Sold

Sold
Bukan mantu biasa



Dua Minggu berlalu, tidak ada tanda-tanda Ranika akan kembali mengganggu mereka. Bee sudah bisa tenang, karena apa yang dia takutkan tidak terjadi. Dan dia bisa menikmati kebersamaan mereka tanpa ada yang mengusik.


Tapi itu semua tidak berlangsung lama. Siang itu ibu menghubungi Bee, meminta nya untuk segera datang. Ibu tidak mengatakan apa pun di telepon, kecuali menyuruhnya segera ke sana.


Bee tiba dengan kening berkerut. Di halaman rumah ibu sudah terparkir mobil yang serasa familiar.


"Bu.." sapa nya pada wanita yang duduk di sofa menghadap ke arah jalan masuk. Sementara di sampingnya, pada sofa single duduk seorang gadis yang wajah nya tampak sembab, sisa-sisa air mata masih jelas terlihat di pipinya. Dia Ranika!


"Kau sudah datang Bee, kemari lah nak duduk dekat ibu" Bee menurut, duduk di samping wanita itu tanpa melihat ke arah Ranika.


"Ada apa Bu? apa ibu baik-baik aja?" pikiran Bee ibu menyuruhnya ke sana berhubungan dengan kesehatan wanita itu, terlebih ada Ranika dan juga air matanya. Bee panik, menduga bahwa ibu mertua nya punya sakit yang serius.


"Kau tenang aja. Ibu baik. Tujuan ibu memanggil mu kemari adalah, ingin membicarakan masalah kalian" Bee ingin memotong, bertanya masalah apa yang mereka miliki? hubungan Bintang dan dirinya justru sangat baik saat ini, tapi ibu langsung meneruskan kalimatnya.


"Ini tentang masalah kau, Bintang dan Ranika. Dia bilang dia sudah menjelaskan semua padamu. Apa yang terjadi antara Bintang dan dirinya di masa lalu" kalimat ibu berhenti, seiring rasa khawatir di hati Bee di mulai. Dia sudah menduga kemana arah pembicaraan ini.


Tidak. Dasar wanita rubah, kali ini dia sudah memperalat ibu untuk memuluskan rencananya. Bee melirik sekilas Ranika, lalu kembali melihat ibu.


"Maksud ibu, ibu ingin menanyakan pendapatmu" Ibu menyentuh lembut tangan Bee, meminta perhatian gadis itu.


"Pendapat ku mengenai apa Bu? aku benar-benar ga ngerti"


"Ga usah pura-pura bego. Kamu tahu apa yang aku minta. Aku ingin Bintang menikahi ku" Ruangan mendadak hening. Bee menatap tajam pada Ranika, ingin sekali menampol mulut gadis itu yang begitu berisik, hati nya juga begitu licik membawa ibu pada masalah mereka.


"Maaf Bu, tapi aku tidak bisa mengizinkan kak Bintang menikah lagi" ucap Bee tegas, tidak ingin memberi ruang pada Ranika bertindak lebih jauh.


"Tapi Bee.. ibu merasa kasihan akan nasib Ranika" ucap ibu serba salah. Bagaimana pun Ranika sudah dianggapnya seperti putri kandungnya. Apa lagi sekarang keadaan Ranika begitu menyedihkan sebagai wanita.


"Maaf Bu, aku ga mau di madu. Kalau ibu tetap mau menikahkan kak Bintang, aku akan mundur" ucap Bee sungguh-sungguh.


"Ya udah. Minta cerai aja. Kamu itu harus nya tahu diri. Syukur kamu diambil keluarga Danendra jadi mantu. Harusnya kamu nurut apa kata mertuamu" hardik Ranika.


"Sorry, aku bukan istri seperti yang ada di sinetron ikan terbang, yang ngalah suami nya diambil pelakor"


"Sudah..sudah..kok kalian jadi berdebat!" ucap Ibu menatap kedua wanita itu bergantian sembari memijit keningnya yang terasa pusing.


"Ibu sudah menjadi mediator Ran, seperti janji mu tadi, jika Bee tidak setuju kamu tidak boleh memaksa. Ibu juga tidak bisa memaksa, karena yang lebih berhak pada diri Bintang adalah Bee, istrinya" ucap Ibu menyandarkan punggungnya.


Tenaga ibu semakin terkuras. Belum masalah Piter dan Kinan selesai, di tambah lagi masalah ini. "Bu, ibu baik-baik aja?" ucap Bee memijit pundak ibu.


"Yan, tolong ambilkan ibu air hangat ya" ucap Bee pada Yanti yang kebetulan lewat. Tidak lama asisten pribadi ibu datang membawa segelas air hangat, memberi kan nya pada Bee agar diberikan pada ibu.


"Kita ke kamar ya Bu" ucap Bee memapah ibu di bantu Yanti.


"Hei, terus nasib aku gimana dong?" tukas Ranika kesal. Lebih kesal lagi karena tidak ada yang menggubris.


Bintang tak hentinya memandangi istrinya. Ada yang lain pada sikap Bee malam ini. Wanita itu lebih banyak diam, mengaduk-aduk makanannya tanpa niat untuk memakannya.


"Yang..ada apa?" Bintang menggenggam tangan kiri Bee yang tergeletak di meja.


"Hah? oh..ga papa kak" Bintang bisa menyadari senyum Bee yang terpaksa.


Habis makan malam, Bintang harus menyelesaikan sisa kerjaannya di ruang kerja. Dan setelah semuanya selesai, bergegas Bintang mendatangi istri nya.


Wanita itu di sana, berbaring di tempat tidur dengan posisi memiring, menatap layar ponselnya. Rambut panjangnya yang indah, tergerai di atas bantal putih.


Perlahan Bintang naik ke tempat tidur, mengecup leher dan tengkuk Bee dari belakang. "Lagi lihat apa?" tanya Bintang basa-basi memandang sekilas layar ponsel Bee. Gadis itu tengah membuka insta-story seorang artis yang tengah lagi naik daun.


"Ini, baru lahiran, anak nya cantik deh" ucap Bee menunjukkan ponselnya ke arah Bintang tanpa membalikkan tubuhnya yang masih memunggungi Bintang.


"Kita juga bisa punya anak secantik itu, bahkan pasti lebih cantik. Kita buat sekarang yok" goda Bintang mencercap kembali kulit leher Bee lembut.


"Jangan malam ini ya kak. Lagi ga mood"


Bintang membalik tubuh Bee agar menghadap ke arah nya. Kini keduanya saling pandang.


"Ada apa sayang, aku tahu ada yang mengganjal dalam hati mu"


Bee tidak ingin menjawab, mengalihkan wajahnya, tapi tangan Bintang langsung menahan satu sisi wajah Bee hingga tidak bisa berpaling.


"Tadi ibu minta aku datang. Di sana juga ada Ranika. Ibu minta aku..aku mengizinkan mu menikahi Ranika"


Bintang terduduk, menatap istrinya tajam. Rasa kesal dan emosinya muncul. Kesabarannya menghadapi kegilaan wanita itu sudah habis. "Mau dia apa sih? aku udah bilang dengan tegas kalau aku ga akan menikahinya" umpat nya kesal. Kepalan tangannya begitu kuat hingga membuat buku tangannya memutih.


Bibir Bee manyun, dia juga ikut kesal tapi mau bilang apa? "Kamu bilang apa ke ibu? pokoknya aku ga mau nikahi dia. Seratus kali kamu yang minta" sambung Bintang tegas


"Ye..siapa juga yang ngizinin. Ogah ya berbagi suami. Kalau kakak mau nikah dengan wanita lain, cus ceraikan aku dulu" ucap Bee kesal.


"Bagus, istri pintar. Kirain kamu bakal kayak mantu soleha yang ngikut aja apa kata mertua" Bintang sudah mulai bisa tersenyum.


"Ibu maksa kamu sayang? apa ibu menekan kamu?"


"Ga kak. Ibu cuma terpaksa aja ngomong gitu karena Ranika maksa ibu sampai nangis nyembah-nyembah kaki ibu"


Bintang bersyukur, ibu nya masih waras di tengah kegilaan yang kadang muncul sejak masalah anak keduanya.


"Tapi apa benar, kecelakaan itu yang buat Ranika sampai ga bisa punya anak lagi?" kalimat Bee tanpa sadar membuka pikiran Bintang. Satu hal yang selama ini tidak dia sadari.


Bergegas dia bangkit, menuju nakas dan mengambil ponselnya. "Ko, pesan tiket ke Prancis, lo harus berangkat besok ke sana!"