Sold

Sold
Permintaan Kinan



Mengurus satu anak laki-laki berusia 2 tahun lebih dan dua anak perempuan membuat waktu Bee tersita hingga tidak punya waktu untuk dirinya sendiri apa lagi bermesraan dengan Bintang.


Kesempurnaan menjadi ibu dia rasakan kini. Jangan kan untuk berdandan cantik, menyisir rambut seusai mandi saja kadang tidak sempat.


Kalau saat Saga lahir, Bee akan kerepotan pada malam siang hari dan bisa ikut tidur malam harinya, berbeda dengan bayi kembarnya. Mereka akan tidur lelap di siang hari, dan akan rewel malam hingga menjelang subuh. Dua bulan pasca lahiran, membuat tubuh Bee yang sempat berlemak, kini kembali terlihat langsing bahkan bisa di bilang kurus. Si kembar memang satu hati. Satu bangun pasti yang satu ikut bangun. Begitu pun kalau nangis, keduanya kompak saling menyahut.


"Tidur lah yang, biar aku yang jaga si kembar" ucap Bintang mencium puncak kepala Bee yang melihat kedua bayinya masih melek.


"Ga usah kak. Kakak besok kerja, tidur aja duluan" ucap Bee membawa telapak tangan Bintang ke pipinya.


"Oh iya, siapa nama kedua tuan putri ini?" lanjut Bee memandang kedua anak kembarnya.


"Aku masih memikirkan yang bagus. Aku mau nama kedua putri ku ini sangat berkharisma" ucap dengan senyum mengembang.


Pagi hari nya, ibu sudah tiba di rumah Bintang, dan tidak lama tante Di juga datang. Mereka kompakan untuk mengurus si kembar, agar Bee punya waktu untuk dirinya sendiri.


***


Kalau di rumah Bintang penuh kebahagiaan, dan riuh suara gembira, beda hal nya dengan Kinan. Beberapa hari ini dia begitu murung. Kemarin sore dia mengunjungi papanya. Saat menunggu Setiawan pulang, Kinan bercerita dengan bi Sum, pelayannya.


"Kenapa sedih non?"


"Iya Bi. Aku kenapa gini amat ya, udah setahun nikah kok belum punya anak juga?"


"Sabar non. Suatu hari non pasti bisa punya anak. Bibi yakin. Lagi pula non Kinan juga udah pernah hamil kan"


Kinan menghela nafas. Dia juga berharap apa yang di katakan bi Sum benar adanya. Dia bisa punya anak. Tapi kapan?


"Iya bi, tapi kapan ya doa saya terkabul? sementara ipar saya udah punya tiga orang anak, aku? satu pun belum" Kinan meletakkan kepalanya di meja makan.


"Gimana kalau non Kinan, pinjam anak non Bee buat pancingan?"


Merasa aneh dengan saran bi Sum, Kinan menegakkan tubuhnya. "Maksudnya gimana bi? pancingan gimana?"


"Jadi gini non. Di kampung bibi itu ada kebiasaan, kalau salah satu saudaranya belum punya anak, pinjam anak saudara nya yang lain. Jadi non Kinan yang ngurus salah satu anak non Bee, menganggap anak non Bee itu seperti anak non Kinan sendiri"


Dahi Kinan berkerut. Dia baru pertama kali ini mendengar budaya seperti itu di masyarakat desa. "Tapi apa jaminan nya aku bakal punya anak bi?"


"Ya ga ada jaminan gimana non. Tapi kebanyakan tetangga bibi di kampung melakukan hal itu, ga lama punya anak. Ya ga salah nyoba non. Lagian anak non Bee kan ponakan non Kinan juga, masih sedarah lah dengan tuan Piter"


Sedikit demi sedikit Kinan menelaah perkataan bi Sum. Benar juga, kalau pun memang dia tidak di takdir kan punya anak dari rahimnya, dia bisa mengangkat anak Bee menjadi anak mereka. Semangat Kinan timbul, dia harus segera menemui Bee.


Lusa nya, Kinan datang menjenguk Bee. Pada dasarnya Bee memang sangat menyukai anak kecil, jadi mengingat saran bi Sum, tentu saja Kinan tidak merasa berat. Bahkan bila perlu, dia sudah memutuskan untuk berhenti bekerja, dan fokus merawat anak Bee yang akan diangkat jadi anak nya.


"Halo cantik..tante Kinan datang nih" ucap nya mengelus pipi gembul si kembar, keduanya tampak terlelap di box bayi.


"Karena malam mereka begadang Nan, jadi siang nya pules banget deh"


"Mmm.. Bee, ada yang mau aku bicarakan sama kamu" Kinan sudah mengambil posisi bergabung bersama Bee di sofa.


"Ada apa Nan? apa ada masalah dengan Piter?" tanya Bee menaruh perhatian pada gadis itu.


"Oh..bukan. Ini masalah yang lain" Kinan bingung harus mulai dari mana. Dia masih menerka-nerka apa Bee akan menyetujui permintaan nya.


"Masalah apa Nan? wajah mu tampak serius?"


"Bee, kamu tahu kan, aku ingin sekali punya anak, tapi hingga saat ini Tuhan masih belum mendengar kerinduan hatiku" wajah Kinan tampak sangat sedih. Bee mengerti apa tang di rasakan wanita itu saat ini.


"Bersabar lah Nan. Percayalah kamu pasti aka. punya anak"


"Justru itu, ada yang bilang, untuk pancingan cepat hamil, aku harus ngurus anak kecil. Jadi maksud ku, aku mau minta satu anak kamu untuk aku urus. Boleh ya Bee?"


Bola mata Bee membulat. Sedikitpun tidak menyangka akan mendengar hal itu dari Kinan. "Nan, kamu sadar apa yang barusan kamu omongin?"


"Aku sadar Bee. Sangat sadar" air mata Kinan merebak. Perih sekali hatinya harus mengemis anak pada orang lain. "Aku mohon Bee, izin kana aku merawat salah satu putrimu"


"Tapi itu ga mungkin Nan. Memisahkan bayi kembar bukan hal baik. Mereka harus saling berdekatan"


"Ini hanya sementara Bee, sampai aku hamil nanti. Aku mohon, kabulkan permohonan ku. Kasihanilah aku Bee, hidup mu sudah sempurna. Kamu udah punya Saga dan juga dua putri. Tidak bisakah kamu memberikannya salah satu nya padaku? kamu juga seorang wanita Bee, pasti bisa merasakan perihnya perasaan ku saat ini kan Bee?"


Hal yang tidak di sangka Bee lainnya, Kinan menjatuhkan tubuhnya di kaki Bee, memohon pada gadis itu sembari menangis terisak. Bee sungguh tidak sampai hati melihat nya. Tapi dia juga tidak mungkin mengiyakan permintaan Kinan, terlebih lagi tanpa persetujuan Bintang.


"Nan, jangan gitu, sini.. duduk di samping ku"


"Aku ga akan bangkit dari sini, sampai kamu mengizinkan ku merawat salah satu dari mereka"


Bee jadi serba salah. Dia tidak ingin Kinan tegus menangis, tapi dia juga tidak bisa menyetujui permintaan Kinan. "Begini saja Nan, kita tunggu kak Bintang, karena bagiamana pun dia papa mereka. Aku tidak bisa mengambil keputusan seorang diri"


Kinan mendongak menatap Bee. Wajah nya penuh dengan air mata. "Tapi kamu janji ya Bee membujuk Bintang agar mengizinkan aku merawat putri kalian"


Ibarat makan buah simalakama, Bee tidak tahu harus berkata apa. Dengan lemah, Bee mengangguk agar Kinan diam dan mau bangkit. Sebagai seorang ibu, tentu saja Bee tidak akan mungkin merelakan anak nya di bawa orang lain, walau pun itu iparnya sendiri, tapi dia juga tidak tega melihat kesedihan Kinan.


"Janji ya Bee kamu akan bujuk Bintang"


"Aku akan bicara dengan kak Bintang, tapi Nan, jika kak Bintang tidak mengizinkan nya, kamu harus terima ya"


*Hai semua, maaf ya beberapa hari ini aku up nya sedikit, karena otor receh ini ngikut lomba berbagi cinta. Mohon bantu dukungan nya ya. kuy mampir..nih tampilannya.. kamsamida 🙏😘