
Sebulan sudah Bintang menikah. Cincin di jemari manis nya selalu tak pernah dia lepaskan. Seolah sudah menempel di kulitnya.
Saat mengetik, atau pun menulis, ekor matanya akan tertarik untuk melihat ke arah cincin itu, dan setelah nya dia akan tersenyum karena membawa lamunan nya pada sosok cantik yang kini hadir dalam hidupnya.
Belakangan ini, hubungan mereka semakin membaik. Walau sedikit, tapi jadi lah. Bee tidak lagi suka marah atau bersikap cutek pada nya. Bahkan subuh dini hari tadi, Bee ikut menemani Bintang untuk menonton pertandingan bola, Spanyol melawan Italia.
Bintang kira, Bee akan bosan, tapi sampai pertandingan babak kedua, Bee masih setia ikut nonton. Tapi tetap saja tidak sampai akhir, karena gadis itu sudah tertidur dengan paha Bintang sebagai bantalnya.
Mengingat gadis itu ada di rumah nya membuat semangat Bintang seakan tak pernah padam. Di kantor, Bintang akan berusaha menyelesaikan pekerjaan nya lebih cepat, agar bisa pulang lebih awal.
Untuk meeting dengan Client nya di luar kota, Bintang mengutus Riko untuk mewakili nya, ya karena tak ingin jauh dari Bee.
Sudah dua kali Bintang mengabaikan dering telepon nya. Dia sama sekali tak berniat untuk mengangkat telponnya, terlebih saat melihat nama si penelpon. Ratu sejagad!
Si penelpon yang jadi pemenang, karena pada dering ke empat, Bintang mengalah. Memilih untuk menjawab.
"Iya Bu.."
"Dasar anak durhaka..Kau masih ingat punya ibu hah?" salak wanita di seberang sana. Suara melengking nya membuat gendang telinga Bintang sakit hingga menjauhkan ponselnya.
"Bintang Danendra.." gema nya lagi karena tak mendapat sahutan dari sang anak.
"Iya Bu, aku dengar.. ada apa wahai Ratu sejagad?"
"Ada apa? batas akhir mu sudah habis. Minggu ini, persiapan kan dirimu, Ibu akan menikahkan mu dengan Lilis anak pak kumis, juragan kambing dari Subang!"
"Please deh Bu.."
"Ibu serius. Minggu besok kamu kemari, tak ada kata tawar dan penolakan atas perjodohan yang ibu buat. Kalau sampai kau tidak datang, sebaiknya kau adopsi ibu baru, karena aku tak Sudi jadi ibu mu lagi!"
Telpon terputus. Dan bisa di tebak, Bintang hanya tersenyum dengan ulah Ibunya. Dia begitu menyayangi ibunya. Mungkin sudah waktu nya mempertemukan Bee dengan sang Ratu.
Tapi bagaimana kalau ibu marah? pasalnya Bintang, anak kesayangannya itu menikah tanpa minta restu padanya? bahkan untuk sekedar memberi tahu pun tidak.
Ah..bukan kah yang terpenting kini ibu sudah punya mantu? tapi gimana kalau ibu ga suka pada Bee? memarahi ataupun menghina Bee? tidak. Ibu bukan lah wanita seperti itu.
Ibu mungkin tutur katanya tidak lembut bak ibu pada umumnya, dan begitu mematikan pada lawan bisnis nya dulu, tapi pada anak-anak nya ibu selalu penyayang.
Bagaimana kalau Bee yang justru bersikap kasar dan cutek pada ibu nya? bahkan memberitahukan perihal pernikahan kontrak mereka?
Bayangkan betapa terluka nya hati ibu. Kalau perasaan Bintang yang selama ini terzolimi oleh Bee, tidak masalah. Tapi ibu? Bintang tak sanggup melihat ibunya kecewa akan keputusan nya yang mungkin dianggap salah.
Nyali Bintang seketika ciut. Tapi Jika dia juga tidak membawa Bee ke hadapan sang ibu, justru Bintang yang akan di paksa nikah!
Malam nya, Bintang dan Bee menghabiskan makan malam nya dalam diam. Bintang masih belum tahu cara menyampaikan pada Bee, kalau besok dia ingin membawa Bee ke rumah ibunya. Apa kah lebih bagus meminta Bee untuk berpura-pura di hadapan ibu nya kalau pernikahan mereka itu normal?
Tapi kalau gadis itu protes? Bee bahkan sekali pun tak mau mendengar perintah Bintang.
"Ada apa? kenapa ngelirik gue sih dari tadi? apa lagi salah gue kali ini?" ucap nya nyolot.
"Tante Di cuma kasih izin makan enak tiga hari dalam seminggu" rungut nya kesal.
Bintang mengangsurkan mangkok berisi udang besar saus Padang kehadapan Bee. "Cobain dikit, enak deh"
"Pengen sih, tapi hari ini jadwalnya makan salad, ga boleh yang berlemak" Bee masih menatap hidangan itu dengan air liur yang di tahan.
Bintang lalu menyendok nasi plus udang dan menyodorkan ke mulut Bee. "Ayo makan.." Bee menatap sesaat mata Bintang lalu turun ke makanan, dengan nurut membuka mulutnya. Mata nya berbinar saat kelezatan makanan itu pecah di mulut nya.
"Enak?" tanya Bintang yang tersenyum melihat reaksi polos Bee. Gadis itu hanya mengangguk sambil terus mengunyah.
Akhirnya nasi yang ada di piring Bintang, mereka habis kan berdua. Bintang menyuapi Bee dua kali, lalu dirinya sekali. Ada kegembiraan dalam hati Bintang bisa bersama begini.
Seolah rasa cinta itu sudah semakin dekat diantara mereka.
Selesai makan, Bee akan video call an dengan ketiga sahabat nya di Pekanbaru, sementara Bintang sibuk di ruang kerjanya. Satu jam lebih keempatnya ber ghibah, hingga acara zoom an berakhir.
Bosan tak tahu harus apa, malam Minggu nya sungguh kelabu. Kalau ditanya keinginannya saat ini, Bee ingin keluar jalan makan jagung bakar atau kacang rebus, tapi kan ga mungkin. Bintang pasti tidak mengizinkannya.
Drama Korea juga lagi tidak menarik minatnya. Bee memutuskan untuk duduk di teras rumah. Komplek perumahan elit ini juga begitu sepi.
Sangat berbeda dengan kampung halamannya. Malam Minggu begini, banyak anak-anak remaja yang lalu lalang pacaran. Atau para bocah juga banyak yang bermain lari-larian.
Bee memutar lagu kesukaan nya dari salah satu playlist di ponselnya. Lagu yang dianggap nya begitu romantis. Mungkin cocok dengan dirinya dan Elang. Tapi apa iya Elang akan ada bersama nya sampai akhir?
But you'll never be alone
I'll be with you from dusk till dawn
I'll be with you from dusk till dawn
Baby, i am right here
I'll hold you when things go wrong
I'll be with you from dusk till dawn
I'll be with you from dusk till dawn
Baby, i am right here
Entah lah, yang pasti Bee masih berharap bisa bersama Elang, menikah dengannya. Tapi kenapa perasaan yang dulu begitu menggebu-gebu setiap bersama Elang, seolah hilang entah kemana.
Saat buat rencana bertemu, Bee akan antusias menyambut tapi kalau sudah ketemu, terasa dingin. Elang hanya perduli pada karir nya, kegiatan nya tak lelah dia ceritakan dengan gembira setiap mereka telponan atau pun ketemu, tapi tak sekali pun Elang bertanya, bagaimana hari-harinya dia jalani. Apakah dia baik-baik saja?
Tak ada yang perduli dengan perasaannya..dia terbuang, tak dianggap..