kamera yang sekalian bisa di jadikan pemantau dari atas.


Karena bocah itu baru seminggu lalu di belikan Bintang mainan helikopter, Bee tentu saja bersikeras menolak permintaan Saga. Perdebatan pun terjadi dengan Bintang. pria itu tetap berkeinginan membelikan Saga mainan itu. Akhirnya Bee menangis, dan mengurung diri di kamar.


Saga yang melihat air mata mama nya menjadi luluh. Hanya pada Bee lah Saga akan tunduk. Jadi dia mendatangi Bee, mengusap air mata mama nya dan memeluk leher Bee erat.


"Maafkan aga ma. Ga usah deh beli heli nya kalau mama nangis" ucap sambil membelai rambut mamanya. Hal yang sering dia lihat dilakukan papa untuk memintanya diam kalau sedang menangis.


"Udah malam, kami pulang dulu Bu" ucap Bintang. Telinganya sudah mulai tebal setengah jam lebih ibu mengumandangkan nasihat yang hampir sama setiap kali bertemu. Jadi suami yang baik, ayah yang bisa diteladani Saga dan jangan jadi pria brengsek. Nasehat yang terus berulang, seolah Bintang memang iblis yang harus sering di rukiyah.


"Kalau begitu kami juga pamit Bu" Piter menimpali. Dia harus cabut sekarang juga kalau mau lepas dari wejangan panjang ibu nya.


"Baik lah kalau begitu, lagian cucu nenek ini juga sudah mengantuk nampak nya" ucap ibu membelai rambut Saga yang lurus dan lembut. Bocah pintar itu sudah menyandarkan kepalanya di lengan Piter, benar-benar tidak sanggup melawan rasa ngantuk nya yang semakin parah.


"Kau tunggu dulu. Ada yang mau ibu omongin" suara tegas ibu membatalkan niat Piter yang ingin bangkit.


Berkutat dengan pikiran masing-masing, membuat suasana di dalam mobil tampak horor. Bintang bukan nya tidak mau maju duluan untuk mengajak Bee bicara, tapi dia tahu saat ini istrinya masih kesal padanya.


Mesin mobil sudah di matikan saat tiba di depan rumah. Bee bergegas membuka seatbelt yang saat berangkat tadi di pasangkan oleh Bintang dalam diam nya.


"Kemarikan Saga, biar aku gendong" pinta Bintang yang sudah membuka pintu di sisi Bee dan menghadang jalan keluarnya nya.


Masih dengan keras kepalanya, Bee tidak menjawab, perlahan menurunkan satu kakinya menjejakkan ke tanah. Bintang tahu, keras kepala Bee tidak akan ada yang bisa menandingi, maka Bintang semakin menutup aksesnya untuk keluar.


"Aku yang gendong Saga masuk, atau kalian berdua aku gendong sekalian" ancaman Bintang mampu membuat Bee mendongakkan kepala. Melihat sekilas wajah serius pria itu dan nyalinya sedikit menciut. Sebenarnya dia juga akan kesulitan kalau harus menggendong Saga menaiki tangga, apalagi saat ini di sedang hamil.


Saga sudah dalam dekapan Bintang, dan membawanya ke atas yang diikuti oleh Bee. Membaringkan putra kesayangannya di ranjang, menyelimuti dan mematikan lampu kamar nya sebelum keluar.


Langkah Bee yang menuju kamar mereka, diikuti Bintang dengan cepat, hingga saat keduanya sudah di dalam, Bintang menutup pintu dan menarik tangan Bee agar berhenti. Sudah di tebak, Bee akan mengumpat kesal dan mencoba menghempaskan pegangan Bintang, tapi pria itu terlalu kuat untuk diabaikan.


"Jangan marah lagi. Aku salah" ucapnya menahan tubuh Bee lebih menempel ke tubuhnya. Memegang lembut leher wanita itu dan membelai wajahnya.


"Kau selalu berkata seperti itu kak, setiap kita ribut soal mendidik Saga" sahutnya cepat. Sebenarnya sejak tadi dia juga sudah gerah menahan mulutnya untuk tidak berbicara dengan Bintang.


"Aku akui, aku lemah kalau sudah berhadapan dengan Saga. Aku sangat menyayangi nya"


"Dan apa kau pikir aku ga sayang sama dia kak?" Bee begitu kesal mendengar argumen Bintang. Setiap orang tua pasti sayang pada anaknya, tapi tidak serta merta memberikan semua yang di minta oleh anak. Itu sama saja membuat anak menjadi sombong dan tidak punya sikap bijak dan rendah hati nantinya.


"Iya, aku salah. Udah ya, jangan marah lagi. Aku ga tahan ga menyentuhmu, ga bicara dengan mu, Bee" gadis itu perlahan mengangguk. Dia juga ga suka harus saling diam dengan suaminya.


"Oh iya kak, kemarin aku dapat tawaran untuk produk susu anak. Mereka menawarkan Saga ikut juga sebagai anak nya" ucap Bee mulai membuka kancing kemeja Bintang satu per satu.


"Aku ga mau yang, kamu kelelahan. Syuting itu capek" sambar Bintang yang memang tidak ingin Bee menerima tawaran apa pun.


"Aku janji, akan jaga fisik dan kesehatan ku. Kalau udah mulai lelah, minta break. Aku rindu tampil lagi kak" rengek nya yang berhasil meluluhkan hati Bintang.


*Hai, aku promo lagi novel emak Eike ya. ini mah otot keren dan senior. kuy, samperin novel nya. Kamsamida 🙏😘