Sold

Sold
Ancaman masuk bui



"Kenap sih? santai dong sayang, kamu tegang amat. Sini biar aku buat kamu relax" ucap Elang menarik kembali Bee duduk.


"Lang ada yang ingin aku bicarakan serius dengan mu"


"Nanti saja" Elang sudah kembali memeluk tubuh Bee dari belakang, menggerayangi tubuh gadis itu, bahkan tangan Elang dengan kasar mer*mas salah satu dada Bee hingga membuat gadis itu berontak mendorong Elang hingga terbentur ke tembok.


"Aku mau pulang. Aku ga suka tingkah kamu seperti ini Lang!" Bee sudah berjalan menuju pintu balkon tapi Elang menahan, memblokir jalan keluar.


"Ayo lah Bee. Untuk merayakan kesuksesan kita, aku ingin sekali merasai mu sayang" Elang kembali mendekat tapi Bee menghindar.


"Maksud kamu apa?"


"Aku ingin bercinta dengan mu, Bee. Ayolah"


"Kamu gila Lang. Awas aku mau pulang" salak Bee meminta Elang minggir. Tapi itu hanya angin lalu di telinga Elang.


"Jangan jadi munafik. Hal seperti ini udah biasa. Apa lagi kayak kita yang artis ini"


"Tidak dengan ku"


"Ga usah munafik Bee. Apa kamu tidak kesepian. Lagian kamu juga udah jadi janda ini, udah bolong juga. Ga akan ada masalah lah"


Tamparan keras buat Bee mendengar perkataan Elang. Lagi-lagi hati nya terguncang menyadari kekeliruannya selama ini bisa menyukai pria menjijikkan seperti Elang.


Tergesa-gesa, Bee melepas cincin yang baru beberapa jam lalu di sematkan Elang di jarinya. "Ini. Aku kembalikan. Aku tidak bisa bersama mu lagi. Kita akhiri hubungan ini sampai di sini" Bee meletakkan cincin putih itu di atas meja.


"Maksud kamu apa, hah? kamu mau putus dengan aku? kau gila ya? siapa kau berani mutusin aku?" semprot Elang menekan rahang Bee, mendorong tubuh gadis itu hingga terduduk di sofa.


"Lepas Lang. Sakit" teriak Bee sesak.


"Diam kau. Kau tidak sehebat itu untuk memutuskan ku. Kalau aku sudah muak padamu, aku yang akan mencampakkan mu, mengerti?!" Elang mengakhiri kalimatnya dengan membuka paksa kemeja Bee hingga kancing nya berhamburan di lantai.


"Jangan Lang..aku mohon..lepaskan aku.." teriak Bee memegangi kemejanya, tapi Elang seolah tuli tak bergeming sedikitpun. Terlalu sibuk dengan aksinya menghujani Bee dengan ciuman paksa.


Merasa terganggu dengan aksi Bee yang menutupi tubuhnya dengan menahan kemeja itu terbuka, Elang merobek lengan kemeja itu. Bee yang kalap tak sempat berfikir lagi, hanya yang terlintas di benak menyelamatkan diri. Tangannya yang mampu meraih Botol minuman yang ada di meja, memukul kening Elang, hingga berhasil mengehentikan aksi pria bejat itu.


Elang terhuyung kebelakang, kesempatan itu diambil Bee untuk menendang ************ pria itu, Hinga terjatuh ke lantai, dan secepat yang dia bisa, Bee lari meninggalkan tempat terkutuk itu.


Berlari menyusuri jalan dengan gemetar, hingga di persimpangan menemukan tukang ojek. Bee naik meminta kang ojek pangkalan membawa nya pergi dari tempat itu. Tangan Bee menggengam kemejanya di dada.


"Pak, tolong berhenti di toko pakaian ya" pinta nya gemetar. Air mata terus turun di pipinya. Bayangan peristiwa tadi masih terus membayang di pelupuk matanya. Tubuhnya gemetar, saat hendak keluar, Bee sempat melihat darah yang mengucur dari kening Elang sebelah kanan. Bee takut, dalam hati terus berdoa, semoga Elang tidak mati.


Setelah membayar ongkos ojek nya, Bee masuk ke dalam toko pakaian. Membeli satu buah kaos oblong berwarna putih dan satu buah celana jeans biru. Pakaian lama nya dia bungkus di masukkan ke dalam plastik dan hendak dibuang, tapi niatnya di urungkan. Seolah ada bisikan jangan membuang pakaian yang sudah robek itu.


Dari toko itu, Bee memesan Ojol, dia ingin pulang. Tapi hati nya masih ketakutan. Memilih untuk menenangkan diri dengan singgah di cafe terdekat yang dia lalui.


Elang tidak mati..aku yakin itu..


Dering ponsel nya membuyarkan pikirannya. Tubuhnya kini bergetar hebat membaca nama penelpon di layar ponselnya. Bee memutuskan untuk tidak menanggapi telpon itu. Tapi setelah suara dering itu berhenti, tak lama satu pesan muncul.


Jangan harap bisa lari. Aku akan melaporkan mu ke polisi atas penyerangan yang kau lakukan. Dan akan ku pastikan kau mendekam di balik penjara!


Tubuh Bee semakin bergetar hebat, seolah sekeliling nya berubah jadi kutub es. Hati nya gelisah, membayangkan dirinya masuk bui, bagaimana dengan Saga? Dia tidak mau masuk penjara dan berpisah dengan Saga. Tapi apa yang harus dia lakukan? Bee sendiri pun ingat dia sudah melukai Elang, darah itu terlihat jelas mengucur dari pelipisnya.


Asik dengan pikirannya yang sedang saling mendebat, Bee tersentak oleh suara yang menegurnya dari belakang.


"Sudah ku tebak, gue ga salah orang. Hei nona cantik sedang apa di sini? sendirian?"


Bee mendongak ke arah pria itu. Pikiran yang kacau membuat nya sulit mengenali pria yang tersenyum manis di hadapannya ini. Namun setelah ingat akan wajah pria itu, Bee membuka mulutnya terkejut, tidak menyangka bisa bertemu kembali dengan nya.


"Kia..? kamu Kia kan? kakak nya Kiki?" pekik Bee senang.


"Lengkap amat. Ga sekalian bilang anak pejabat yang bapak nya selingkuh dengan cabe-cabean?" ujar nya sarkas membuat Bee melayangkan senyumnya.


Ah.. bertemu dengan Kiano seolah membuat nya sedikit tenang.


"Lagi apa di sini? kenapa sendirian?" ulang nya sembari memberi isyarat menunjuk kursi yang ada di hadapan Bee, dan meminta izin untuk duduk. Bee hanya mengangguk sembari tersenyum.


"Iya..tadi..ada urusan. Oh iya Kia, apa kabar Kiki di Sidney?" tanya nya mengubah topik. Dia ingin sejenak melupakan kejadian menyeramkan tadi.


"Dia baik. Betah nampaknya. Dia juga kesana karena nguntit pacarnya yang punya perusahaan di sana kan"


"Kamu sendiri, gimana? sejak kabur dari rumah, kita udah ga ketemu lagi. Udah mau dua tahun loh" sambar Bee. Hal terbaik yang ada pada hari ini cuma keberuntungan nya bertemu Kia.


Tidak menjawab, Kia justru membuka jas nya, menunjukkan ID card nya.


"Waow..keren. Kamu berhasil Kia, aku bangga sama kamu. Udah jadi pengacara sekarang"


"Terimakasih pujiannya. Ini baru balik dari pengadilan, nangani kasus pemerasan, dan Alhamdulillah, kita menang" ucap nya bangga.


Teringat akan Kia yang seorang pengacara, Bee berinisiatif untuk bertanya mengenai masalahnya.


"Kia, ada yang mau aku tanya sama kamu. Minta saran ya" ucap nya memulai.


"Katakan Bee. Apa aja pasti aku bantu"


Mulai lah Bee bercerita, dan semua dia ceritakan. Tapi tentu saja tidak termasuk menjual dirinya pada Bintang demi membantu Elang.


"Apa? jadi kamu udah nikah? sama Bintang Danendra? hartawan itu?" Kia menatap Bee seakan tidak percaya.